Pengajian Ahad Pagi PCM Harjamukti Bahas Tuntas Fikih Takziah dan Kematian

CIREBON, Ahad (12/7/2026) – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Annur Sangkana Muhammadiyah, Kelurahan Harjamukti, Kota Cirebon, pada Ahad pagi ini. Ratusan jamaah dari berbagai ranting Muhammadiyah se-Kecamatan Harjamukti dan sekitarnya hadir dalam pengajian rutin Ahad pagi yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Harjamukti Kota Cirebon.

Mengusung tema “Fikih Takziah dan Kematian”, pengajian kali ini menghadirkan penceramah utama, Ustadz H. Otong Hasanudin, selaku Ketua Majelis Tarjih Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cirebon. Kajian mendalam ini bertujuan memberikan pemahaman yang komprehensif kepada jamaah tentang hakikat kehidupan, kematian, serta tuntunan syariat dalam menyikapi musibah kematian.

Kehidupan Dunia yang Sementara

Dalam ceramahnya, Ustadz H. Otong Hasanudin mengawali kajian dengan meluruskan dua pemahaman ekstrem tentang kehidupan dunia. Pertama, mereka yang meyakini hidup hanya sekali dan mengejar kesenangan duniawi semata. Kedua, mereka yang menganggap dunia harus diabaikan total karena hidup hanya untuk ibadah.

Beliau menegaskan bahwa kedua pemahaman tersebut keliru, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia dengan tujuan pokok pengabdian kepada-Nya dengan cara memakmurkan bumi. Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” [Q.S. al-Dzariyat (51): 56].

Beliau juga mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surah Hud ayat 61:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat lagi Maha Memperkenankan (doa hamba-Nya).” [Q.S. Hud (11): 61].

Ustadz Otong mengingatkan agar umat Islam tidak melupakan porsi duniawinya sebagaimana pesan dalam Q.S. al-Qashash (28): 77:

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.”

Beliau menutup sesi pertama dengan menekankan bahwa kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Q.S. al-A’la (87): 16–17 dan Q.S. al-Mulk (67): 2 yang menegaskan bahwa kehidupan dan kematian adalah ujian bagi manusia untuk menunjukkan siapa yang terbaik amalnya.

Peringatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang Kematian

Memasuki sesi kedua, Ustadz Otong memaparkan beberapa ayat Al-Qur’an yang menjadi peringatan tegas tentang kepastian kematian. Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan.” [Q.S. al-A’raf (7): 34].

Beliau juga membacakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Q.S. Ali Imran (3): 185:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Siapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

Ustadz Otong juga mengingatkan wasiat Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar setiap muslim tidak mati kecuali dalam keadaan berserah diri (muslim), sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. Ali Imran (3): 102:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”

Hakikat Kematian

Pada sesi ketiga, Ustadz Otong menjelaskan hakikat kematian secara bahasa dan medis. Secara bahasa, al-maut berarti terpisahnya roh dari jasad. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan akhir kehidupan di dunia sekaligus awal kehidupan baru di akhirat.

Beliau juga memaparkan empat penyebab kematian secara medis, yaitu berhentinya pernapasan, matinya jaringan otak, tidak berdenyutnya jantung, dan adanya pembusukan pada jaringan tertentu oleh bakteri. Dalam dunia kedokteran modern, kematian dapat ditentukan dengan alat elektroensefalogram (EEG) yang merekam aktivitas otak. Namun, beliau mengingatkan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala tetap berkuasa atas segalanya, termasuk menghidupkan kembali orang yang secara medis dinyatakan mati (kematian klinis).

Ustadz Otong mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Q.S. al-Baqarah (2): 28 yang menggambarkan siklus kehidupan manusia:

كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia akan mematikan kamu, kemudian Dia akan menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan?”

Bekal Menuju Kematian

Mengakhiri sesi materi, Ustadz Otong menyampaikan tiga bekal penting untuk menghadapi kematian:

1. Berbekal Takwa

Sebbaik-baik bekal untuk akhirat adalah takwa, yaitu menjauhkan diri dari siksaan dan kemurkaan Allah dengan melakukan ketaatan dan menjauhi maksiat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” [Q.S. al-Baqarah (2): 197].

2. Memperbanyak Amal Saleh

Dunia adalah ladang amal saleh. Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjanjikan balasan surga bagi siapa yang banyak beramal saleh, sebagaimana firman-Nya dalam Q.S. al-Nahl (16): 97:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”

3. Taubat Nasuha

Bersegera bertaubat dari dosa adalah wajib dan tidak boleh ditunda. Ustadz Otong mengutip pernyataan Ibnul Qayyim yang menyatakan bahwa hakikat taubat adalah menyesali dosa yang telah lalu, meninggalkannya seketika itu juga, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya di masa depan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Q.S. al-Tahrim (66): 8:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai ….”

Husnulkhatimah: Akhir Hidup yang Terbaik

A. Definisi Husnulkhatimah

Ustadz Otong menjelaskan bahwa husnulkhatimah secara bahasa berarti sebaik-baik penutup atau akhir yang terbaik. Jika dikaitkan dengan kematian, husnulkhatimah berarti akhir hidup yang terbaik atau kematian yang indah dan ideal.

B. Tanda-tanda Husnulkhatimah

1. Tidak Berbuat Syirik dan Mengucapkan Kalimat Syahadat

Ustadz Otong mengutip hadis riwayat Abu Dzar r.a.:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَتَانِي رَبِّي فَأَخْبَرَنِي أَوْ قَالَ بَشَّرَنِي أَنَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ. قُلْتُ وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ؟ قَالَ: وَإِنْ زَنَى وَإِنْ سَرَقَ. [رواه البخاري]

“Dari Abu Dzar, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tuhanku telah memberitahu atau memberi kabar gembira kepadaku bahwasanya siapa saja yang mati dari umatku tanpa berbuat syirik kepada Allah sedikit pun, maka dia akan masuk surga.’ Aku bertanya, ‘Meskipun dia berzina atau mencuri?’ Nabi menjawab, ‘Ya, sekalipun dia berzina atau mencuri.’” [H.R. al-Bukhari].

Beliau juga mengutip hadis riwayat Muaz bin Jabal r.a.:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ. [رواه أبو داود وأحمد والحاكم]

“Dari Muaz bin Jabal, ia berkata bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa bersabda, ‘Siapa saja yang akhir perkataannya adalah mengucapkan ‘Laa ilaaha illallah’, ia masuk surga.’” [H.R. Abu Dawud, Ahmad, dan al-Hakim].

2. Meninggal dalam Keadaan Syahid

Ustadz Otong membacakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Q.S. Ali Imran (3): 169–171:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ . فَرِحِينَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَيَسْتَبْشِرُونَ بِالَّذِينَ لَمْ يَلْحَقُوا بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ أَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Beliau juga menyebutkan hadis riwayat at-Tirmidzi tentang enam keistimewaan orang yang mati syahid, di antaranya diampuni dosanya, melihat tempatnya di surga, dilindungi dari azab kubur, disematkan mahkota kebanggaan, dinikahkan dengan bidadari, dan diperkenankan memberi syafaat.

3. Tanda-tanda Husnulkhatimah Lainnya

Ustadz Otong menyebutkan tanda-tanda lainnya, seperti:

  • Meninggal dengan keringat karena aktivitas kebaikan
  • Meninggal karena wabah dan musibah (seperti covid-19, sakit perut, tenggelam, tertimpa reruntuhan)
  • Perempuan muslimah yang meninggal ketika melahirkan
  • Meninggal karena mempertahankan harta dari perampok (H.R. al-Bukhari dan Muslim)

Penutup

Pengajian yang berlangsung sekitar dua jam ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Jamaah tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar fikih takziah dan kematian, termasuk tata cara melayat, hukum membaca Yasin, dan berbagai persoalan kontemporer seperti takziah virtual.

Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz H. Otong Hasanudin, memohon agar seluruh jamaah diberikan pemahaman yang benar tentang hakikat kehidupan dan kematian serta diberikan husnulkhatimah di akhir hayat.

Pengajian Ahad pagi ini merupakan agenda rutin PCM Harjamukti yang bertujuan meningkatkan pemahaman keagamaan warga Muhammadiyah khususnya dan masyarakat umum pada umumnya. Kegiatan serupa akan kembali digelar pada Ahad pekan depan dengan tema yang berbeda.


Peliput: Jamhari, Fahyudin dan Tim Media PCM Harjamukti Kota Cirebon

Editor: Arofah Firdaus

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Pengajian Ahad Pagi PCM Harjamukti Bahas Tuntas Fikih Takziah dan Kematian”

  1. Avatar Fahyudin
    Fahyudin

    Alhamdulillah, pengajian yang luar biasa dari PCM Harjamukti. Pembahasan Fikih Takziah dan Kematian ini sangat penting dan relevan, memberikan panduan syariat yang jelas agar kita tidak keliru dalam memandang kehidupan dunia dan akhirat. Terima kasih Ustadz H. Otong atas ilmunya.”