Tarawih Malam ke-26 di Masjid Santun: Ustadz Sunarya Ajak Jamaah Persiapkan Bekal Akhirat Seperti Persiapan Mudik

CIREBON, 14 Maret 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam ke-26 Ramadhan 1447 H, Sabtu (14/3/2026). Memasuki sepuluh malam terakhir, semangat ibadah jamaah semakin meningkat untuk meraih Lailatul Qadar. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Sunarya, M.M., menyampaikan kultum yang menggugah dengan tema “Mempersiapkan Bekal untuk Akhirat” .

Jamaah tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengajak untuk merenungkan hakikat kehidupan dan pentingnya bekal menuju kampung akhirat.


Analogi Mudik: Persiapan Bekal Dunia dan Akhirat

Ustadz Sunarya mengawali kultum dengan analogi yang dekat dengan kehidupan masyarakat. “Orang mudik pasti mempersiapkan bekal jauh-jauh hari. Mereka menyiapkan uang, kendaraan, oleh-oleh, dan segala keperluan agar perjalanan lancar dan sampai tujuan dengan selamat. Pada dasarnya, kita juga sedang mempersiapkan ‘mudik’ yang sesungguhnya, yaitu perjalanan menuju kampung akhirat yang abadi,” paparnya.

Beliau mengajak jamaah untuk merenung: sudah sejauh mana kita mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah mati? Bekal apa yang paling utama untuk dibawa menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala?


Bekal Utama: Takwa

Bekal pertama dan paling utama adalah takwa. Ustadz Sunarya mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 197:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah: 197)

“Takwa adalah bekal yang tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah rusak. Ia adalah modal utama untuk menghadap Allah. Puasa Ramadhan ini adalah madrasah untuk melatih kita menjadi pribadi yang bertakwa,” jelas Ustadz Sunarya.

Beliau menjelaskan bahwa takwa mengatur seluruh pola hidup kita, dari bangun tidur hingga tidur kembali. “Shalat Subuh yang berat kita paksakan untuk bangun. Di siang hari kita dipaksa untuk tidak makan dan minum. Semua ini adalah latihan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa hidup ini harus dijalani sesuai aturan Allah. Inilah makna takwa dalam keseharian.”

Untuk memperkuat penjelasan, Ustadz Sunarya mengutip QS. Al-Mulk ayat 2:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)

“Hidup dan mati adalah ujian. Yang dinilai bukan sekadar banyaknya amal, tetapi kualitas dan keikhlasannya. Inilah yang harus kita kejar,” tegasnya.


Bekal Kedua: Cinta Taubat

Bekal kedua yang tak kalah penting adalah cinta taubat. Ustadz Sunarya mengingatkan bahwa manusia tidak luput dari dosa, tetapi pintu taubat selalu terbuka.

“Sampai tobatmu menutupi maksiatmu. Artinya, kita harus menjadikan taubat sebagai gaya hidup. Setiap kali berbuat salah, segera kembali kepada Allah. Jangan sampai dosa-dosa kecil yang terus-menerus dilakukan justru mengeras menjadi dosa besar,” paparnya.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari seratus kali.” (HR. Muslim)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)

“Di bulan Ramadhan ini, pintu taubat terbuka lebar. Jangan sia-siakan kesempatan emas ini untuk kembali kepada Allah dengan taubat nasuha,” ajak Ustadz Sunarya.


Madrasah Puasa: Guru, Kurikulum, Siswa, dan Capaian

Ustadz Sunarya kemudian menjelaskan konsep madrasah puasa sebagai sarana pendidikan spiritual yang komprehensif: Komponen Madrasah Penjelasan Guru Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam Kurikulum Al-Qur’an Siswa Kita, umat Islam yang menjalankan puasa Capaian Ikhlas, pembersihan hati, cinta Al-Ihsan

1. Ikhlas

Ikhlas adalah ruh dari setiap amal ibadah. Tanpa keikhlasan, puasa hanya menjadi ritual kosong tanpa nilai. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda dalam hadis qudsi:

قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman: ‘Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Bukhari & Muslim)

“Ini menunjukkan betapa istimewanya puasa. Karena itu, kita harus menjaga keikhlasan, jangan sampai puasa kita tercampuri riya atau keinginan dipuji manusia,” pesan Ustadz Sunarya.

2. Pembersihan Hati (Tazkiyatun Nafs)

Puasa melatih kita untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit seperti iri, dengki, sombong, dan cinta dunia berlebihan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

“Ramadhan adalah momentum terbaik untuk membersihkan hati. Jangan sampai kita keluar dari Ramadhan dengan hati yang masih kotor karena dosa dan maksiat,” tegasnya.

3. Cinta Al-Ihsan

Ihsan adalah puncak dari ibadah, yaitu beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya, dan jika tidak mampu, maka yakinlah bahwa Allah melihat kita. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, maka jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari & Muslim)

“Jika kita berhasil mencapai derajat ihsan, maka seluruh hidup kita akan terjaga. Kita akan selalu merasa diawasi Allah, sehingga terhindar dari perbuatan dosa,” jelas Ustadz Sunarya.


Penutup: Refleksi di Penghujung Ramadhan

Menutup kultum, Ustadz Sunarya mengajak jamaah untuk merenungkan sejauh mana madrasah Ramadhan telah membentuk pribadi mereka.

“Saudara-saudaraku, Ramadhan akan segera berlalu. Sudahkah kita meraih capaian-capaian madrasah ini? Apakah kita pulang dengan membawa takwa? Apakah kita semakin cinta taubat? Apakah hati kita semakin bersih? Apakah kita semakin mencintai ihsan? Mari kita jadikan sisa malam ini untuk terus meningkatkan kualitas ibadah dan memohon ampunan kepada Allah. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung dan meraih Lailatul Qadar. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam ke-26 berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan tentang pentingnya mempersiapkan bekal akhirat seperti persiapan mudik, serta termotivasi untuk meraih capaian madrasah Ramadhan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan ke Yandi Heryandi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Satu tanggapan untuk “Tarawih Malam ke-26 di Masjid Santun: Ustadz Sunarya Ajak Jamaah Persiapkan Bekal Akhirat Seperti Persiapan Mudik”

  1. Avatar Yandi Heryandi
    Yandi Heryandi

    Sebaik-baik bekal untuk mudik ke.akhirat adalah bekal taqwa kepada Allah