PIMPINAN Cabang Muhammadiyah Tengahtani Kabupaten Cirebon di MASJID Al Furqon yang terletak di Jalan Triguna No. 21, kembali menggelar agenda rutinnya, yaitu Pengajian Rutin Malam Sabtu. Kajian yang berlangsung pada Jumat, 16 Oktober 2026 ini mengusung format Kajian Tarjih dan Tanya Jawab Agama Jilid 1 dengan tema sentral “Dzikir dan Doa Setelah Sholat”.
Kajian kali ini menghadirkan pembicara yang kompeten di bidangnya, yaitu Ustadz Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, S.H.I., M.Ag. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya memahami tuntunan Rasulullah ﷺ secara autentik (tarjih) dalam setiap amalan, termasuk dalam urusan berdzikir dan berdoa setelah menunaikan shalat fardhu.

Dasar Al-Qur’an: Perintah Berdzikir
Ustadz Arief membuka kajian dengan mengutip firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 152:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
Artinya: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Ayat ini menjadi landasan utama bahwa dzikir adalah kebutuhan spiritual seorang hamba untuk mendapatkan perhatian dan ingatan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Posisi Imam Setelah Salam dan Kisah Sa’labah
Memasuki pembahasan teknis, Ustadz Arief menjelaskan bahwa salah satu sunah yang sering terlupakan adalah posisi imam setelah mengucapkan salam. Setelah salam, disunahkan bagi imam untuk menghadap ke arah makmum (jika ada kebutuhan untuk memberi arahan atau mendengarkan dzikir bersama) atau tetap menghadap ke arah kanan/kiblat.
Beliau juga mengisahkan sebuah riwayat masyhur tentang Sa’labah, seorang sahabat yang setelah salam langsung bergegas pulang meninggalkan masjid. Ternyata, ia dan istrinya hanya memiliki satu kain yang digunakan untuk shalat secara bergantian. Meskipun demikian, Rasulullah ﷺ tidak menegurnya dengan keras, melainkan justru meminta para sahabat untuk peduli terhadap keadaan Sa’labah.
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa dzikir setelah shalat bersifat sunah, tidak sampai level wajib yang harus dilakukan hingga mengorbankan kondisi darurat seseorang. Namun, bagi yang memiliki kelapangan, duduk berdzikir adalah amalan yang sangat utama.
Urutan Dzikir Setelah Sholat
Dalam sesi tarjih, Ustadz Arief memaparkan urutan dzikir yang disepakati (tarjih) berdasarkan hadis-hadis sahih, antara lain:
a. Membaca Istighfar 3 Kali
Lafal:
أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ، أَسْتَغْفِرُ اللهَ
Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah” (dibaca 3x).
Berdasarkan hadis dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ apabila selesai shalat, beliau beristighfar tiga kali .
b. Membaca Allahumma Antassalam
Lafal:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
Artinya: “Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dan dari-Mu kesejahteraan itu datang. Mahaberkah Engkau, Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”
c. Dzikir-dzikir lainnya seperti Tasbih (33x), Tahmid (33x), Takbir (33x), dan ditutup dengan tahlil serta doa perlindungan dari sifat kikir, pengecut, dan fitnah kehidupan.

Adab dan Fikih Berdoa
Sesi tanya jawab agama (bahtsul masail) berlangsung hangat ketika membahas adab-adab berdoa. Ustadz Arief merangkum beberapa poin penting yang sesuai dengan tuntunan syariat:
1. Mengangkat Tangan
Mengangkat kedua tangan saat berdoa adalah sunah yang sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Tuhanmu itu Maha Pemalu dan Maha Mulia. Dia malu kepada hamba-Nya jika ia mengangkat kedua tangan kepada-Nya lalu Dia membiarkannya pulang dengan tangan kosong.” (HR. Abu Dawud) .
2. Berdoa dengan Suara Lirih
Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 55:
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
Artinya: “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” .
3. Urutan Doa yang Tertib
Ustadz Arief memberikan tips praktis dalam berdoa, yaitu meniru struktur Surah Al-Fatihah:
- Memuji Allah (seperti tahmid dan istighfar).
- Membaca Sholawat kepada Nabi ﷺ.
- Menyampaikan Hajat (kebutuhan).
- Diakhiri dengan Kalimah Thayyibah seperti Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.
4. Husnudzon dan Fokus Akhirat
Sebagai penutup, beliau mengingatkan agar seorang hamba berhusnudzon (berbaik sangka) kepada Allah, meyakini bahwa doa pasti dikabulkan, dan tidak berputus asa. Doa juga hendaknya diucapkan dengan singkat, jelas, dan fokus pada kebutuhan utama, terutama keselamatan di akhirat. Jika doa belum terkabul, hendaknya tidak jenuh dan terus mengulanginya setiap selesai shalat.
Kajian ditutup dengan tanya jawab interaktif dari para jamaah yang hadir, membahas berbagai problematika ibadah sehari-hari sesuai dengan koridor tarjih Muhammadiyah.
Peliput: Saefudin


Kirim Tanggapan