CIREBON, 13 Maret 2026 – Masjid Annur Sangkana Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-25 Ramadhan 1447 H, Jumat (13/3/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Harjamukti, Ustadz Yandi Heryandi, M.Pd., menyampaikan kultum yang mengajak jamaah untuk melakukan refleksi di penghujung Ramadhan, serta mengaitkan ketakwaan dengan kepedulian sosial.
Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang menyentuh hati tentang pentingnya menjadikan puasa sebagai sarana meningkatkan kepekaan terhadap sesama.
Separuh Akhir Ramadhan: Saatnya Refleksi Diri
Ustadz Yandi Heryandi mengawali kultum dengan mengingatkan bahwa waktu berlalu begitu cepat. Kita telah memasuki separuh akhir bulan Ramadhan, bahkan hampir memasuki penghujungnya. Kesempatan untuk beribadah di bulan mulia ini belum tentu terulang kembali di tahun depan.
“Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita menyambut Ramadhan dengan suka cita, kini kita sudah berada di malam ke-25. Maka sudahkah kita melakukan refleksi? Sudah sejauh mana puasa yang kita jalani mampu membentuk pribadi yang lebih peduli dan peka, serta lebih ringan tangan dalam membantu sesama?” tanya Ustadz Yandi.
Beliau mengajak jamaah untuk bertanya pada diri sendiri: “Sudah sejauh mana puasa yang kita jalani dapat meningkatkan ketakwaan, dan sejauh mana ketakwaan itu bisa meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama?”
Takwa Sejati: Antara Ibadah Ritual dan Kepedulian Sosial
Memasuki inti pembahasan, Ustadz Yandi menegaskan bahwa takwa tidak hanya bermakna rajin shalat dan rajin berpuasa. Lebih dari itu, takwa juga berarti peka terhadap penderitaan orang lain, ringan tangan untuk membantu, dan tidak pernah merasa cukup beribadah sebelum mampu berbagi kebahagiaan dengan sesama.
Berkaitan dengan hal ini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 177:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi; dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, peminta-minta, dan (untuk memerdekakan) hamba sahaya; yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; orang-orang yang menepati janji apabila berjanji; dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)
“Perhatikanlah ayat ini, jamaah sekalian. Ayat ini menjelaskan bahwa kebajikan yang hakiki dan takwa yang sejati bukan sekadar ritual menghadap ke timur atau barat dalam shalat. Lebih dari itu, takwa mencakup keimanan yang kokoh dan diwujudkan dalam aksi nyata: memberikan harta yang dicintai kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, dan mereka yang membutuhkan. Takwa juga berarti menepati janji dan sabar dalam berbagai kesulitan. Inilah profil orang yang benar-benar bertakwa,” jelas Ustadz Yandi.
Refleksi di Sisa Ramadhan: Sudahkah Kita Berbagi?
Ustadz Yandi mengajak jamaah untuk melakukan refleksi mendalam di sisa Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi.
“Mari kita lakukan refleksi atas puasa yang sudah kita jalani. Sudahkah hal itu mampu meningkatkan ketakwaan kita sehingga muncul rasa peduli dan ringan tangan membantu sesama? Jika sudah, mari kita teruskan kebiasaan baik ini, tingkatkan lagi amal sosial kita, dan jadikan sebagai bagian dari karakter iman kita. Tetapi jika belum, mari mulai sejak saat ini, untuk lebih peduli dan berbagi kepada mereka yang membutuhkan.”
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah teladan terbaik dalam hal kepedulian sosial. Ibnu Abbas RA meriwayatkan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ
“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari & Muslim)
“Jika Rasulullah yang telah dijamin surga saja begitu dermawan, apalagi kita yang masih bergelimang dosa. Maka perbanyaklah sedekah, terutama di sepuluh hari terakhir Ramadhan ini,” ajak Ustadz Yandi.
Keutamaan Sedekah di Bulan Ramadhan
Ustadz Yandi mengingatkan keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Barangsiapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
“Subhanallah, betapa besar peluang meraih pahala di bulan ini. Dengan berbagi takjil, memberi makanan berbuka, atau bersedekah kepada fakir miskin, kita bisa meraih pahala berlipat ganda. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini,” pesannya.
Penutup: Takwa Sejati Lahir dari Hati yang Tulus dan Tindakan Nyata
Menutup kultum, Ustadz Yandi Heryandi mengajak jamaah untuk menjadikan sisa Ramadhan sebagai momentum meningkatkan kepedulian sosial.
“Karena sesungguhnya, ketakwaan yang sejati akan lahir dari hati yang tulus dan tindakan nyata. Dan itulah yang akan menuntun kita menjadi pribadi yang benar-benar bertakwa dan diridhai Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya di atas. Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai titik balik untuk menjadi pribadi yang lebih peduli, lebih peka, dan lebih ringan tangan membantu sesama. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Aamiin,” pungkasnya.
Salat Tarawih malam ke-25 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan terharu, tersentuh oleh ajakan untuk merefleksikan diri dan meningkatkan kepedulian sosial di penghujung Ramadhan.


Tinggalkan Balasan ke Fahyudin Batalkan balasan