Oleh: Irfan Hasan D
Di tengah riuh rendah percakapan publik yang kerap membanding-bandingkan gerak langkah persyarikatan dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) keagamaan lainnya, sebuah pesan mendalam nan menyejukkan terpancar dalam Kajian Ahad Pagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi Kota Cirebon pada Ahad (8/11/2026).
Prof. Dr. Ahmad Dahlan, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat, menyampaikan refleksi bernas yang menyentuh sanubari. Menanggapi anggapan bahwa Muhammadiyah minim mubalig, kurang padat muatan panggung dakwahnya, atau minim media personal, beliau merangkumnya bukan dengan apologi yang membela diri, melainkan dengan keteladanan yang penuh rasa empati.
Para mubalig dan pimpinan Muhammadiyah, tegasnya, tidak sedang berburu popularitas sorot kamera atau membangun riuh kepopuleran duniawi. Mereka memilih “turun gunung”, menyapa pelosok-pelosok yang tak tersorot media, merawat manajemen persyarikatan, dan mengulurkan tangan bagi sesama. Dakwah yang dibawakan tidak bermaksud memukau dengan retorika berlebihan, melainkan menyampaikan nasihat yang menyentuh hati, menumbuhkan kesadaran, serta menghadirkan solusi riil bagi persoalan umat secara bijaksana.
Hal ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa dakwah sejatinya adalah investasi akhirat, bukan ajang mengumpul puji duniawi. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 125 yang menjadi pegangan dakwah persyarikatan:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menegaskan bahwa dakwah harus disampaikan dengan hikmah (kebijaksanaan), mau’idhatil hasanah (pengajaran yang baik dan penuh kasih sayang), serta dialog yang santun tanpa merendahkan sesama.
Keikhlasan dan Keutamaan Manfaat
Semangat juang para mubalig Muhammadiyah yang memilih hening dalam kebaikan dan berfokus pada manfaat nyata bagi umat ini mencerminkan pesan luhur Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam Beliau bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Thabrani dan Daraqutni)
Kehadiran dakwah yang membumi melalui pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial menegaskan bahwa ukuran kebaikan suatu gerakan bukanlah seberapa bising ia dibicarakan, melainkan seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh umat dan bangsa.
Selain itu, keteguhan untuk tidak mengejar kemewahan panggung duniawi juga sejalan dengan hadis tentang keikhlasan niat:
إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuhmu dan rupa wujudmu, tetapi Allah melihat kepada hatimu dan amal perbuatanmu.” (HR. Muslim)
Bersama Menyatukan Bangsa
Mengusung tema Milad ke-114 “Bersama Menyatukan Bangsa”, Muhammadiyah mengajak seluruh warganya untuk tidak terjebak dalam perbandingan yang merenggangkan persaudaraan. Mari perbanyak muhasabah (introspeksi diri), memperdalam ilmu, dan memelihara keikhlasan dalam berkontribusi.
Dengan terus merajut sinergi bersama seluruh elemen bangsa, langkah nyata ini menjadi cerminan kontribusi warga negara yang baik demi mewujudkan cita-cita bersama: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—negeri yang tenteram, makmur, dan berada dalam ampunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (*)


Kirim Tanggapan