(Kajian QS. al-Ikhlash dan QS. an-Naas dalam Mata Kuliah AIK1: Kemanusiaan dan Keimanan di Universitas Muhammadiyah Cirebon)
Abstrak
Tauhid merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam yang menjadi esensi dari seluruh aktivitas keimanan dan keberagamaan seorang muslim. Artikel ini membahas urgensi tauhid dalam kehidupan muslim dengan fokus kajian pada QS. al-Ikhlash dan QS. an-Naas sebagai bagian dari materi mata kuliah AIK1 (Kemanusiaan dan Keimanan) di Universitas Muhammadiyah Cirebon. Pembahasan meliputi pengertian tauhid secara bahasa dan istilah, makna kalimat lā ilāha illallāh beserta konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari, serta analisis terhadap kandungan tauhid dalam dua surah tersebut. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tauhid tidak hanya berdimensi teologis tetapi juga sosial-antropologis yang membentuk pola interaksi manusia dengan Tuhannya, sesama manusia, dan alam semesta. Implementasi tauhid dalam kehidupan muslim melahirkan kesadaran akan keesaan Allah yang berimplikasi pada pembentukan karakter, moralitas, dan peradaban.
Kata Kunci: Tauhid, Urgensi, QS. al-Ikhlash, QS. an-Naas, Kalimat Lā Ilāha Illallāh, AIK1
Pendahuluan
Pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Universitas Muhammadiyah Cirebon dirancang untuk membangun fondasi keislaman yang kokoh bagi mahasiswa. Mata kuliah AIK1 dengan tema Kemanusiaan dan Keimanan menjadi pintu masuk bagi pemahaman tentang hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan serta hubungan horizontal antarmanusia. Di antara materi fundamental dalam AIK1 adalah tauhid, yang menempati posisi sentral dalam seluruh rangkaian ajaran Islam.
Kata “tauhid” dalam bahasa Arab merupakan bentuk masdar dari kata kerja wahhada-yuwahhidu-tauhidan, yang secara harfiah berarti menyatukan, mengesakan, atau mengakui bahwa sesuatu itu satu. Secara istilah syar’i, tauhid bermakna menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususan-Nya. Pentingnya tauhid dalam kehidupan manusia ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Wa mā khalaqtul-jinna wal-insa illā liya‘budūn
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku” (QS. adz-Dzāriyāt [51]: 56).
Ibnu Abbas, sahabat Nabi yang dikenal sebagai turjumān al-Qur’ān (juru tafsir Al-Qur’an), menafsirkan kata liya‘budūn dalam ayat ini sebagai liyuwahhidūn, yakni agar mereka mentauhidkan-Ku. Dengan demikian, tujuan penciptaan manusia adalah untuk merealisasikan tauhid dalam seluruh aspek kehidupannya.
Artikel ini akan menguraikan secara komprehensif tentang tauhid dan urgensinya bagi kehidupan muslim dengan bertumpu pada kajian QS. al-Ikhlash dan QS. an-Naas, serta menganalisis makna dan konsekuensi kalimat lā ilāha illallāh.
Pembahasan
A. Pengertian Tauhid
1. Definisi Bahasa dan Istilah
Secara etimologis, tauhid berasal dari akar kata wahhada (وَحَّدَ) yang berarti menjadikan sesuatu satu saja. Makna ini tidak tepat kecuali diikuti dengan penafian, yaitu menafikan segala sesuatu selain yang dijadikan satu, kemudian baru menetapkannya.
Adapun secara terminologis, para ulama mendefinisikan tauhid sebagai mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan bagi-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun baik dalam rubūbiyyah-Nya, ulūhiyyah-Nya, maupun asmā’ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya.
2. Tiga Macam Tauhid
Berdasarkan kajian terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits, para ulama al-muwahhidūn (ahli tauhid) membagi tauhid menjadi tiga macam:
Pertama, Tauhid Rubūbiyyah (Mengesakan Allah dalam perbuatan-Nya) yaitu keyakinan yang mantap bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan mengatur semua urusan seluruh makhluk. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam semua itu. Allah berfirman:
أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
Alā lahal-khalqu wal-amr, tabārakallāhu rabbul-‘ālamīn
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb seluruh alam” (QS. al-A‘rāf [7]: 54).
Kedua, Tauhid Ulūhiyyah (mengesakan Allah dalam peribadatan hamba kepada-Nya) yaitu mengesakan peribadatan hanya kepada Allah saja, baik dalam hal cinta, takut, harap, ikhlas, salat, haji, dan seluruh bentuk ibadah lainnya. Ini merupakan inti dari dakwah para rasul sebagaimana firman Allah:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Wa laqad ba‘athnā fī kulli ummatin rasūlan ani‘budullāha wajtanibuth-thāghūt
“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah thaghut’” (QS. an-Nahl [16]: 36).
Ketiga, Tauhid Asmā’ wa Sifāt (mengesakan Allah dalam nama-nama dan sifat-sifat-Nya) yaitu keimanan yang mantap terhadap nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya yang ditetapkan dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah, tanpa tahrīf (mengubah lafaz atau maknanya), ta‘thīl (meniadakannya), takyīf (menggambarkan bagaimana bentuknya), maupun tamtsīl (menyerupakannya dengan makhluk).
B. Makna Kalimat Lā Ilāha Illallāh dan Konsekuensinya dalam Kehidupan
1. Makna Lā Ilāha Illallāh
Kalimat lā ilāha illallāh (لا إله إلا الله) merupakan kalimat tauhid yang menjadi inti dari seluruh ajaran Islam. Rasulullah bersabda:
“إيمانُ بضعٌ وسبعونَ – أو بضعٌ وستونَ – شُعبةً، فأفضَلُها قولُ: لا إله إلا اللهُ، وأدناها إماطةُ الأذى عن الطريقِ، والحياءُ شُعبةٌ من الإيمانِ”
Īmānu bid‘un wa sab‘ūna – au bid‘un wa sittūna – syu‘bah, fa afdaluhā qaul: lā ilāha illallāh, wa adnāhā imāṭatul-adzā ‘anith-tharīq, wal-ḥayā’u syu‘batun minal-īmān
“Iman itu lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang iman yang paling tinggi adalah ucapan lā ilāha illallāh, dan cabang iman yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman” (HR. Bukhari-Muslim).
Kalimat ini tersusun dari dua rukun utama:
- An-Nafyu (Penafian): Lā ilāha (لا إله) – Menolak dan meniadakan segala sesuatu yang disembah selain Allah.
- Al-Itsbāt (Penetapan): Illallāh (إلا الله) – Menetapkan bahwa hanya Allah semata yang berhak disembah.
Makna mendalam dari kalimat ini adalah bahwa tidak ada zat yang berhak mendapatkan peribadatan secara benar kecuali Allah. Seluruh bentuk penghambaan, kepatuhan, kecintaan, dan ketundukan tertinggi hanya layak ditujukan kepada-Nya.
2. Konsekuensi Lā Ilāha Illallāh dalam Kehidupan
Ucapan lā ilāha illallāh bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan oleh lisan, tetapi membawa konsekuensi besar yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Pertama, Konsekuensi Teologis: Seorang yang mengucapkan kalimat tauhid harus meyakini dengan sepenuh hati bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Keyakinan ini menuntutnya untuk meninggalkan segala bentuk kesyirikan, baik yang kecil maupun besar. Allah menegaskan:
Innallāha lā yaghfiru an yusyraka bihī wa yaghfiru mā dūna dhālika liman yasyā’
إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah), dan Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. an-Nisā’ [4]: 48).
Kedua, Konsekuensi Sosial: Kalimat ini membawa kesetaraan di antara seluruh umat manusia. Dengan menyatakan bahwa selain Allah adalah makhluk, maka tidak ada seorang pun yang lebih unggul dari yang lain berdasarkan nasab atau keturunan. Kemuliaan seseorang ditentukan oleh ketakwaannya, bukan oleh garis keturunannya. Allah berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Inna akramakum ‘indallāhi atqākum
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa” (QS. al-Hujurāt [49]: 13).
Ketiga, Konsekuensi Moral: Tauhid melahirkan kesadaran bahwa seluruh gerak-gerik manusia diawasi oleh Allah. Kesadaran ini mendorong pemeluknya untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhi kemungkaran. Tauhid menjadi fondasi bagi terbentuknya akhlak mulia karena seorang muslim menyadari bahwa setiap perbuatannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Keempat, Konsekuensi Kultural-Peradaban: Sejarah membuktikan bahwa kalimat lā ilāha illallāh mampu mengubah peradaban. Masyarakat Arab jahiliah yang terbelakang dalam waktu 23 tahun berubah menjadi peradaban maju yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Kalimat ini menghapus sistem nasabiyyah (kebangsawanan berdasarkan keturunan) menjadi sistem kasabiyyah (prestasi dan kerja keras).
C. Analisis QS. al-Ikhlash: Tauhid dalam Bentuknya yang Paling Murni
Surah al-Ikhlash (الإخلاص) yang berarti “memurnikan keesaan Allah” merupakan surah ke-112 dalam Al-Qur’an. Surah ini dinamakan al-Ikhlash karena dua hal: pertama, Allah menjadikan surah ini murni untuk diri-Nya tanpa pembahasan selain tentang Allah dan sifat-sifat-Nya; kedua, seseorang yang membaca surah ini akan memurnikan akidahnya dari kesyirikan jika membacanya dengan keyakinan.
Teks, Latin, dan Terjemahan QS. al-Ikhlash
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١)
Qul huwallāhu aḥad
“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa.’”
اللَّهُ الصَّمَدُ (٢)
Allāhuṣ-ṣamad
“Allah adalah as-Ṣamad (Tempat bergantung segala sesuatu).”
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣)
Lam yalid wa lam yūlad
“Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (٤)
Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad
“Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.”
Kandungan Tauhid dalam QS. al-Ikhlash
Surah al-Ikhlash mencakup ketiga dimensi tauhid secara komprehensif:
Ayat pertama (Qul huwallāhu aḥad) mengandung tauhid ulūhiyyah, yaitu penetapan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Kata aḥad menunjukkan keesaan Allah yang mutlak, tidak ada yang menyamai-Nya dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya.
Ayat kedua (Allāhuṣ-ṣamad) mengandung tauhid rubūbiyyah dan tauhid asmā’ wa ṣifāt. Aṣ-Ṣamad berarti Tuhan yang menjadi tujuan segala sesuatu, tempat bergantung semua makhluk dalam setiap kebutuhan mereka. Ini menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah dan kebergantungan seluruh ciptaan kepada-Nya.
Ayat ketiga (Lam yalid wa lam yūlad) merupakan bantahan terhadap berbagai keyakinan menyimpang. Ayat ini membantah kaum Nasrani yang mengatakan Isa al-Masih adalah anak Allah, kaum Yahudi yang mengatakan Uzair adalah anak Allah, dan kaum musyrikin yang mengatakan malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.
Ayat keempat (Wa lam yakul lahū kufuwan aḥad) menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang setara dengan Allah, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Ini sekaligus membantah anggapan bahwa Allah memiliki sekutu atau tandingan.
Surah al-Ikhlash mengajarkan kepada umat Islam tentang kemurnian tauhid. Ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada makhluk seperti malaikat, nabi, wali, atau benda-benda lainnya.
D. Analisis QS. an-Naas: Realisasi Tauhid dalam Perlindungan Ilahi
Surah an-Naas (الناس) yang berarti “manusia” merupakan surah ke-114 sekaligus surah terakhir dalam Al-Qur’an. Surah ini bersama surah al-Falaq dikenal sebagai al-mu‘awwidzatān (dua surah yang memohon perlindungan).
Teks, Latin, dan Terjemahan QS. an-Naas
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (١)
Qul a‘ūdzu birabbin-nās
“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia.’”
مَلِكِ النَّاسِ (٢)
Malikin-nās
“Raja manusia.”
إِلَٰهِ النَّاسِ (٣)
Ilāhin-nās
“Sembahan manusia.”
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (٤)
Min syarril-waswāsil-khannās
“Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi.”
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥)
Alladzī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.”
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (٦)
Minal-jinnati wan-nās
“Dari (golongan) jin dan manusia.”
Kandungan Tauhid dalam QS. an-Naas
Surah an-Naas mengandung tiga sifat Allah yang merupakan manifestasi dari tauhid:
Pertama, Rabb an-Nās (Tuhan manusia) – Ini menunjukkan tauhid rubūbiyyah, yaitu pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang menguasai, memelihara, dan mengatur seluruh alam termasuk manusia.
Kedua, Malik an-Nās (Raja manusia) – Ini menegaskan bahwa Allah adalah pemilik mutlak segala sesuatu. Seluruh kerajaan langit dan bumi berada di tangan-Nya. Tidak ada kekuasaan yang sejati selain kekuasaan Allah.
Ketiga, Ilāh an-Nās (Sembahan manusia) – Ini adalah tauhid ulūhiyyah, yaitu pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Seluruh bentuk ibadah dan penghambaan harus ditujukan semata kepada-Nya.
Surah ini mengajarkan bahwa realisasi tauhid dalam kehidupan adalah dengan memohon perlindungan hanya kepada Allah. Ketika seseorang menghadapi berbagai macam gangguan, terutama bisikan setan yang bersembunyi di dalam dada (waswās al-khannās), maka ia harus kembali kepada Allah sebagai satu-satunya tempat berlindung. Ini menunjukkan bahwa tauhid bukan sekadar konsep teoretis tetapi solusi praktis bagi problem spiritual manusia.
E. Urgensi Tauhid bagi Kehidupan Muslim
1. Tauhid sebagai Hakikat Penciptaan Manusia
Tauhid menempati posisi sentral sebagai hakikat dari tujuan penciptaan manusia. Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan tegas menyatakan bahwa penciptaan jin dan manusia tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah dalam pengertian yang paling esensial adalah tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam seluruh dimensi kehidupan. Tanpa tauhid, kehidupan keagamaan seseorang kehilangan arah dan makna; ibadah menjadi rutinitas kosong, dan akhlak tercerabut dari akar spiritualnya.
2. Tauhid sebagai Inti Dakwah Para Rasul
Sepanjang sejarah umat manusia, Allah mengutus para rasul dari Nabi Nuh hingga Nabi Muhammad. Mereka semua membawa misi yang sama: menegakkan tauhid. Allah berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ
Wa laqad ba‘athnā Nūḥan ilā qaumihī fa qāla yā qaumi‘budullāha mā lakum min ilāhin ghairuh
“Sungguh, Kami benar-benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (sesembahan) bagimu selain Dia’” (QS. al-A‘rāf [7]: 59).
Fakta ini menunjukkan bahwa tauhid adalah inti dari risalah kenabian dan pondasi utama bagi keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
3. Tauhid sebagai Penentu Amal Ibadah
Tauhid menjadi syarat diterimanya seluruh amal ibadah. Allah mengabarkan bahwa siapa pun yang mengerjakan kebajikan atas dasar keimanan yang tulus, Allah akan memberikan kehidupan yang baik di dunia dan balasan terbaik di akhirat:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
Man ‘amila ṣāliḥan min dzakarin au untsā wa huwa mu’minun fa lanuḥyiyannahu ḥayātan ṭayyibah
“Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sungguh akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. an-Nahl [16]: 97).
Sebaliknya, amal ibadah yang disertai dengan kesyirikan tidak akan diterima, dan pelakunya terancam mendapatkan azab yang pedih.
4. Tauhid sebagai Fondasi Moral dan Peradaban
Tauhid melahirkan kesadaran bahwa seluruh aktivitas manusia berada dalam pengawasan Allah. Kesadaran ini menumbuhkan kejujuran, amanah, keadilan, dan berbagai nilai moral luhur lainnya. Sejarah membuktikan bahwa masyarakat Arab jahiliah yang terbelakang berubah menjadi peradaban maju setelah menerima dan mengimplementasikan tauhid dalam kehidupan mereka.
Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:
- Tauhid secara bahasa berarti mengesakan, sedangkan secara istilah berarti mengesakan Allah dalam rubūbiyyah, ulūhiyyah, serta asmā’ wa ṣifāt-Nya.
- Kalimat lā ilāha illallāh memiliki makna penafian terhadap segala sesembahan selain Allah dan penetapan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Konsekuensinya meliputi aspek teologis (anti-syirik), sosial (kesetaraan manusia), moral (kesadaran akan pengawasan Allah), dan kultural-peradaban (transformasi masyarakat).
- QS. al-Ikhlash mengandung ketiga dimensi tauhid secara komprehensif dan menjadi surah yang memurnikan akidah dari kesyirikan.
- QS. an-Naas mengajarkan realisasi tauhid dalam bentuk memohon perlindungan hanya kepada Allah sebagai Rabb, Malik, dan Ilāh manusia.
- Tauhid memiliki urgensi yang sangat tinggi karena merupakan hakikat penciptaan manusia, inti dakwah para rasul, syarat diterimanya amal, serta fondasi moral dan peradaban.
Saran
Bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon, pemahaman yang mendalam tentang tauhid melalui mata kuliah AIK1 diharapkan dapat menjadi landasan dalam mengimplementasikan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai individu, anggota masyarakat, maupun calon pemimpin bangsa di masa depan.
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim.
Hudha, S. A. (2019). The Interaction Patterns of Allah Protection Towards Mankind from Syaitan’s Interference (Literacy Studies of QS. An-Naas). Jurnal Ilmiah Pesantren, 5(1).
Fadloli, Z. M. (2020). Pemahaman Tauhidullah. Muhammadiyah. https://arsip.muhammadiyah.or.id/id/artikel-pemahaman-tauhidullah–detail-1344.html
Wahyudi, S. (2023). Urgensi Tauhid dalam Kehidupan Manusia. Suara Muhammadiyah. https://web.suaramuhammadiyah.id/2023/07/18/urgensi-tauhid-dalam-kehidupan-manusia/
Alifandi, M. G. (2023). Konsep Tauhid dalam QS. al-Ikhlāṣ: Perspektif Syaikh Shālih al-‘Utsaimīn dalam Tafsir al-Qur’ān al-Karīm [Skripsi, UIN Mataram].
Al-‘Utsaimin, M. b. S. (2022). Fatwa Ulama: Fawaid Seputar Surat Al Ikhlash. Muslim.or.id. https://muslim.or.id/73261-fatwa-ulama-fawaid-seputar-surat-al-ikhlash.html
Kholis, N. (2023). Mengulas Makna ‘La ilaha illallah’. Suara Muhammadiyah. https://web.suaramuhammadiyah.id/2023/04/01/mengulas-makna-la-ilaha-illallah/
Tim DPPAI UII. (2019). Cara Mudah Memahami Tauhid. Universitas Islam Indonesia. https://dppai.uii.ac.id/cara-mudah-memahami-tauhid/
Tim Redaksi. (2026). Kedudukan Tauhid dalam Kehidupan Manusia. Majalah Suara ‘Aisyiyah. https://suaraaisyiyah.id/kedudukan-tauhid-dalam-kehidupan-manusia/


Tinggalkan Balasan