PIMPINAN Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi Kota Cirebon kembali menggelar agenda rutin Pengajian Ahad Pagi. Acara yang berlangsung khidmat ini digelar pada Ahad, 11 Oktober 2026, bertempat di Balai Pengajian Muhammadiyah Kesambi, Kota Cirebon.
Mengangkat tema utama tentang Tafsir Surat Al-‘Asr, pengajian kali ini menghadirkan Ustadz Agus Wahid, S.Ag., sebagai penceramah. Beliau menyampaikan materi secara mendalam mengenai makna waktu, urgensi memanfaatkannya, serta ciri-ciri manusia yang merugi dan yang beruntung berdasarkan surat ke-103 dalam Al-Qur’an tersebut.
Acara tersebut dihadiri oleh jajaran anggota Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi, pengurus Balai Pengajian, serta masyarakat sekitar yang antusias mengikuti kajian dari awal hingga akhir.

Makna Sumpah Allah: Demi Waktu
Dalam paparannya, Ustadz Agus Wahid memulai dengan menjelaskan bahwa Surat Al-‘Asr dibuka dengan sumpah Allah Subhanahu Wa Ta’ala, “Wal ‘Asr”. Beliau menafsirkan bahwa kata Al-‘Asr di sini berarti waktu atau masa. Allah bersumpah demi waktu untuk memberikan isyarat betapa agung dan berharganya nikmat waktu bagi manusia.
( وَالْعَصْرِ)
“Demi waktu (masa).” (QS. Al-‘Asr: 1)
Ustadz Agus menegaskan bahwa waktu ibarat sebuah wadah bagi amal perbuatan manusia. Dalam wadah tersebut, manusia bisa mengisinya dengan kebaikan (amal shalih) atau justru sebaliknya, mengisinya dengan keburukan. Oleh karena itu, waktu memiliki peran yang sangat krusial dalam menentukan nasib manusia di dunia dan akhirat.
Empat Golongan yang Tidak Merugi
Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa seluruh manusia pada dasarnya berada dalam kerugian, baik di dunia maupun di akhirat, jika mereka menyia-nyiakan waktu yang dimilikinya. Kerugian ini, lanjutnya, bukan hanya soal kehilangan harta, melainkan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan surga dan rahmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Namun, Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan pengecualian kepada empat golongan manusia yang tidak akan merugi. Keempat golongan tersebut sebagaimana disebutkan dalam lanjutan Surat Al-‘Asr ayat 2 dan 3:
( إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ)
“Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 2-3)
Ustadz Agus merinci empat golongan tersebut secara jelas:
- Beriman: Memiliki keyakinan yang kokoh kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan hari akhir.
- Beramal Shalih: Melakukan perbuatan baik yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
- Saling Menasihati dalam Kebenaran: Saling mengingatkan dalam kebaikan dan menjauhi kemungkaran.
- Saling Menasihati dalam Kesabaran: Saling menguatkan dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup.

Kesimpulan: Waktu Tak Akan Kembali
Di akhir paparannya, Ustadz Agus Wahid menyimpulkan bahwa waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa kembali lagi. Setiap detik yang terlewat tidak akan bisa ditarik ulang. Oleh karena itu, beliau mengajak seluruh jamaah untuk melakukan evaluasi diri dan memperbaiki cara pengelolaan waktu (manajemen waktu) ke arah yang lebih baik.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang mengingatkan tentang pentingnya memanfaatkan waktu luang sebelum datangnya kesibukan, dan waktu sehat sebelum datangnya sakit.
( نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ)
“Dua nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Acara ditutup dengan doa. Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kesambi berharap, melalui pengajian ini, jamaah dapat menjadikan Surat Al-‘Asr sebagai pedoman hidup dalam mengisi waktu sehari-hari, sehingga tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. (*)
Peliput : Muryanto


Tinggalkan Balasan