CIREBON – Ahad, 14 Juni 2026. Puncak peringatan Milad ke-109 ‘Aisyiyah berlangsung khidmat melalui Pengajian Akbar yang diselenggarakan di Gedung Dakwah PDM Kota Cirebon. Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan, Mewujudkan Perdamaian”, acara ini menjadi momentum bagi perempuan berkemajuan untuk meneguhkan peran strategisnya dalam membangun peradaban yang penuh kasih sayang dan keadilan.
Turut hadir memberikan sambutan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Cirebon, Drs. Puji Nirmo, serta Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Cirebon, Retno Kuntjorowati, S.Pd. Adapun tausiah utama disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Barat, Dr. Muthiah Umar, M.Si.

Sambutan: ‘Aisyiyah sebagai Pilar Perdamaian
Dalam sambutannya, Drs. Puji Nirmo mengapresiasi kontribusi ‘Aisyiyah yang terus bergerak di garis depan dakwah kemanusiaan. Beliau menyatakan bahwa perdamaian tidak hanya terletak pada tidak adanya konflik, tetapi pada hadirnya keadilan dan rasa aman bagi seluruh umat.
Sementara itu, Retno Kuntjorowati, S.Pd., menegaskan bahwa keluarga adalah fondasi utama peradaban. “Anak belajar perdamaian pertama kali dari cara orang tua berbicara,” ujarnya. ‘Aisyiyah Kota Cirebon berkomitmen untuk terus menguatkan pendidikan perempuan, keselamatan ibu dan anak, serta ekonomi keluarga.

Tausiah: Mandat Peradaban dalam Al-Qur’an
Dr. Muthiah Umar, M.Si., dalam ceramahnya mengawali dengan menjelaskan mandat peradaban dalam Al-Qur’an yang menjadi landasan dakwah ‘Aisyiyah. Beliau mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” (Q.S. Al-Baqarah: 30)
Menurutnya, kekhalifahan menuntut tanggung jawab untuk mewariskan bumi dengan rasa aman, menebar rahmat, dan menegakkan ketakwaan. Beliau juga menegaskan bahwa dakwah sejati bukan sekadar kata-kata di mimbar, melainkan tindakan nyata berupa tutur kata lembut kepada anak, mendengar keluhan tetangga, dan menjaga lingkungan.

Menjaga Martabat di Era Digital
Memasuki era disrupsi digital, Dr. Muthiah mengingatkan pentingnya menjaga martabat sebagai bentuk pengamalan Q.S. Al-Isra’ ayat 70:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (Q.S. Al-Isra’: 70)
Beliau mengajak ‘Aisyiyah untuk menjaga lisan dari kekerasan verbal, menjaga jari dengan literasi digital, serta menjaga diri agar menjadi peneduh ruang digital yang sehat. “Manusia cenderung meniru lingkungan emosionalnya. Jika amarah dipelihara, akan lahir masyarakat pemarah yang berujung konflik. Sebaliknya, jika kasih sayang ditumbuhkan, akan lahir empati dan perdamaian,” jelasnya.

Dakwah Kemanusiaan Melalui Ekosistem Amal Usaha
Dr. Muthiah memaparkan bahwa ruang dakwah sesungguhnya adalah ekosistem amal usaha ‘Aisyiyah yang melampaui mimbar masjid, meliputi:
- Pendidikan & Literasi: dari PAUD hingga universitas, Kulliyatul Muballighat, literasi digital, dan sekolah wirausaha.
- Kesehatan & Perawatan: rumah sakit, klinik kesehatan, day care balita dan lansia.
- Pelayanan Sosial & Advokasi: BIKKSA, Posbakum, GACA & OLHA, serta permulasaran jenazah.

Perdamaian Aktif dan Berkeadilan
Mengutip Q.S. Al-Ma’idah ayat 8, beliau menyampaikan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak karena Allah, menjadi saksi dengan adil.” (Q.S. Al-Ma’idah: 8)
‘Aisyiyah didorong untuk mewujudkan perdamaian aktif melalui keadilan sosial, kebersepikan (membela yang lemah), perlindungan hak perempuan dan anak, serta kepedulian pada fakir miskin.

Penutup: Mata Air Ketenangan di Dunia yang Bising
Di akhir tausiah, Dr. Muthiah menegaskan bahwa dunia modern mengalami kelelahan sosial: polarisasi, perang opini, krisis empati, dan konflik identitas. ‘Aisyiyah hadir sebagai mata air ketenangan dengan cetak biru perempuan berkemajuan: menyejukkan, mencerdaskan, memberdayakan, dan memanusiakan.
Acara ditutup dengan doa bersama dan harapan agar Milad ke-109 ‘Aisyiyah menjadi energi baru bagi Indonesia yang berkeadaban. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (H.R. Ahmad)
Selamat Milad ke-109 ‘Aisyiyah. Teruslah menjadi mata air kemanfaatan bagi semesta.
Peliput : Efa Nz dan Tim Media PDA Kota Cirebon


Tinggalkan Balasan