MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar Pengajian Reboan pada Rabu, 21 Oktober 2026. Kajian rutin ini menghadirkan Ustadz H. Dedi Ahyadi sebagai penceramah dengan mengangkat tema “Kisah Nabi Yunus”, yang sarat akan pelajaran tentang taubat, kesabaran, serta keutamaan ilmu.
Suasana pengajian berlangsung khusyuk sejak ba’da Maghrib sampai menjelang waktu Isya. Jamaah yang hadir terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh masyarakat, anggota Muhammadiyah, hingga jamaah muda, tampak antusias menyimak penjelasan yang disampaikan dengan gaya komunikatif dan mendalam.

Taubat Kaum Yunus dan Keutamaan Ilmu
Dalam paparannya, Ustadz Dedi Ahyadi mengawali pembahasan dengan kisah kaum Nabi Yunus yang diselamatkan dari azab setelah mereka beriman. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus ayat 98:
فَلَوْلَا كَانَتْ قَرْيَةٌ ءَامَنَتْ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوْمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُوا۟ كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَابَ ٱلْخِزْىِ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَمَتَّعْنَٰهُمْ إِلَىٰ حِينٍ
“Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu.”
Ustadz Dedi juga menyinggung keistimewaan orang yang menuntut ilmu. Beliau menyampaikan hadis yang diriwayatkan dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانِ فِي الْبَحْرِ
“Sesungguhnya penghuni langit dan bumi benar-benar memohonkan ampunan untuk orang yang berilmu, hingga ikan-ikan yang ada di laut.”

Doa Nabi Yunus dan Pertolongan Allah
Memasuki inti kajian, Ustadz Dedi membacakan rangkaian ayat yang mengisahkan perjalanan Nabi Yunus, termasuk saat beliau berada dalam perut ikan. Allah berfirman dalam QS. Al-Anbiya’ ayat 87-88:
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ ۞ فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ
“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: ‘Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”
Ustadz Dedi menjelaskan bahwa doa La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minaz-zalimin merupakan bentuk pengakuan atas keesaan Allah sekaligus penyesalan atas kesalahan diri sendiri. Doa inilah yang menjadi kunci terlepasnya Nabi Yunus dari kegelapan bertingkat: gelapnya perut ikan, gelapnya dasar laut, dan gelapnya malam.

Pohon Labu dan Pertolongan Allah
Lebih lanjut, dikisahkan bahwa setelah ikan besar memuntahkan Nabi Yunus ke tepi pantai, Allah menumbuhkan pohon labu (yaqtin) untuk menaungi tubuh beliau yang lemah. Hal ini termaktub dalam QS. As-Saffat ayat 145-146:
فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ ۞ وَأَنْبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِنْ يَقْطِينٍ
“Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan Kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu.”
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Dedi juga mengutip QS. Al-Qalam ayat 48-50 sebagai penegasan tentang kesabaran Nabi Yunus dan pertolongan Allah yang selalu menyertai hamba-Nya yang bertakwa. Beliau menambahkan bahwa dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Allah mendatangkan kambing bagi Nabi Yunus agar beliau dapat bertahan hidup dengan memanfaatkan air susunya, sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang telah bertaubat.
Ustadz Dedi juga mengajak para jamaah untuk senantiasa berzikir, beristigfar, dan berdoa, tidak hanya saat dalam kesulitan, tetapi juga dalam kondisi lapang. Pengajian Reboan ini ditutup dengan doa bersama dan pesan agar jamaah senantiasa meneladani kesabaran serta taubat Nabi Yunus, serta tidak pernah berhenti menuntut ilmu karena keutamaannya yang begitu besar. (*)
Peliput: Dakum


Kirim Tanggapan