CIREBON, 5 Juni 2026 – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan salat Jumat, 5 Juni 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz H. Ali Mahfudz menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sebenar-benarnya di tengah kondisi ekonomi bangsa yang sedang terpuruk.
Tampak hadir dalam kesempatan tersebut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, beserta jajaran pimpinan lainnya. Jamaah tampak antusias dan menyimak dengan saksama setiap pesan yang disampaikan.

Pesan Takwa di Tengah Kegelisahan Rakyat
Dalam khutbahnya, Ustadz H. Ali Mahfudz mengawali dengan seruan untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali Imran: 102)
Beliau menyoroti keresahan yang melanda rakyat Indonesia akibat melambungnya kebutuhan hidup sehari-hari dan kondisi ekonomi yang sulit. “Ada yang berdemo, ada yang bunuh diri, bahkan ada yang tega membunuh anaknya sendiri karena tekanan ekonomi,” ujar beliau dengan nada prihatin.
Ustadz H. Ali Mahfudz dengan tegas mengingatkan larangan membunuh anak karena takut miskin, sebagaimana firman Allah:
وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ ۚ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا
Artinya: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’: 31)

Kisah Yusuf: Solusi Menghadapi Resesi
Mengambil inspirasi dari surat Yusuf, khatib menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah memberikan panduan jitu dalam menghadapi resesi ekonomi. Beliau mengawali dengan firman Allah:
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ
Artinya: “Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu.” (QS. Yusuf: 3)
Beliau kemudian menguraikan tamsil mimpi raja Mesir tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, dan tujuh bulir gandum hijau serta tujuh bulir kering (QS. Yusuf: 43-49). Mimpi itu ditafsirkan oleh Nabi Yusuf sebagai masa tujuh tahun panen raya diikuti tujuh tahun paceklik.
Ustadz H. Ali Mahfudz memaparkan tiga solusi mengatasi resesi berdasarkan kisah tersebut:
Pertama, bekerja keras menanam selama tujuh tahun. “Kelemahan umat sekarang adalah ingin cepat kaya, instan, tanpa proses. Akhirnya ketika sulit, mereka putus asa, stres, merampok, mencuri, dan melakukan tindak kriminal lainnya. Padahal nasib negara ada di tangan kita sendiri,” tegasnya.
Kedua, hidup hemat. Beliau mengingatkan untuk tidak menghambur-hamburkan harta dan menjauhi gaya hidup mewah yang tidak perlu.
Ketiga, hidup dengan menahan diri dari hawa nafsu. Khatib menyitir pengakuan Nabi Yusuf:
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53)

Penutup: Pelajaran bagi Ulul Albab
Mengakhiri khutbahnya, Ustadz H. Ali Mahfudz menutup dengan pesan bahwa kisah dalam Al-Qur’an adalah pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)
Usai salat, Ketua PDM Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, menyampaikan apresiasinya terhadap materi khutbah yang sangat relevan dengan kondisi umat saat ini. Beliau berharap jamaah dapat mengamalkan pesan-pesan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Pelaksanaan salat Jumat berlangsung tertib, aman, dan penuh berkah. Jamaah pulang dengan membawa pencerahan dan semangat baru untuk menghadapi tantangan ekonomi dengan cara yang diridai Allah. (Dakum)


Tinggalkan Balasan