Khutbah Jumat di Masjid UMMADA Kampus 1: Renungan Kemerdekaan dan Seruan untuk Terus Mendayung

·

Avatar Arofah Firdaus

|

4 menit

|

📋

Dibaca: 6 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Salat Jumat di Masjid UMMADA Kampus 1, Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) Cirebon, pada Jumat (14/8). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., menyampaikan khutbah dengan tema mendalam berjudul “Renungan Kemerdekaan”.

Ratusan jamaah yang terdiri dari civitas akademika dan masyarakat sekitar memenuhi masjid kampus, mendengarkan dengan saksama pesan-pesan yang menggugah kesadaran kebangsaan dan keimanan. Khutbah kali ini mengangkat kritik tajam Mohammad Natsir tentang sikap cepat berpuas diri setelah kemerdekaan, serta mengajak jamaah untuk terus “mendayung” dalam mengisi kemerdekaan.

Mengawali Khutbah dengan Seruan Takwa

Mengawali khutbahnya, Ustadz Somantri membacakan pujian kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan seruan takwa kepada seluruh jamaah. Beliau mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini adalah amanah besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran: 102)

Mengutip Peringatan Mohammad Natsir

Dalam khutbahnya, Ustadz Somantri mengutip tulisan Mohammad Natsir, Pahlawan Nasional dan Pendiri Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, yang pada 17 Agustus 1951—hanya enam tahun setelah kemerdekaan—menulis artikel berjudul “Jangan Berhenti Tangan Mendayung, Nanti Arus Membawa Hanyut.”

Khatib membacakan penggalan tulisan Natsir yang menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia pasca-kemerdekaan:

“Dahulu, mereka girang gembira, sekalipun hartanya habis, rumahnya terbakar, dan anaknya tewas di medan pertempuran, kini mereka muram dan kecewa sekalipun telah hidup dalam satu negara yang merdeka, yang mereka inginkan dan cita-citakan sejak berpuluh dan beratus tahun yang lampau…”

Ustadz Somantri menjelaskan bahwa kritik Natsir menyoroti munculnya sikap egois, pamrih, dan kehilangan orientasi di tengah masyarakat. Banyak yang berpikir perjuangan sudah selesai setelah kemerdekaan diraih, lalu sibuk menikmati hasil tanpa semangat untuk terus membangun.

“Orang sudah mencari untuk dirinya sendiri, bukan mencari cita-cita yang di luar dirinya. Lampu cita-citanya sudah padam kehabisan minyak, programnya sudah tamat, tak tahu lagi apa yang akan dibuat!”

Seruan Natsir: Jangan Berhenti Mendayung

Khatib menyampaikan seruan Natsir agar bangsa Indonesia tidak berhenti “mendayung” di tengah arus tantangan zaman:

“Saudara baru berada di tengah arus, tetapi sudah berasa sampai di tepi pantai… Arus yang deras akan membawa saudara hanyut kembali, walaupun saudara menggerutu dan mencari kesalahan di luar saudara.”

Ustadz Somantri menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan belum selesai. Masih ada tugas besar mengisi kemerdekaan dengan karya nyata, keadilan, dan pembangunan.

“Untuk ini perlu saudara berdayung. Untuk ini saudara harus berani mencucurkan keringat. Untuk ini saudara harus berani menghadapi lapangan perjuangan yang terbentang di hadapan saudara, yang masih terbengkelai…”

Menjadi Hamba yang Merdeka

Ustadz Somantri mengajak jamaah untuk merenungkan makna kemerdekaan sejati. Beliau mengutip nasihat Imam Syafi’i:

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَكَ حُرًّا؛ فَكُنْ كَمَا خَلَقَكَ

Artinya: “Allah telah menciptakanmu sebagai orang merdeka, maka jadilah sebagaimana Dia telah menciptakanmu.” (Manaqib Asy-Syafi’i, 2/197)

Kemerdekaan yang dimaksud Imam Syafi’i, menurut Ustadz Somantri, bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kemerdekaan dari penjajahan hawa nafsu dan ketundukan kepada selain Allah. Hamba yang merdeka adalah hamba yang hanya menghadapkan wajahnya kepada Allah semata.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Artinya: “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Dan Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

Artinya: “Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)

Mengisi Kemerdekaan dengan Karya dan Tanggung Jawab

Mengakhiri khutbahnya, Ustadz Somantri mengajak jamaah untuk mengisi kemerdekaan dengan karya dan budaya, sehingga terwujud masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Beliau mengingatkan bahwa nikmat kemerdekaan adalah anugerah terindah yang menyandang tanggung jawab besar. Tugas mengisi kemerdekaan kini berada di pundak generasi saat ini.

“Mari menjadi hamba yang merdeka. Merdeka dari belenggu hawa nafsu, merdeka dari sifat bakhil dan serakah, serta merdeka untuk terus berkarya dan bermanfaat bagi sesama,” pungkas Ustadz Somantri.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ

Artinya: “Semoga Allah memberkahi aku dan kalian dalam Al-Qur’an yang agung, dan semoga Dia memberi manfaat kepada aku dan kalian dari ayat-ayat dan dzikir yang bijaksana yang terkandung di dalamnya.”

Salat Jumat yang dipimpin oleh Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd., berlangsung dengan khusyuk. Beliau bertindak sebagai imam sekaligus khatib dengan lancar, diikuti oleh para jamaah yang terdiri dari civitas akademika UMMADA dan masyarakat sekitar. Doa khusyuk yang dipanjatkan mengakhiri rangkaian ibadah, memohon keberkahan dan kemerdekaan yang hakiki bagi seluruh umat dan bangsa Indonesia.


Peliput : Tim Media Masjid UMMADA Kampus 1


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *