Makna Hijrah dan Tahun Baru Hijriah: Kajian Al-Qur’an, Hadits, serta Relevansinya bagi Peningkatan Kualitas Diri Umat Islam

Abstrak

Tahun Baru Hijriah merupakan penanda awal penanggalan Islam yang berbasis pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah. Penetapan kalender ini pertama kali dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu. Tahun Baru Hijriah tidak hanya bersifat seremonial, tetapi memiliki makna teologis dan spiritual yang mendalam, yakni ajakan untuk terus melakukan hijrah dalam arti meninggalkan segala bentuk kemaksiatan menuju ketaatan kepada Allah. Artikel ini membahas landasan syariat, keutamaan bulan Muḥarram, serta relevansi semangat hijrah dalam konteks peningkatan kualitas diri umat Islam. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan pendekatan tafsir dan hadits tematik. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa Tahun Baru Hijriah adalah momentum muhasabah, bukan perayaan yang diiringi ritual-ritual tertentu tanpa dalil. Umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh secara umum, terutama puasa sunnah di bulan Muḥarram.

Kata kunci: Tahun Baru Hijriah, hijrah, Muḥarram, muhasabah, kalender Islam.


Pendahuluan

Kalender Hijriah adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh umat Islam di seluruh dunia, terutama untuk menentukan waktu-waktu ibadah seperti puasa Ramadan, hari raya, dan pelaksanaan haji. Kalender ini didasarkan pada peredaran bulan (qamariah), sehingga jumlah harinya sekitar 354 atau 355 hari dalam setahun, lebih pendek 10–11 hari dibandingkan kalender Masehi. Tahun Baru Hijriah jatuh pada tanggal 1 Muḥarram, bulan pertama dari dua belas bulan dalam kalender Islam. Peristiwa hijrah Nabi Muḥammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dari Makkah ke Madinah menjadi tonggak awal tahun pertama Hijriah, menggantikan peristiwa-peristiwa besar sebelumnya seperti Tahun Gajah (‘Ām al-Fīl) yang digunakan sebagai patokan penanggalan oleh masyarakat Arab pra-Islam.

Penetapan tahun Hijriah sebagai awal penanggalan Islam terjadi pada masa Khalifah ‘Umar bin Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu, berdasarkan musyawarah dengan para sahabat. ‘Umar raḍiyallāhu ‘anhu memilih peristiwa hijrah sebagai titik awal karena hijrah merupakan peristiwa yang sangat monumental dalam sejarah dakwah Islam, sekaligus menjadi simbol pemisah antara periode lemahnya kekuatan umat Islam di Makkah dengan periode terbentuknya masyarakat madani di Madinah.


Makna Hijrah dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits

Hijrah secara bahasa berarti meninggalkan, berpindah, atau memutuskan hubungan. Secara istilah syariat, hijrah adalah berpindahnya seorang Muslim dari negeri kafir ke negeri Islam demi menjaga agamanya. Allah Ta‘ala berfirman dalam Al-Qur’an:

إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِهِمْ قَالُوا۟ فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ قَالُوٓا۟ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةًۭ فَتُهَاجِرُوا۟ فِيهَا ۚ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ مَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri (karena tidak berhijrah), mereka (para malaikat) bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri ini.’ Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di dalamnya?’ Maka tempat kembali mereka adalah neraka Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.’” (Q.S. An-Nisā’: 97)

Ayat ini menunjukkan kewajiban berhijrah dari tempat yang tidak memungkinkan seorang Muslim menjalankan agamanya dengan baik. Namun demikian, hijrah tidak terbatas pada makna fisik semata. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ٱلْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى ٱللَّٰهُ عَنْهُ

“Seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari, no. 10)

Hadits ini memperluas makna hijrah menjadi hijrah maknawiyah, yaitu meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, kebiasaan buruk, dan dosa. Dalam konteks Tahun Baru Hijriah, setiap Muslim diajak untuk melakukan hijrah dari perilaku negatif menuju perilaku positif, dari kelalaian menuju ketakwaan, dan dari kemunduran menuju perbaikan diri.


Bulan Muḥarram dan Keutamaannya

Muḥarram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah sekaligus termasuk salah satu dari empat bulan haram (asyhurul hurum) yang dimuliakan Allah. Keempat bulan tersebut adalah Żulqa‘dah, Żulḥijjah, Muḥarram, dan Rajab. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ ٱلشُّهُورِ عِندَ ٱللَّهِ ٱثْنَا عَشَرَ شَهْرًۭا فِى كِتَـٰبِ ٱللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌۭ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا۟ فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah pada hari Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam bulan-bulan itu.” (Q.S. At-Taubah: 36)

Keutamaan bulan Muḥarram juga ditegaskan dalam hadits Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam:

أَفْضَلُ ٱلصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ ٱللَّٰهِ ٱلْمُحَرَّمُ

“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muḥarram.” (HR. Muslim, no. 1163)

Meskipun demikian, para ulama menjelaskan bahwa keutamaan ini berlaku untuk seluruh bulan Muḥarram, bukan hanya pada tanggal 10 (‘Asyūrā’) saja. Namun secara khusus, puasa ‘Asyūrā’ (10 Muḥarram) memiliki keistimewaan tersendiri sebagai bentuk syukur atas diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihissalām dan Bani Israil dari kejaran Firaun. Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ، وَكَانَ يَوْمًا تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي ٱلْجَاهِلِيَّةِ، وَكَانَ رَسُولُ ٱللَّٰهِ صَلَّى ٱللَّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ، فَلَمَّا قَدِمَ ٱلْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، فَلَمَّا نَزَلَ رَمَضَانُ قَالَ: هَذَا يَوْمُ عَاشُورَاءَ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

“Ini adalah hari ‘Asyūrā’. Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari ini pada masa jahiliah, dan Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam pun biasa berpuasa padanya. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau tetap berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa. Tatkala diwajibkan puasa Ramadan, beliau bersabda: ‘Hari ini adalah ‘Asyūrā’, barangsiapa mau silakan berpuasa, barangsiapa tidak mau boleh meninggalkannya.’” (HR. Bukhari, no. 2003)

Para ulama menganjurkan puasa tanggal 9 dan 10 Muḥarram (Tāsū‘ā’ dan ‘Asyūrā’) atau 10 dan 11 Muḥarram untuk menyelisihi kebiasaan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 saja.


Tidak Ada Ibadah Khusus di Tahun Baru Hijriah

Perlu ditegaskan bahwa dalam syariat Islam tidak terdapat ibadah khusus yang diwajibkan atau disunnahkan secara khusus untuk menyambut malam 1 Muḥarram. Tidak ada salat khusus, doa khusus, atau ritual perayaan yang memiliki dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang sahih. Amalan-amalan seperti membaca doa awal tahun atau akhir tahun yang beredar di masyarakat sebagian besar tidak memiliki dasar yang kuat. Para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullāh dan para ulama kontemporer menegaskan bahwa merayakan tahun baru Hijriah dengan ritual-ritual tertentu adalah perkara yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.

Namun demikian, tidak ada larangan untuk menjadikan pergantian tahun sebagai momentum introspeksi diri (muhasabah) dan menyusun rencana kebaikan untuk tahun yang akan datang. Hal ini termasuk dalam makna umum dari anjuran untuk selalu memperbaiki diri. Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌۭ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۢ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Ḥasyr: 18)

Ayat ini menjadi landasan kuat bagi setiap Muslim untuk selalu melakukan evaluasi diri, termasuk di saat pergantian tahun Hijriah.


Kalender Hijriah dan Signifikansinya bagi Umat Islam

Sistem penanggalan Hijriah memiliki fungsi penting dalam kehidupan beribadah umat Islam. Penentuan awal Ramadan, 1 Syawal, 10 Żulḥijjah, serta waktu pelaksanaan ibadah haji dan puasa ‘Arafah semuanya bergantung pada kalender qamariah. Hal ini menunjukkan bahwa tahun Hijriah bukan sekadar simbol historis, melainkan memiliki implikasi praktis dalam pelaksanaan syariat. Oleh karena itu, pemahaman yang benar tentang kalender Hijriah dan tahun barunya sangat penting agar umat Islam tidak terjerumus ke dalam praktik-praktik yang tidak sesuai tuntunan Nabi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam.


Kesimpulan

Tahun Baru Hijriah adalah momentum penting untuk memperingati peristiwa hijrah sekaligus melakukan muhasabah diri. Bulan Muḥarram memiliki keutamaan sebagai bulan haram dan bulan yang paling utama untuk berpuasa sunnah setelah Ramadan. Namun, tidak ada ibadah khusus yang disyariatkan untuk menyambut tanggal 1 Muḥarram selain amalan-amalan sunnah umum seperti puasa, memperbanyak doa, dan bertobat dari dosa. Semangat hijrah yang sesungguhnya adalah meninggalkan segala larangan Allah menuju ketaatan. Dengan demikian, Tahun Baru Hijriah sebaiknya diisi dengan peningkatan kualitas iman dan amal saleh, bukan dengan perayaan yang tidak memiliki landasan syariat.


Daftar Pustaka

Al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā‘īl. (2021). Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Tahqiq: Muḥammad Zuhair bin Nāṣir an-Nāṣir. Dār Ṭauq an-Najāt. (Hadits no. 10, 2003).

Al-Qurṭubī, Muḥammad bin Aḥmad. (2022). Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān. Tahqiq: ‘Abdullāh bin ‘Abdul Muḥsin at-Turkī. Mu’assasah ar-Risālah.

An-Nawawī, Yaḥyā bin Syaraf. (2020). Al-Minhāj Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim. Dār Iḥyā’ at-Turāṡ al-‘Arabī. (Hadits no. 1163).

Asy-Syahrī, Khālid bin ‘Alī. (2023). Al-Hijrah fī al-Islām: Mabādi’uhā wa Aḥkāmuhā. Majallah al-Buḥūṡ al-Islāmiyyah, 45(2), 112–145.

Kementerian Agama RI. (2024). Kalender Hijriah Indonesia 1446-1447 H. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.

Al-Lajnah ad-Dā’imah lil Buḥūṡ al-‘Ilmiyyah wa al-Iftā’. (2021). Fatwā mengenai Tahun Baru Hijriah dan Amalan-Amalannya. Fatwa no. 21456. Riyadh: Dār al-Iftā’.


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

37 tanggapan untuk “Makna Hijrah dan Tahun Baru Hijriah: Kajian Al-Qur’an, Hadits, serta Relevansinya bagi Peningkatan Kualitas Diri Umat Islam”

  1. Avatar Rikeu Nirmala Dewi
    Rikeu Nirmala Dewi

    Materi tentang makna hijrah dan tahun baru Hijriah mengajarkan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat, tetapi juga perubahan sikap dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik sesuai ajaran Islam. Momentum tahun baru Hijriah seharusnya menjadi sarana introspeksi diri untuk memperbaiki akhlak, meningkatkan ibadah, serta meninggalkan kebiasaan buruk. Nilai-nilai hijrah sangat relevan bagi umat Islam saat ini karena dapat mendorong setiap individu untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.

  2. Avatar Suci Ramadani
    Suci Ramadani

    Terimakasih Bapak, materi ini sangat bermanfaat karena menjelaskan makna hijrah secara jelas berdasarkan Al-Qur’an dan hadits. Memahami bahwa hijrah tidak hanya berarti berpindah tempat, tetapi juga meninggalkan segala perbuatan yang dilarang Allah SWT. Artikel ini juga mengingatkan bahwa Tahun Baru Hijriah sebaiknya dijadikan momentum untuk muhasabah dan memperbaiki diri. Penjelasan mengenai keutamaan bulan Muharram dan amalan yang dianjurkan menambah wawasan keislaman saya. Selain itu, materi ini meluruskan pemahaman tentang tidak adanya ibadah khusus dalam menyambut 1 Muharram yang tidak memiliki dasar syariat. Dengan semangat hijrah, umat Islam diharapkan dapat meningkatkan kualitas iman, akhlak, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari. Semoga nilai-nilai hijrah dapat terus diterapkan agar menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT.

  3. Avatar Meliani (230121086)
    Meliani (230121086)

    Menurut saya, materi ini memberikan pemahaman bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat seperti yang dilakukan Rasulullah SAW, tetapi juga sebagai perubahan diri menuju kehidupan yang lebih baik sesuai ajaran Islam. Kajian Al-Qur’an dan hadits menunjukkan bahwa hijrah mengajarkan nilai keimanan, pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan dalam menghadapi berbagai tantangan. Tahun Baru Hijriah dapat dijadikan momentum untuk melakukan introspeksi dan memperbaiki kualitas diri, baik dalam ibadah maupun akhlak. Pembahasan ini mengingatkan bahwa makna hijrah tetap relevan dalam kehidupan saat ini sebagai upaya menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT.

  4. Avatar Lutfiyah Wulandari
    Lutfiyah Wulandari

    Artikel ini sangat menarik karena menjelaskan bahwa hijrah tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan tempat seperti yang dilakukan Rasulullah SAW., tetapi juga sebagai proses perubahan diri menuju pribadi yang lebih baik. Momentum Tahun Baru Hijriah menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk melakukan muhasabah, memperbaiki ibadah, akhlak, serta meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai hijrah yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadis mengajarkan pentingnya meninggalkan kebiasaan buruk dan menggantinya dengan perilaku yang lebih bermanfaat. Relevansi hijrah pada masa sekarang sangat besar, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan moral dan sosial di era modern. Oleh karena itu, semangat hijrah seharusnya menjadi motivasi bagi setiap muslim untuk terus berkembang, berbenah diri, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

  5. Avatar Nefaniansih Safitri
    Nefaniansih Safitri

    Artikel ini sangat relevan dalam menyambut Tahun Baru Hijriah karena tidak hanya mengulas peristiwa hijrah sebagai sejarah Islam, tetapi juga menekankan maknanya sebagai proses transformasi diri menuju pribadi yang lebih baik. Penjelasan yang didukung dalil Al-Qur’an dan hadis membuat pembahasan menjadi kuat secara ilmiah dan spiritual. Pesan tentang muhasabah, peningkatan kualitas ibadah, akhlak, serta kontribusi sosial sangat sesuai dengan tantangan kehidupan modern. Artikel ini mengingatkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perubahan sikap, pola pikir, dan perilaku menuju ridha Allah SWT. Semoga semakin banyak umat Islam yang menjadikan momentum Tahun Baru Hijriah sebagai sarana evaluasi dan perbaikan diri secara berkelanjutan. Sejalan dengan pemahaman Muhammadiyah, hijrah dipandang sebagai transformasi spiritual yang diwujudkan melalui muhasabah, pembaruan niat, dan peningkatan amal saleh.

  6. Avatar Regita Adelia
    Regita Adelia

    Artikel ini sangat bermanfaat dan mencerahkan, karena tidak hanya mengulas sejarah Tahun Baru Hijriah secara mendalam, tetapi juga berani meluruskan berbagai salah kaprah di masyarakat mengenai ritual-ritual yang tidak memiliki dalil sahih. Penjelasannya yang runtut berbasis Al-Qur’an dan hadits mengubah sudut pandang kita agar tidak terjebak dalam perayaan seremonial belaka, melainkan fokus pada esensi hijrah yang sesungguhnya, yaitu momentum evaluasi diri untuk meningkatkan kualitas iman dan ibadah dalam kehidupan sehari-hari.

  7. Avatar Febby Ratmansyah
    Febby Ratmansyah

    Menurut saya, materi ini sangat bermanfaat karena menjelaskan bahwa makna hijrah tidak hanya sebatas perpindahan tempat yang dilakukan Rasulullah SAW, tetapi juga perubahan sikap dan perilaku menuju kehidupan yang lebih baik sesuai ajaran Islam. Tahun Baru Hijriah seharusnya menjadi momen muhasabah untuk mengevaluasi diri, meninggalkan kebiasaan buruk, dan meningkatkan kualitas ibadah serta akhlak. Selain itu, materi ini juga memberikan pemahaman bahwa tidak ada ibadah atau ritual khusus yang disyariatkan dalam menyambut 1 Muharram, sehingga umat Islam dapat lebih fokus pada amalan yang memiliki landasan Al-Qur’an dan hadits. Dengan menerapkan semangat hijrah dalam kehidupan sehari-hari, umat Islam diharapkan dapat menjadi pribadi yang lebih bertakwa, produktif, dan bermanfaat bagi orang lain.