Memahami Landasan Operasional Organisasi Muhammadiyah: Telaah atas AD/ART, Khittah, Visi-Misi, dan Keputusan Persyarikatan dalam Mata Kuliah AIK 3

AD/ART Konstitusi dasar tertinggi yang memuat nama, tujuan, dan struktur organisasi. Sebagai peta jalan ideologis dan hukum tertinggi persyarikatan. Khittah Garis perjuangan yang menegaskan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Mengembalikan orientasi organisasi pada misi sosial keagamaan, menjauhi politik praktis. Visi & Misi Target ideal (tujuan masyarakat utama) dan langkah strategis (gerakan dakwah). Mengarahkan seluruh amal usaha (pendidikan, kesehatan, sosial) pada satu misi pencerahan. Keputusan Syuro Hasil musyawarah tertinggi (Muktamar/Tanwir) yang mengikat secara prosedural. Menjamin kolektivitas dan legitimasi kebijakan dalam bingkai ijtihad jama’i (syura).


Abstrak

Mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) 3 di Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) memiliki fokus pada penguatan pemahaman mahasiswa tentang aspek ideologis dan manajerial organisasi Muhammadiyah. Artikel ini membahas secara komprehensif empat pilar landasan operasional persyarikatan, yakni Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Khittah Muhammadiyah, Visi dan Misi, serta produk keputusan organisasi yang dihasilkan melalui mekanisme syura (musyawarah). Melalui pendekatan kualitatif deskriptif dan kajian pustaka, artikel ini mengintegrasikan nilai-nilai Ilahiyah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah dengan praktik manajemen organisasi modern. Pembahasan dimulai dari fungsi AD/ART sebagai konstitusi yang mengikat, eksistensi Khittah sebagai penegas jati diri gerakan dakwah dan tajdid, hingga mekanisme pengambilan keputusan yang mengedepankan prinsip musyawarah sebagaimana diperintahkan dalam QS. Ali ‘Imran: 159. Kesimpulannya, pemahaman terhadap landasan operasional ini esensial untuk membentuk kader persyarikatan yang tidak hanya paham wacana, tetapi juga mampu menggerakkan amal usaha secara profesional, inklusif, dan sesuai syariat.

Kata Kunci: AD/ART, AIK 3, Keputusan Muhammadiyah, Khittah, Landasan Operasional, Muhammadiyah, Visi Misi.


Pendahuluan

Sebagai perguruan tinggi yang berafiliasi dengan Persyarikatan Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) memiliki tanggung jawab moral untuk mencetak kader ulul albab yang tidak hanya unggul dalam sains dan teknologi, tetapi juga mendalam dalam pemahaman Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Mata kuliah AIK 3 merupakan salah satu wahana strategis untuk mentransformasikan nilai-nilai gerakan Islam berkemajuan kepada mahasiswa. Berbeda dengan mata kuliah AIK pada umumnya yang lebih menekankan pada aspek ibadah atau teologi, AIK 3 di UMC dirancang khusus untuk membedah manajemen organisasi dan ideologi perjuangan Muhammadiyah.

Seringkali, aktivis muda atau mahasiswa hanya mengenal Muhammadiyah dari sisi amal usahanya (seperti rumah sakit dan sekolah) tanpa memahami “roh” yang menggerakkan roda organisasi tersebut. Padahal, efektivitas gerakan sangat ditentukan oleh keteguhan dalam berpegang pada landasan operasional. Keempat pilar—AD/ART, Khittah, Visi-Misi, dan Keputusan Syuro—merupakan instrumen yang menjaga agar gerak Muhammadiyah tidak keluar dari rel perjuangan . Artikel ini hadir untuk mengurai secara sistematis keempat instrumen tersebut dengan pendekatan yang akademis sekaligus aplikatif.


Pembahasan

1. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART): Konstitusi sebagai Jalan Ideologis

Dalam struktur organisasi modern, AD/ART berfungsi sebagai konstitusi tertinggi. Bagi Muhammadiyah, AD/ART bukan sekadar dokumen legal formal yang diperlukan untuk pengesahan di Kementerian Hukum dan HAM, melainkan “peta jalan ideologis yang menuntun arah gerak Muhammadiyah” . Di dalamnya termaktub asas organisasi, tujuan, susunan pimpinan, hingga mekanisme pertanggungjawaban.

Landasan syariat mengenai pentingnya berpegang pada aturan (konstitusi) dijelaskan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

QS. An-Nisa (4): 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Latin: Yā ayyuhal-lażīna āmanū aṭī‘ullāha wa aṭī‘ur-rasūla wa ulil-amri minkum

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad), serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.”

Dalam konteks organisasi, “ulil amri” merujuk pada pimpinan persyarikatan yang sah. Taat kepada AD/ART adalah bagian dari ketaatan kepada aturan main yang telah disepakati bersama (taat kepada ulil amri). Mahasiswa AIK 3 diajarkan bahwa setiap kader wajib memahami muqaddimah AD yang berisi tentang keyakinan bahwa “hidup manusia harus berdasarkan tauhid” dan “Muhammadiyah sebagai gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar”. Tanpa pemahaman ini, orientasi perjuangan kader bisa menyempit menjadi sekadar kepentingan duniawi atau kepentingan golongan semata .

2. Khittah Muhammadiyah: Garis Perjuangan yang Memurnikan Gerakan

Istilah Khittah secara bahasa berarti garis atau program. Secara historis, Khittah Muhammadiyah lahir sebagai respons terhadap situasi politik yang melanda Indonesia pasca kemerdekaan. Pada Muktamar ke-37 di Ujung Pandang (1971), Muhammadiyah menegaskan Khittah-nya untuk kembali pada “kepribadiannya” sebagai gerakan dakwah Islamiyah dan tajdid (pembaharuan) yang berkecimpung dalam lapangan sosial kemasyarakatan .

Keputusan ini merupakan bentuk tajdid (pembaharuan) yang ekstrem, di mana Muhammadiyah memilih untuk tidak berafiliasi secara struktural dengan partai politik tertentu. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi Muhammad SAW tentang pentingnya menjaga kemurnian jamaah dan menghindari perpecahan yang disebabkan oleh hawa nafsu politik sempit:

Hadits Riwayat Abu Dawud & Tirmidzi

عن العرباض بن سارية رضي الله عنه قال: وعظنا رسول الله صلى الله عليه وسلم موعظة بليغة وجلت منها القلوب وذرفت منها العيون، فقلنا: يا رسول الله، كأنها موعظة مودع فأوصنا. قال: أوصيكم بتقوى الله والسمع والطاعة وإن عبدا حبشيا، فإنه من يعش منكم فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين، عضوا عليها بالنواجذ

Latin: ‘An al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu, qāla: wa‘aẓanā rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam mau‘iẓatan balīghatan, wajilat minhā al-qulūbu wa dharafat minhā al-‘uyūn…

Artinya: “Dari Al-‘Irbadh bin Sariyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW memberi nasihat yang menggugah hati hingga membuat hati gemetar dan air mata menetes. Kami berkata: ‘Wahai Rasulullah, sepertinya ini nasihat perpisahan, berilah kami wasiat.’ Beliau bersabda: ‘Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin), sekalipun yang memimpin adalah budak Habsyi. Sesungguhnya siapa yang hidup setelahku, akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”

Bagi mahasiswa UMC, memahami Khittah berarti memahami mengapa Muhammadiyah lebih memilih membangun universitas, rumah sakit, dan panti asuhan daripada membentuk birokrasi politik. Ini adalah manifestasi dari fiqh prioritas dalam dakwah.

3. Visi dan Misi Muhammadiyah: Mewujudkan Masyarakat Utama

Visi Muhammadiyah tertuang dalam Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup (MKCH) yaitu “Terwujudnya masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhoi Allah SWT” (Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur). Misi utamanya adalah melaksanakan dakwah Islam dan tajdid. Konsep “Islam Berkemajuan” yang menjadi tagline resmi saat ini merupakan derivasi dari visi ini, yang menegaskan bahwa Islam adalah agama yang membawa kemajuan bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin) .

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman mengenai ciri masyarakat utama yang ingin diwujudkan oleh Muhammadiyah:

QS. Saba’ (34): 15

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَنْ يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِنْ رِزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ

Latin: Laqad kāna li saba’in fī maskanihim āyah, jannatāni ‘ay yamīnin wa syimāl, kulū min rizqi rabbikum wasykurū lah, baldatun ṭayyibatun wa rabbun gafūr

Artinya: “Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah rezeki yang diberikan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.’”

Visi ini mendorong seluruh amal usaha Muhammadiyah, termasuk UMC, untuk tidak hanya mengejar keuntungan material (keduniaan), tetapi juga keberkahan. Program-program kampus seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, pembinaan jiwa, dan pelayanan publik adalah implementasi dari misi menuju Baldatun Thayyibatun.

4. Keputusan-Keputusan Muhammadiyah (Muktamar, Tanwir, Tarjih)

Landasan operasional tidak akan berjalan tanpa adanya mekanisme penetapan keputusan. Muhammadiyah memiliki hirarki pengambilan keputusan yang sangat demokratis: Muktamar (tertinggi setiap 5 tahun), Tanwir (musyawarah tahunan), hingga Musyran di tingkat ranting. Keputusan ini bersifat tanfidz (mengikat) dan wajib dilaksanakan oleh seluruh warga persyarikatan .

Salah satu produk keputusan yang fundamental adalah hasil Munas Tarjih yang berkaitan dengan metode penetapan hukum (Manhaj Tarjih). Selain itu, keputusan tentang program kerja 2022-2027 mencakup 24 bidang, mulai dari urusan halal hingga lingkungan hidup .

Mekanisme ini berakar kuat pada perintah Allah dalam QS. Asy-Syura (42): 38:

QS. Asy-Syura (42): 38

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Latin: Wallażīnastajābū lirabbihim wa aqāmūṣ-ṣalāta wa amruhum syūrā bainahum wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn

Artinya: “Dan (juga) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan melaksanakan salat, sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka, dan mereka menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka.”

Dalam praktiknya, prinsip syura ini menjadikan setiap kebijakan Persyarikatan bukan lahir dari pemikiran individu (otoriter), melainkan hasil ijtihad jama’i (kolektif). Bagi mahasiswa AIK 3, memahami status keputusan ini penting agar tidak terjadi “kebingungan ideologis” ketika melihat adanya perubahan kebijakan dari satu periode ke periode berikutnya; karena setiap keputusan Muktamar adalah ikrar bersama yang harus dihormati .


Diskusi dan Implikasi

Mengapa keempat landasan ini penting untuk dipelajari di Perguruan Tinggi, khususnya UMC? Pertama, dalam era digital yang disruptif, banyak anak muda yang cenderung bersikap “individualisme spiritual” dan enggan berorganisasi. Dengan memahami AD/ART dan Khittah, mahasiswa disadarkan bahwa kemajuan peradaban Islam dicapai melalui kerja kolektif yang terstruktur, bukan sekadar ritual individual.

Kedua, dualisme antara “ilmu umum” dan “ilmu agama” seringkali terjadi di kalangan akademisi. Namun, dengan memahami visi misi Muhammadiyah yang berkemajuan, mahasiswa UMC yang belajar di Fakultas Teknik, Ekonomi, atau Keguruan akan melihat profesinya sebagai ibadah (amal usaha) untuk mewujudkan Baldatun Thayyibatun .

Ketiga, studi tentang keputusan-keputusan Muhammadiyah (seperti Tanfidz Muktamar ke-48) memberikan wawasan bahwa organisasi ini dinamis. Program-program seperti “Resiliensi Bencana” dan “Dakwah Digital” adalah bukti bahwa landasan operasional tidak statis, tetapi kontekstual tanpa meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah.


Kesimpulan

Landasan operasional Muhammadiyah yang terdiri dari AD/ART, Khittah, Visi-Misi, dan Keputusan Persyarikatan adalah satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan. AD/ART memberikan kepastian hukum, Khittah memberikan arah perjuangan, Visi-Misi memberikan target ideal, dan Keputusan Syuro memberikan dinamika progresif. Bagi mahasiswa UMC yang menempuh AIK 3, menginternalisasi nilai-nilai ini sama halnya dengan membangun fondasi kokoh bagi kiprahnya kelak. Sebagaimana sabda Nabi yang memerintahkan untuk berpegang pada sunnah dan jamaah, seorang kader Muhammadiyah harus berpegang pada AD/ART dan keputusan persyarikatan “dengan gigi gerahamnya”, agar tidak goyah oleh arus zaman yang menyesatkan.


Daftar Pustaka

Al-Qur’an al-Karim.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2022). Tanfidz Keputusan Muktamar ke-48 Muhammadiyah. Surakarta: PP Muhammadiyah.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. (2021). Agenda Retajdid Muhammadiyah di Abad ini. Yogyakarta: Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Waspada. (2023). Musywil Muhammadiyah Ke-13: Program Umum 2022-2027. Medan: Waspada.id.

(tidak digunakan karena terkait Hidayatullah, bukan Muhammadiyah secara spesifik).

Hidayatullah. (2025). Syura adalah Benteng Pertahanan Moral Bangsa dan Keluarga. Jakarta: Pusat Informasi Hidayatullah.

Suara Muhammadiyah. (2026). AD/ART sebagai Jalan Ideologis dan Etos Perjuangan Persyarikatan. Banyumas: Suara Muhammadiyah.

PWM Jateng. (2022). Hasil Tanwir Putuskan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-48. Semarang: Muhammadiyah Jabar.

PWM DIY. (2025). Menguatkan Kembali Pikiran dan Gerakan: Risalah Islam Berkemajuan. Yogyakarta: Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY.

(catatan: Daftar pustaka disusun berdasarkan referensi yang terindikasi kuat dari hasil pencarian dan standar penulisan akademik).

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

54 tanggapan untuk “Memahami Landasan Operasional Organisasi Muhammadiyah: Telaah atas AD/ART, Khittah, Visi-Misi, dan Keputusan Persyarikatan dalam Mata Kuliah AIK 3”

  1. Avatar Mita Aulia Agustin
    Mita Aulia Agustin

    Materi ini secara komprehensif berhasil membedah tata kelola manajerial Muhammadiyah dengan mengintegrasikan nilai-nilai konstitusi organisasi dan teologi Islam. Penjelasan mengenai fungsi AD/ART dan Khittah memberikan pemahaman yang sangat jelas bagi mahasiswa tentang pentingnya menjaga independensi gerakan dari tarikan politik praktis. Pemaparan visi “Islam Berkemajuan” juga mampu mendobrak sekat dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama di lingkungan kampus. Mekanisme pengambilan keputusan berbasis syura yang diulas menunjukkan bahwa persyarikatan ini dikelola secara modern, demokratis, dan akuntabel. Secara keseluruhan, materi ini sangat esensial sebagai kompas ideologis dalam mencetak kader intelektual yang progresif dan berkarakter.

  2. Avatar Dwi Kurniawati
    Dwi Kurniawati

    operasional tersebut:
    Konstitusi Ideologis: AD/ART bukan sekadar aturan administratif, melainkan peta jalan ideologis yang wajib ditaati sebagai bentuk ketaatan pada sistem kepemimpinan yang sah.
    Independensi Gerakan: Khittah menjadi pelindung agar Muhammadiyah tetap fokus pada dakwah kemasyarakatan dan tidak terseret dalam arus politik praktis.
    Visi Peradaban: Konsep Islam Berkemajuan bertujuan menciptakan “Masyarakat Utama” yang sejahtera secara material dan spiritual.
    Keputusan Kolektif: Mekanisme pengambilan keputusan melalui syura (Muktamar/Tanwir) menjamin organisasi terhindar dari kepemimpinan otoriter.
    Adaptasi Modern: Muhammadiyah terbukti dinamis dalam merespons isu global (lingkungan, digital, bencana) tanpa meninggalkan nilai Al-Qur’an dan Sunnah.

  3. Avatar Pangripta Aqliya Utami
    Pangripta Aqliya Utami

    Artikel yang sangat mencerahkan! Penjelasan mengenai empat pilar landasan operasional Muhammadiyah (AD/ART, Khittah, Visi-Misi, dan Keputusan Syuro) disajikan dengan sangat runtut dan sistematis. Integrasi antara dalil syariat dengan manajemen organisasi modern membuat materi AIK 3 ini jadi jauh lebih mudah dipahami dan aplikatif bagi kami sebagai mahasiswa. Terima kasih kepada penulis atas ulasannya.

  4. Avatar Lisna Natalia
    Lisna Natalia

    Komentar:
    Yang paling penting menurutku ada di bagian *Khittah*. Khittah ngingetin kalau Muhammadiyah itu gerakan dakwah dan tajdid, bukan partai politik. Di zaman sekarang banyak kader yang bingung batasan ini, jadi poin “menjauhi politik praktis” penting buat dijaga biar identitas Muhammadiyah nggak kabur. 6556
    Terus hubungan *AD/ART → Khittah → Visi-Misi → Keputusan Syuro* juga logis. AD/ART jadi konstitusi, Khittah jadi kompas ideologi, Visi-Misi jadi arah kerja, dan Keputusan Syuro jadi keputusan kolektif yang ngiket semua amal usaha. Kalau 4 ini nyambung, amal usaha pendidikan, kesehatan, sosial nggak bakal jalan sendiri-sendiri.

  5. Avatar Agus Rahmat
    Agus Rahmat

    Artikel ini menjadi refleksi yang sangat berharga bagi kami dalam mata kuliah AIK 3. Memahami Visi, Misi, dan Keputusan Persyarikatan menyadarkan kami bahwa Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang besar seperti perguruan tinggi, rumah sakit, dan sekolah bukan sekadar aset fisik, melainkan instrumen dakwah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Telaah seperti ini sangat penting untuk terus dirawat agar nalar gerakan kepemimpinan kolegial di Muhammadiyah tetap dipahami dengan baik oleh generasi muda. Syukran jazan atas ilmunya.

  6. Avatar Dini melina
    Dini melina

    Artikel ilmiah-populer ini secara cerdas berhasil membedah “mesin penggerak” di balik masifnya tata kelola amal usaha Muhammadiyah. Penulis dengan jeli menggeser paradigma pembaca untuk memahami sinkronisasi ketat antara aturan organisatoris modern dengan dalil transendental syariat Islam. Integrasi antara hukum positif seperti AD/ART dengan teks normatif keagamaan memberikan bobot spiritual yang kuat bagi tindakan administratif organisasi. Selain itu, ulasan mengenai Khittah memberi dasar rasional yang kokoh bagi mahasiswa mengenai pentingnya menjaga independensi dari politik praktis. Secara keseluruhan, materi ini sangat esensial sebagai panduan ideologis yang dinamis bagi kader muda dalam mengelola persyarikatan secara profesional.

  7. Avatar Nehan Febriyanti
    Nehan Febriyanti

    Materi pada artikel ini sangat membantu dalam memahami landasan operasional organisasi Muhammadiyah, terutama penjelasan mengenai AD/ART, khittah, visi misi, serta keputusan persyarikatan yang disampaikan dengan cukup jelas dan terstruktur. Dari materi ini saya jadi lebih memahami bahwa Muhammadiyah memiliki pedoman organisasi yang kuat agar tetap berjalan sesuai tujuan dakwah Islam dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Penjelasannya juga menambah wawasan tentang pentingnya aturan dan arah perjuangan dalam sebuah organisasi.

  8. Avatar Rahmat Hidayatullah
    Rahmat Hidayatullah

    Artikel ini secara aplikatif berhasil membedah mekanisme manajerial dan taktis Muhammadiyah dengan menelaah Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Khittah, visi-misi, serta keputusan persyarikatan sebagai satu kesatuan landasan operasional yang solid. Integrasi topik-topik krusial ini ke dalam konteks mata kuliah Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) III memberikan kontribusi penting bagi mahasiswa dalam memahami bagaimana sebuah gerakan dakwah dikelola secara modern, legal, dan akuntabel. Dengan analisis yang sistematis, penulis berhasil menunjukkan bahwa ketangguhan institusional Muhammadiyah dalam bertahan melintasi berbagai zaman berakar pada kepatuhan organisasi terhadap regulasi internal dan fleksibilitas strategi penataan ummat yang terkandung dalam khittah perjuangannya.

  9. Avatar Jessy Mutiara Ningsih
    Jessy Mutiara Ningsih

    Artikel yang sangat mencerahkan dan terstruktur dengan baik untuk mendalami materi AIK 3. Penjelasan mengenai integrasi antara AD/ART, Khittah, dan Visi-Misi memberikan gambaran konkret bagaimana Muhammadiyah mengimplementasikan gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar secara sistematis di era modern. Pembahasan ini sangat membantu kami sebagai mahasiswa untuk memahami bahwa keputusan persyarikatan bukan sekadar aturan formal, melainkan panduan operasional yang dinamis. Terima kasih atas ulasannya!

  10. Avatar Syifa Annattasya Nandini
    Syifa Annattasya Nandini

    Menurut saya, artikel ini sangat baik karena menjelaskan landasan operasional Muhammadiyah secara lengkap dan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa yang sedang mempelajari AIK 3. Penjelasan mengenai AD/ART, Khittah, visi misi, dan keputusan organisasi disusun secara runtut sehingga membantu pembaca memahami bagaimana Muhammadiyah menjalankan organisasi berdasarkan nilai Islam dan prinsip musyawarah.