CIREBON, muhammadiyahciko — Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) terus meneguhkan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya mengedepankan keunggulan akademik, tetapi juga nilai-nilai keislaman yang mendalam. Hal ini diwujudkan melalui pengarusutamaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang menjadi ruh, identitas, dan pembeda utama UMC di tengah dinamika perguruan tinggi nasional. Sebagaimana disampaikan oleh Wakil Rektor III UMC, Dr. Bagus Nurul Iman, M.Pd., pada acara Perkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, AIK bukan sekadar mata kuliah wajib, melainkan fondasi utama untuk melahirkan generasi unggul yang cerdas secara intelektual dan kokoh secara spiritual.

AIK sebagai Manifestasi Dakwah dan Tajdid
Pengarusutamaan AIK di UMC merupakan manifestasi nyata dari gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid di bidang pendidikan. Visi besar ini sejalan dengan misi UMC untuk mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai luhur Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dr. Bagus Nurul Iman menegaskan bahwa AIK berfungsi sebagai benteng bagi civitas akademika dari krisis moral, sekularisme, dan radikalisme, sekaligus menjadi jangkar utama pembentukan karakter bangsa. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Ayat ini menjadi landasan bagi UMC untuk mendidik mahasiswa agar senantiasa introspektif dan mempersiapkan masa depan dengan bekal iman dan ilmu pengetahuan.

Internalisasi AIK melalui Kurikulum, Kultur, dan Kaderisasi
Dr. Bagus Nurul Iman memaparkan bahwa internalisasi AIK di UMC dilakukan melalui beberapa strategi terintegrasi. Pertama, melalui sistem kurikulum yang mewajibkan mata kuliah AIK bagi seluruh mahasiswa di semua program studi. Kurikulum ini dirancang secara berjenjang, mulai dari AIK I yang membahas Kemanusiaan dan Keimanan, AIK II tentang Ibadah, Akhlak, dan Muamalah sesuai Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah, AIK III tentang Kemuhammadiyahan, hingga AIK IV yang mengintegrasikan Islam dan ilmu pengetahuan sesuai dengan program studi masing-masing.

Kedua, melalui penciptaan kultur kampus yang religius. UMC secara aktif menggerakkan salat berjamaah, tadarus Al-Qur’an, dan penerapan busana muslimah sebagai wujud nyata atmosfer Islami di kampus. Bahkan, aktivitas perkuliahan dijeda sejenak ketika azan berkumandang untuk mengutamakan salat berjamaah. Kebijakan ini mencerminkan hadis Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ، أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ»
“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda: ‘Barang siapa yang pergi ke masjid pada pagi atau sore hari, maka Allah akan menyediakan baginya tempat tinggal di surga setiap kali ia pergi pada pagi atau sore hari.’” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, melalui kaderisasi formal seperti Baitul Arqam dan Darul Arqam bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk cara berpikir, sikap, dan komitmen yang sama terhadap ideologi serta perjuangan Muhammadiyah.

Kekuatan Sumber Daya Manusia Pengampu AIK
Keberhasilan pengarusutamaan AIK tidak lepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki UMC. Dr. Bagus Nurul Iman menyoroti bahwa sebaran dosen AIK di UMC dikelola secara profesional. UMC memiliki dosen spesialis keagamaan yang linear dan kompeten dalam mengampu aspek hukum dan teologi. Lebih dari itu, dosen program studi umum seperti Teknik, Ekonomi, dan Hukum juga wajib mengikuti pelatihan sertifikasi AIK untuk mendukung Islam-based lecturing. Hal ini memastikan bahwa setiap dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai uswah hasanah (teladan) dalam perilaku Islami di dalam dan luar kelas.

UMC sebagai Manifestasi Kampus Islami yang Berkemajuan
Komitmen UMC dalam membangun kampus Islami yang berkemajuan juga tercermin dalam berbagai aspek kehidupan kampus. Masjid kampus yang representatif dioptimalkan sebagai pusat kegiatan spiritual dan intelektual. Selain itu, UMC menerapkan Islamic Code of Conduct yang mengatur etika perilaku dan busana bagi seluruh sivitas akademika. Di bidang pengabdian masyarakat, UMC aktif turun ke ranting dan cabang Muhammadiyah di wilayah Cirebon untuk melakukan pemberdayaan umat, sejalan dengan spirit rahmatan lil ‘alamin.

Dr. Bagus Nurul Iman menegaskan bahwa sinergi antara kurikulum yang matang, kompetensi dosen yang mumpuni, dan ekosistem kampus yang Islami menjadi kunci keberlanjutan dakwah UMC. “Muhammadiyah bukanlah sekadar organisasi, ia adalah gerakan moral dan intelektual untuk menampilkan wajah Islam yang riil, konkret, dan mencerahkan,” pungkasnya.
Dengan pengarusutamaan AIK yang holistik, UMC optimis dapat mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga mantap spiritual, serta siap menghadapi tantangan global dengan nilai-nilai profetik. (*)


Tinggalkan Balasan