Oleh: Drs. Iskandar, M.Pd. (Dewan Pendidikan Kota Cirebon)
Ada pemandangan yang semakin lumrah kita jumpai. Anak-anak berjalan menuju sekolah dengan seragam rapi, tas di punggung, dan sebuah benda kecil yang hampir selalu menyertai mereka: handphone (HP). Di rumah ada HP. Di perjalanan ada HP. Di sekolah ada HP. Bahkan ketika berkumpul bersama keluarga atau teman, HP sering tetap berada di tangan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah anak-anak kita mengenal teknologi, karena hampir pasti mereka mengenalnya. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah anak-anak kita yang mengendalikan HP, atau justru HP yang mulai mengendalikan mereka? Pertanyaan ini patut kita renungkan bersama, termasuk oleh para orang tua, guru, kepala sekolah, pemerintah daerah, dan seluruh masyarakat pendidikan di Cirebon dan sekitarnya.
HP: Penemuan yang Mengubah Kehidupan
Tidak berlebihan jika HP disebut sebagai salah satu teknologi paling dahsyat dalam kehidupan manusia modern. Satu benda kecil dapat menggantikan banyak perangkat yang dahulu terpisah: telepon, kamera, kalkulator, kalender, radio, televisi, peta, alat perekam, mesin pencari informasi, buku digital, hingga berbagai layanan keuangan.
Dengan HP, dunia berada dalam genggaman. Informasi yang dahulu membutuhkan waktu berhari-hari untuk diperoleh kini dapat ditemukan dalam hitungan detik. Untuk pendidikan, tentu ini merupakan peluang yang luar biasa. Siswa dapat mengakses buku, mencari referensi, mempelajari video pembelajaran, menggunakan kamus digital, melakukan penelitian sederhana, berkomunikasi dengan guru, bahkan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu memahami materi.
Karena itu, kita tidak boleh menjadi masyarakat yang anti-teknologi. Namun, kita juga tidak boleh terlalu terlena oleh kecanggihan teknologi, sebab setiap kemajuan selalu membawa konsekuensi.
Ketika Teknologi Membantu Belajar, tetapi Sekaligus Mengganggu Belajar
Di sinilah persoalan penggunaan HP di sekolah menjadi penting. Pemerintah melalui Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 18 Tahun 2026 tentang Pembatasan Penggunaan Gawai di Satuan Pendidikan menempatkan pembatasan gawai dalam kerangka menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, aman, nyaman, berkarakter, serta meminimalkan distraksi.
Kebijakan ini semestinya tidak dipahami sebagai bentuk kemunduran pendidikan. Justru sebaliknya, pembatasan penggunaan gawai merupakan bentuk perlindungan terhadap proses pendidikan. Sekolah memiliki tugas bukan hanya membuat anak mengetahui sesuatu, tetapi juga membantu mereka membangun konsentrasi, disiplin, tanggung jawab, kemampuan bersosialisasi, adab, dan karakter.
Ketika guru sedang menjelaskan pelajaran, sebuah notifikasi di HP dapat mengalihkan perhatian siswa. Dari satu pesan bisa berlanjut ke media sosial, dari media sosial berlanjut ke video, dari video berlanjut ke tautan lain. Akhirnya, tubuh siswa masih berada di dalam kelas, tetapi pikirannya sudah berada di tempat lain. Hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara mental. Inilah distraksi yang harus kita cegah.
Pendidikan Membutuhkan Kemampuan untuk Fokus
Ada sesuatu yang semakin mahal di era digital: kemampuan untuk fokus. Anak-anak sekarang hidup dalam lingkungan yang dipenuhi notifikasi, video pendek, permainan, informasi, gambar, suara, dan berbagai rangsangan yang datang tanpa henti.
Sementara itu, belajar membutuhkan kesabaran. Membaca membutuhkan ketekunan. Berpikir membutuhkan waktu. Memahami sesuatu yang sulit membutuhkan konsentrasi. Tidak semua proses belajar memberikan kesenangan secara cepat. Karena itu, sekolah harus menjadi tempat anak belajar kembali untuk fokus, sabar, tekun, dan mampu menunda kesenangan sesaat demi tujuan yang lebih besar.
Jika setiap rasa bosan langsung dilawan dengan membuka HP, bagaimana anak akan belajar bertahan menghadapi proses belajar yang membutuhkan ketekunan? Ini bukan sekadar persoalan teknologi, melainkan persoalan pembentukan karakter.
Jangan Sampai Anak Menjadi Konsumen Teknologi
Kita perlu membedakan antara menggunakan teknologi dan dikendalikan teknologi. Anak yang menggunakan teknologi bertanya, “Apa yang dapat saya lakukan dengan teknologi ini?” Sebaliknya, anak yang mulai dikendalikan teknologi akan terus mencari, “Apa lagi yang dapat saya lihat?”
Perbedaan ini sangat penting. Teknologi digital, khususnya berbagai platform yang berbasis algoritma, sangat kuat dalam mempertahankan perhatian penggunanya. Karena itu, anak perlu memiliki kemampuan untuk mengatakan: cukup.
Tidak semua pesan harus segera dibuka. Tidak semua video harus ditonton. Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua informasi harus dipercaya. Tidak semua aplikasi harus digunakan. Kemampuan untuk mengendalikan diri merupakan bagian dari pendidikan karakter yang tidak kalah penting dengan kemampuan akademik.
Jangan Sampai HP Menggantikan Guru
Ada anggapan bahwa karena semua informasi dapat diperoleh melalui internet dan AI, guru pada akhirnya tidak lagi terlalu diperlukan. Pandangan ini harus diluruskan. Informasi bukan pendidikan. Google dapat menemukan informasi. YouTube dapat menyediakan video. AI dapat memberikan jawaban. Tetapi pendidikan tidak sekadar memberikan jawaban.
Pendidikan membutuhkan keteladanan, pembiasaan, pendampingan, dialog, empati, disiplin, adab, integritas, dan hubungan manusia dengan manusia. Guru tidak hanya mengajar, tetapi mendidik manusia. Karena itu, teknologi harus menjadi alat bantu bagi guru, bukan pengganti guru.
HP boleh digunakan untuk pembelajaran jika memang diperlukan. Tetapi penggunaan tersebut harus mempunyai tujuan yang jelas: apa yang dipelajari, bagaimana digunakan, berapa lama digunakan, dan bagaimana guru memastikan bahwa HP benar-benar membantu proses belajar.
Jangan Menjadikan HP sebagai Pengasuh Anak
Persoalan HP juga tidak dapat dilepaskan dari keluarga. Kadang-kadang tanpa sadar orang tua menjadikan HP sebagai “pengasuh digital”. Anak rewel diberi HP. Anak bosan diberi HP. Anak makan sambil diberi HP. Anak bepergian diberi HP. Anak ingin diam diberi HP.
Memang, anak mungkin menjadi tenang. Tetapi anak yang diam belum tentu sedang belajar. Anak yang tenang belum tentu sedang berkembang. Anak tetap membutuhkan percakapan dengan orang tua, permainan, aktivitas fisik, membaca, bersosialisasi, dan keteladanan. Jangan sampai teknologi mengambil alih ruang yang seharusnya diisi oleh kasih sayang dan interaksi manusia.
Sekolah Tidak Bisa Bekerja Sendiri
Kebijakan pembatasan gawai di sekolah tidak akan efektif jika keluarga tidak ikut mengambil bagian. Sekolah mungkin membatasi penggunaan HP selama beberapa jam. Tetapi setelah pulang sekolah, anak kembali ke rumah. Jika di rumah penggunaan HP dibiarkan tanpa batas, pendidikan pengendalian diri menjadi sulit dibangun. Karena itu, diperlukan kesepakatan antara sekolah dan orang tua.
Orang tua perlu mengatur waktu penggunaan gawai, memperhatikan konten yang dikonsumsi anak, membatasi penggunaan menjelang tidur, menyediakan waktu tanpa gawai ketika keluarga berkumpul, dan membangun komunikasi langsung dengan anak.
Yang paling penting adalah keteladanan. Sulit meminta anak meletakkan HP ketika berbicara dengan orang tua jika orang tua sendiri terus memegang HP ketika anak sedang berbicara. Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi terutama dari contoh.
Jangan Sampai Pembatasan Berubah Menjadi Sekadar Razia
Implementasi pembatasan gawai di sekolah juga harus dilakukan secara bijaksana. Jangan sampai seluruh kebijakan berhenti pada razia, penyitaan HP, hukuman, dan daftar pelanggaran. Kalau hanya itu yang dilakukan, sekolah mungkin berhasil mengurangi penggunaan HP yang terlihat, tetapi belum tentu berhasil membangun kemampuan siswa mengendalikan dirinya.
Tujuan akhirnya bukan membuat anak takut menggunakan HP, melainkan membuat anak mampu menggunakan HP secara bertanggung jawab. Karena itu, aturan sekolah perlu jelas dan realistis: kapan HP boleh digunakan, kapan harus disimpan, di mana disimpan, bagaimana jika digunakan untuk pembelajaran, bagaimana jika terjadi keadaan darurat, bagaimana orang tua dapat berkomunikasi dengan anak, dan bagaimana menangani pelanggaran. Semua itu perlu diatur dengan pendekatan yang tegas, konsisten, edukatif, proporsional, dan manusiawi.
Guru Juga Harus Menjadi Teladan
Pembatasan gawai tidak boleh hanya berlaku kepada peserta didik. Guru dan tenaga kependidikan juga perlu memberikan contoh. Jika siswa dilarang menggunakan HP ketika pembelajaran berlangsung, guru pun harus menunjukkan kapan HP digunakan dan kapan HP diletakkan.
Dengan demikian, pembatasan gawai tidak sekadar menjadi aturan, tetapi menjadi budaya sekolah. Budaya yang mengajarkan bahwa ada waktunya menggunakan teknologi dan ada waktunya meletakkan teknologi. Ada waktunya melihat layar dan ada waktunya melihat wajah manusia di hadapan kita.
Tantangan Baru: AI
Persoalan ini semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan atau AI. Siswa kini dapat memperoleh jawaban atas berbagai pertanyaan dengan sangat cepat. AI dapat menjadi alat belajar yang sangat bermanfaat. Tetapi ada bahaya jika siswa menjadikan AI sebagai mesin untuk mengerjakan seluruh tugasnya.
Maka pertanyaan kita bukan sekadar, “Apakah siswa menggunakan AI?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Setelah menggunakan AI, apakah siswa menjadi semakin mampu berpikir?”
Jika AI membuat anak malas membaca, malas menulis, malas bertanya, dan malas berpikir, kita menghadapi persoalan baru. Tetapi jika AI digunakan untuk memperluas wawasan, membandingkan gagasan, mencari alternatif, menguji pemahaman, dan memperdalam pembelajaran, teknologi tersebut dapat menjadi alat pendidikan yang bermanfaat.
Dari Cirebon untuk Generasi Masa Depan
Cirebon memiliki kekayaan budaya, sejarah, tradisi, nilai kearifan lokal, dan karakter masyarakat yang sangat kuat. Di tengah arus digitalisasi, kita jangan sampai kehilangan identitas.
Anak-anak Cirebon harus mampu menguasai teknologi tanpa kehilangan akar budayanya. Mereka harus mampu menggunakan internet tanpa kehilangan sopan santun. Mereka harus mampu berkomunikasi di media sosial tanpa kehilangan etika. Mereka harus mampu menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir. Mereka harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Dengan kata lain: modern dalam teknologi, tetapi tetap kuat dalam karakter dan budaya. Inilah tantangan pendidikan kita.
HP Boleh Pintar, Manusia Harus Lebih Bijaksana
Pada akhirnya, kita tidak sedang menghadapi perang antara manusia dan teknologi. Kita sedang menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang mengendalikan siapa?
HP bukan musuh. Internet bukan musuh. Media sosial bukan musuh. AI bukan musuh. Yang harus kita cegah adalah ketergantungan, penyalahgunaan, distraksi, dan hilangnya kendali manusia terhadap teknologi.
Karena itu, pembatasan gawai di sekolah hendaknya menjadi pintu masuk menuju sesuatu yang lebih besar, yaitu pendidikan pengendalian diri di era digital.
Anak harus mampu berkata:
“Saya memiliki HP, tetapi saya tidak harus selalu menggunakannya.”
“Saya dapat mengakses internet, tetapi saya tidak harus membuka semua yang tersedia.”
“Saya dapat menggunakan media sosial, tetapi saya tidak harus hidup untuk mendapatkan perhatian media sosial.”
“Saya dapat menggunakan AI, tetapi saya tetap harus berpikir.”
Dan yang paling penting:
“Saya boleh menguasai teknologi, tetapi teknologi tidak boleh menguasai hidup saya.”
Sebab kemajuan teknologi tidak otomatis menghasilkan kemajuan manusia. HP boleh semakin pintar. Teknologi boleh semakin canggih. Tetapi manusia tidak boleh kehilangan akal, hati, adab, integritas, dan tanggung jawab.
Karena pada akhirnya: HP adalah alat. Guru adalah pendidik. Sekolah adalah lingkungan pembentukan karakter. Keluarga adalah fondasi. Dan manusia tetap menjadi tujuan utama pendidikan.
Jika prinsip itu kita pegang, maka pembatasan penggunaan gawai di sekolah bukanlah langkah mundur. Sebaliknya, ia merupakan langkah untuk memastikan bahwa teknologi tetap terkendali di tangan manusia, bukan manusia yang kehilangan kendali di tangan teknologi. (*)


Tinggalkan Balasan