MAJALENGKA, 6 Maret 2026 – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) menggelar kegiatan Ramadhan bagi dosen dan staf di Hotel Metland Kertajati, Majalengka, Jumat (6/3/2026). Acara yang bertujuan mempererat tali silaturahim dan memperkuat ukhuwah Islamiah ini menghadirkan penceramah Ustadz KH Hevy Febriansyah, S.E., M.M.
Kegiatan yang dikemas dalam suasana berbeda ini dihadiri oleh jajaran pimpinan FEB UMC, antara lain Wakil Rektor I, Dr. Badawi, S.E., M.Si., Dekan Dr. Asep Gunawan, M.Si., CHRA, Wakil Dekan Dr. Ali Jufrie, S.E., M.M., Kaprodi Manajemen Puspa Dewi Yulianti, S.Pd., M.M., CBSA, serta Kaprodi Akuntansi H.M. Taufik Azis, S.E., Bu.M.Si., Ak., C.A. Acara dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama untuk menambah keakraban antar civitas akademika.

Sambutan Dekan: Target Akreditasi Unggul
Dalam sambutannya, Dekan FEB UMC, Dr. Asep Gunawan, M.Si., CHRA , menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan menjelang semester genap. Ia juga mengungkapkan target besar yang tengah dihadapi fakultas.
“Kita sedang mempersiapkan semester genap. Sebentar lagi Program Studi Manajemen akan melaksanakan asesmen lapangan. Kami menargetkan akreditasi unggul. Doakan dan dukunglah bersama agar kita bisa meraih prestasi tersebut,” ujar Dr. Asep Gunawan di hadapan para dosen dan staf.

Ramadhan: Rajanya Bulan, Bulan Obral Pahala
Memasuki tausiyah, Ustadz KH Hevy Febriansyah, S.E., M.M., mengawali dengan menjelaskan keistimewaan Ramadhan sebagai “rajanya bulan” (sayyidusy syuhur). Beliau mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan keutamaan bulan Ramadhan dibanding bulan-bulan lainnya.
“Kita masih dipertemukan di antara raja bulan, yaitu bulan Ramadhan. Kenapa Ramadhan disebut rajanya bulan? Karena di bulan inilah pahala dilipatgandakan, dosa-dosa diampuni, dan setan-setan dibelenggu. Ramadhan menjadi bulan obral pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” papar Ustadz Hevy.
Beliau mengingatkan bahwa dipertemukan kembali dengan Ramadhan adalah tanda bahwa kita belum siap menghadap Allah, sehingga diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Bahkan, ada sebagian ulama yang berangan-angan agar semua bulan menjadi Ramadhan karena begitu besarnya keutamaan di dalamnya.

Lima Golongan yang Merugi di Bulan Ramadhan
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Hevy memaparkan lima golongan orang yang merugi di bulan Ramadhan, berdasarkan hadits dan nasihat para ulama:
1. Orang yang Puasa Hanya Mendapat Lapar dan Haus
Golongan pertama adalah mereka yang menjalankan puasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan haus. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah)
“Mereka menahan makan dan minum, namun tidak menahan diri dari maksiat, dusta, dan perbuatan sia-sia. Puasa mereka hanya sebatas fisik, tanpa menyentuh jiwa,” jelas Ustadz Hevy.
2. Orang yang Lupa Bahwa Kematian Pasti Datang
Golongan kedua adalah mereka yang menjalani Ramadhan dengan lalai, seolah-olah mereka akan hidup selamanya. Padahal, yang pasti bagi setiap manusia hanyalah satu: kematian.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ‘Imran: 185)
“Mereka sibuk dengan urusan dunia, lupa mempersiapkan bekal untuk akhirat. Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan bekas dalam jiwa mereka,” ungkap Ustadz Hevy.
3. Orang yang Sibuk Persiapan Hari Raya dengan Sombong
Golongan ketiga adalah mereka yang terlalu sibuk mempersiapkan hari raya, namun lalai dalam beribadah. Yang lebih parah, persiapan itu dilakukan dengan sikap sombong.
Ustadz Hevy menjelaskan empat ciri orang sombong yang perlu dihindari:
- Menolak kebenaran ketika datang kepadanya
- Meremehkan orang lain
- Bangga dengan diri sendiri secara berlebihan
- Tidak mau menerima nasihat
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (HR. Muslim)
4. Orang yang Bertemu Ramadhan tetapi Tidak Menyentuh Al-Qur’an
Golongan keempat adalah mereka yang melewati Ramadhan tanpa membaca, merenungkan, atau mengamalkan Al-Qur’an. Padahal, Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
“Setiap huruf yang dibaca dari Al-Qur’an bernilai sepuluh kebaikan. Sungguh rugi orang yang melewatkan Ramadhan tanpa menyentuh Al-Qur’an,” tegas Ustadz Hevy.
5. Orang yang Bertemu Ramadhan tetapi Tetap Kikir
Golongan kelima adalah mereka yang memiliki kesempatan beramal di bulan mulia, namun tetap kikir dan enggan bersedekah. Padahal, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah manusia paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
“Di bulan yang penuh kemurahan ini, jangan biarkan sifat kikir menguasai hati. Perbanyak sedekah, berbagi takjil, dan bantu sesama. Karena sedekah di bulan Ramadhan pahalanya berlipat ganda,” pesan Ustadz Hevy.

Hikmah dan Penutup
Ustadz Hevy mengajak seluruh dosen dan staf FEB UMC untuk tidak termasuk dalam lima golongan yang merugi tersebut. Ia berharap Ramadhan kali ini benar-benar menjadi momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik.
“Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai madrasah kehidupan. Perbanyak ibadah, perbanyak sedekah, perbanyak membaca Al-Qur’an, dan jaga lisan dari perkataan sia-sia. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, bukan yang merugi,” pungkasnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama yang semakin mempererat tali silaturahim antar seluruh civitas akademika FEB UMC. Suasana kebersamaan dan kekeluargaan terasa kental dalam acara yang berlangsung penuh berkah ini.


Tinggalkan Balasan