PIMPINAN Cabang Muhammadiyah (PCM) Kesambi Kota Cirebon menggelar Pengajian Ahad Pagi pada Ahad, 27 September 2026. Pengajian rutin ini menghadirkan Ustadz Dr. H. Muchlis, M.Pd.I. sebagai penceramah dengan tema tafsir Surah Fathir ayat 29, mengulas ciri-ciri hamba Allah yang “bisnisnya” tidak pernah bangkrut.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Muchlis menjelaskan bahwa Surah Fathir ayat 29 menggambarkan tiga ciri utama hamba Allah yang mengharapkan tijaratan lan tabur, yakni perdagangan yang tidak akan pernah rugi. Ketiga ciri tersebut adalah gemar mendawamkan bacaan Al-Qur’an, menegakkan salat dengan benar, serta menginfakkan sebagian harta di jalan Allah.

Ciri Pertama: Mendawamkan Bacaan Al-Qur’an
Ustadz Muchlis menekankan bahwa membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan huruf-hurufnya, melainkan juga mempelajari maknanya, meyakini ajarannya, mengamalkannya, serta menjauhi larangan-Nya.
Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan yang indah antara mukmin yang membaca Al-Qur’an dan yang tidak membacanya:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ
Matsalul-mu’minilladzī yaqra’ul-Qur’āna matsalul-utrujjah, rīḥuhā ṭayyibun wa ṭa‘muhā ṭayyib, wa matsalul-mu’minilladzī lā yaqra’ul-Qur’āna matsalut-tamrah, lā rīḥa lahā wa ṭa‘muhā ḥulw
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujjah (sejenis jeruk); aromanya harum dan rasanya enak. Perumpamaan mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah kurma; tidak memiliki aroma tetapi rasanya manis.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menurut Ustadz Muchlis, perumpamaan ini menunjukkan bahwa mukmin yang gemar membaca Al-Qur’an memiliki “nilai tambah” berupa cahaya dan keberkahan yang terpancar dari dirinya, sebagaimana wanginya buah utrujjah yang dapat dicium oleh orang di sekitarnya.
Ciri Kedua: Menegakkan Salat dengan Benar, Ikhlas, dan Khusyuk
Ciri kedua yang disebutkan dalam Surah Fathir ayat 29 adalah wa aqāmush-ṣalāta, yakni menegakkan salat. Ustadz Muchlis menegaskan bahwa salat yang dimaksud bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan mengerjakannya tepat waktu, dengan cara yang benar sesuai tuntunan, dilandasi keikhlasan, dan penuh kekhusyukan.
Hal ini berkaitan erat dengan perintah Allah dalam Surah Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Wabtaghi fīmā ātākallāhud-dāral-ākhirata wa lā tansa naṣībaka minad-dun-yā wa aḥsin kamā aḥsanallāhu ilaika wa lā tabghil-fasāda fil-arḍ, innallāha lā yuḥibbul-mufsidīn
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ustadz Muchlis menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan keseimbangan hidup: seorang Muslim diperintahkan untuk mencari bekal akhirat melalui harta yang dimilikinya, namun tidak melupakan bagiannya dari kenikmatan dunia yang halal. Inilah yang dimaksud dengan aḥsin kamā aḥsanallāhu ilaika—berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.

Ciri Ketiga: Menginfakkan Harta di Jalan Allah
Ciri ketiga yang disebutkan dalam Surah Fathir ayat 29 adalah wa anfaqū mimmā razaqnāhum sirraw wa ‘alāniyah, yakni menginfakkan sebagian rezeki yang Allah anugerahkan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan.
Ustadz Muchlis menekankan bahwa infak tersebut harus semata-mata mengharap rida Allah, tanpa riya, dan tanpa berlebihan. Inilah yang membedakan infak seorang mukmin sejati dengan sekadar pamer kebaikan.
Surah Fathir Ayat 29: Perniagaan yang Tak Akan Rugi
Ayat yang menjadi tema utama pengajian ini berbunyi:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
Innalladzīna yatlūna kitāballāhi wa aqāmush-ṣalāta wa anfaqū mimmā razaqnāhum sirraw wa ‘alāniyatan yarjūna tijāratan lan tabūr
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah (Al-Qur’an), menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.” (QS. Fathir: 29)
Menurut Tafsir Kementerian Agama, yang dimaksud dengan “perniagaan yang tak pernah merugi” adalah surga yang tidak akan rusak selamanya. Mereka yang memenuhi ketiga ciri tersebut ibarat pedagang yang tidak hanya terhindar dari kerugian, tetapi juga memperoleh pahala yang berlipat ganda sebagai karunia Allah.
Penutup
Pengajian Ahad Pagi di PCM Kesambi ini dihadiri oleh jamaah yang antusias menyimak tausiyah Ustadz Dr. H. Muchlis. Pesan utama yang disampaikan adalah bahwa tiga amal utama—membaca dan mengamalkan Al-Qur’an, menegakkan salat dengan benar, serta berinfak ikhlas—merupakan “investasi” yang tidak akan pernah bangkrut. Inilah perdagangan sejati yang keuntungannya telah dijamin oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. (*)
Peliput: Muryanto dan Tim Media PCM Kesambi


Tinggalkan Balasan