Tarawih Malam ke-17 di Masjid UMADA: Ustadz Ahmad Nurjanah Paparkan Bahaya Istidraj, Azab yang Disangka Nikmat

CIREBON, 5 Maret 2026 – Masjid Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMADA) Kampus Jalan Walet, Cirebon, dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-17 Ramadhan 1447 H, Kamis (5/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan kultum yang sangat menggugah kesadaran dengan tema “Istidraj: Azab yang Disangka Nikmat” .

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang fenomena mengerikan di mana seseorang diberikan kelapangan hidup dan kenikmatan duniawi justru ketika ia tenggelam dalam kemaksiatan.


Pengertian Istidraj

Ustadz Ahmad Nurjanah mengawali kultum dengan menjelaskan pengertian istidraj secara etimologi dan terminologi. Kata istidraj berasal dari bahasa Arab daraja yang berarti naik satu tingkatan ke tingkatan berikutnya. Namun dalam istilah syariat, istidraj lebih dikenal sebagai azab yang berupa kenikmatan.

“Istidraj adalah ketika Allah memberikan kelapangan rezeki, kesehatan, dan kenikmatan duniawi kepada seseorang yang justru terus bergelimang dosa dan maksiat. Ia merasa diberi nikmat, padahal sejatinya ia sedang diuji dan secara perlahan digiring menuju kebinasaan,” papar Ustadz Ahmad.


Landasan Al-Qur’an: Surat Al-An’am Ayat 44

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Ahmad mengutip firman Allah dalam QS. Al-An’am ayat 44 yang menjadi landasan utama tentang istidraj:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

“Perhatikanlah ayat ini, jamaah sekalian. Allah membukakan pintu kesenangan, bukan sebagai penghargaan, tetapi sebagai bentuk ujian. Ketika mereka lalai dan bergembira dengan nikmat itu, tiba-tiba Allah mencabut semuanya. Mereka pun terdiam putus asa. Inilah hakikat istidraj,” jelas Ustadz Ahmad.


Landasan Hadits tentang Istidraj

Ustadz Ahmad juga mengutip hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba apa yang ia sukai dari (perkara) dunia, sementara ia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, hasan)

“Hadits ini sangat jelas. Nikmat dunia yang mengalir deras pada seseorang yang terus bermaksiat bukanlah tanda cinta Allah, melainkan peringatan dan jebakan. Allah membiarkannya tenggelam dalam kesenangan semu, lalu menghukumnya ketika ia paling lalai,” tegas Ustadz Ahmad.


Contoh-Contoh Istidraj dalam Kehidupan Sehari-hari

Ustadz Ahmad kemudian memaparkan berbagai contoh istidraj yang sering terjadi di sekitar kita, sebagai bahan muhasabah dan introspeksi diri:

Contoh Istidraj Harta yang berlimpah, padahal orangnya tidak pernah bersedekah. Rezeki berlipat ganda, padahal jarang shalat, tidak senang pada nasihat ulama, dan terus berbuat maksiat. Dikagumi dan dihormati, padahal akhlaknya tidak baik. Diikuti, diteladani, dan diidolakan, padahal bangga mengumbar aurat dalam berpakaian. Sangat jarang diuji sakit, padahal dosa-dosanya menggunung. Tidak pernah diberikan musibah, padahal gaya hidupnya sombong, angkuh, dan meremehkan orang lain. Anak-anak sehat dan cerdas, padahal diberi makan dari harta hasil yang haram (menipu, korupsi, riba, dll). Hidup bahagia penuh canda tawa, padahal banyak orang ternoda dan terluka karenanya. Kariernya terus melejit naik, padahal banyak hak orang yang diinjak-injak. Semakin tua semakin makmur, padahal berkubang dosa sepanjang umur

“Jangan silau dengan kesuksesan dan kemegahan yang ditampilkan seseorang. Bisa jadi dia sedang mengalami istidraj. Pada saatnya nanti, Allah tiba-tiba mencabut semua kenikmatan itu tanpa ia sadari,” pesan Ustadz Ahmad.


Ujian dan Cobaan: Tanda Kasih Sayang Allah

Sebaliknya, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa sebagai orang beriman yang dikasihi Allah, kita justru akan selalu dijaga dari kemaksiatan dan tidak dibiarkan terlena dalam kesesatan. Jika kita sudah beramal saleh namun masih diberi ujian dan cobaan, itulah tanda kasih sayang Allah.

“Kalau kita sudah beramal saleh, namun kita masih diberi ujian atau cobaan, maka itulah tanda kasih sayang Allah pada hamba-hamba-Nya. Ujian itu menjadi keringanan dosa dan jalan menuju ampunan-Nya,” jelasnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

“Barangsiapa yang dikehendaki Allah menjadi baik, maka Allah akan menimpakan cobaan kepadanya.” (HR. Bukhari)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 155:

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan ujian kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)


Ciri Orang yang Mendapat Istidraj

Ustadz Ahmad menjelaskan beberapa ciri orang yang mungkin sedang mengalami istidraj:

  1. Tidak pernah merasa berdosa meskipun terus bermaksiat
  2. Semakin bertambah nikmat, semakin bertambah maksiatnya
  3. Merasa aman dari azab Allah dan tidak pernah takut akan siksa-Nya
  4. Menganggap remeh peringatan dan nasihat ulama
  5. Bangga dengan kemaksiatan yang dilakukannya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Apakah mereka merasa aman dari siksa Allah? Tidak ada yang merasa aman dari siksa Allah selain orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99)


Penutup: Muhasabah di Sisa Ramadhan

Menutup kultum, Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri) di sisa Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.

“Marilah kita introspeksi diri. Apakah nikmat yang kita terima selama ini membuat kita semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh? Apakah kita termasuk orang yang diistidraj atau orang yang diuji karena kasih sayang-Nya? Perbanyak istigfar, perbanyak taubat, dan perbanyak syukur. Semoga Allah melindungi kita dari istidraj dan menjadikan setiap nikmat yang kita terima sebagai sarana mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam ke-17 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang bahaya istidraj, serta pentingnya senantiasa introspeksi diri agar tidak terjebak dalam nikmat semu yang justru menjadi azab.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *