CIREBON, 13 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menjadi pusat pencerahan spiritual pada pelaksanaan Salat Jumat terakhir di bulan Ramadhan 1447 H, Jumat (13/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz H. Dedi Ahyadi menyampaikan khutbah yang mengajak jamaah merenungkan hakikat kemenangan sejati serta memetik delapan pelajaran berharga untuk bekal sebelas bulan ke depan.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta jajaran pimpinan lainnya. Jamaah yang memadati masjid hingga halaman tampak khusyuk menyimak tausiyah yang menggugah kesadaran akan makna kemenangan hakiki di sisi Allah.

Kemenangan Sejati: Surga, Bukan Sekadar Kemenangan Dunia
Ustadz H. Dedi Ahyadi mengawali khutbah dengan mengingatkan bahwa puasa Ramadhan yang dilandasi iman dan keikhlasan akan mengantarkan pada kemenangan sejati, yaitu surga Allah. Kemenangan duniawi bersifat sementara dan menipu, sedangkan kemenangan ukhrawi bersifat abadi.
Beliau mengutip firman Allah dalam QS. Az-Zumar ayat 21 sebagai pengingat akan kekuasaan Allah dalam mengatur alam, yang menjadi pelajaran bagi orang berakal:
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَلَكَهُ يَنَابِيعَ فِي الْأَرْضِ ثُمَّ يُخْرِجُ بِهِ زَرْعًا مُّخْتَلِفًا أَلْوَانُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَجْعَلُهُ حُطَامًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu menjadi kering, lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar: 21)
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia bagaikan tanaman yang tumbuh, lalu mengering dan hancur. Demikian pula kenikmatan dunia akan sirna. Kemenangan hakiki adalah kemenangan di akhirat.
Beliau kemudian mengutip QS. Ali ‘Imran ayat 185:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Dan firman-Nya dalam QS. Al-Buruj ayat 11:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ
“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Buruj: 11)
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa yang enggan?” Beliau menjawab, “Barangsiapa taat kepadaku, ia masuk surga. Barangsiapa bermaksiat kepadaku, maka sungguh ia enggan.” (HR. Bukhari)
“Kemenangan sejati adalah kemenangan di surga. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, ia akan memenangkan kemenangan yang agung. Inilah yang harus kita kejar setelah sebulan penuh berpuasa,” tegas Ustadz Dedi.

Delapan Pelajaran dari Ramadhan untuk Sebelas Bulan ke Depan
Memasuki inti khutbah, Ustadz Dedi memaparkan delapan pelajaran berharga yang dapat dipetik dari madrasah Ramadhan untuk diimplementasikan selama sebelas bulan ke depan:
1. Takwa (التقوى)
Takwa adalah tujuan utama puasa. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
“Takwa harus terus kita jaga setelah Ramadhan. Istikamah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya adalah bukti bahwa Ramadhan telah membekas dalam jiwa,” jelasnya.
2. Ikhlas (الإخلاص)
Ikhlas adalah ruh setiap amal. Puasa melatih kita untuk beramal hanya karena Allah, bukan karena pujian manusia. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis qudsi:
قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Bukhari & Muslim)
3. Sabar (الصبر)
Puasa adalah separuh dari kesabaran. Menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu adalah latihan sabar yang luar biasa. Allah berfirman:
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberi pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
4. Mujahadah (المجاهدة)
Mujahadah berarti bersungguh-sungguh dalam beribadah dan melawan hawa nafsu. Ramadan mengajarkan kita untuk berjuang melawan kemalasan. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
5. Menjaga Lisan (حفظ اللسان)
Puasa melatih kita untuk menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dusta, dan gunjingan. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)
6. Mengendalikan Emosi (كظم الغيظ)
Puasa mengajarkan kita untuk menahan amarah. Ketika diganggu, seorang muslim yang berpuasa cukup berkata, “Saya sedang puasa.” Allah memuji orang yang dapat menahan amarah:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran: 134)
7. Menjaga Persatuan (حفظ الوحدة)
Ramadhan adalah bulan kebersamaan. Shalat tarawih berjamaah, buka puasa bersama, dan silaturahim mengajarkan pentingnya persatuan. Allah berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)
8. Menyambung Silaturahim (صلة الرحم)
Bulan Ramadhan menjadi momentum mempererat tali silaturahim. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (HR. Bukhari)
“Delapan pelajaran ini harus kita bawa pulang ke dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadhan berlalu. Jangan sampai kita seperti orang yang hanya semangat di bulan puasa, tetapi setelah itu kembali kepada kebiasaan buruk. Itulah orang yang merugi,” tegas Ustadz Dedi.

Penutup: Menjaga Semangat Ibadah Pasca Ramadhan
Menutup khutbah, Ustadz H. Dedi Ahyadi mengajak jamaah untuk menjaga semangat ibadah yang telah terbangun selama Ramadhan.
“Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai titik awal perubahan menuju pribadi yang lebih bertakwa, lebih ikhlas, lebih sabar, dan lebih peduli kepada sesama. Jangan biarkan semangat ibadah kita surut setelah Ramadhan pergi. Teruslah istiqamah, karena Allah mencintai amal yang sedikit tetapi konsisten,” pesannya.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran: 8)
Salat Jumat ditutup dengan doa bersama dan harapan agar seluruh jamaah dapat mengimplementasikan delapan pelajaran Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


Tinggalkan Balasan