PIMPINAN Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Cirebon sukses menyelenggarakan kegiatan Parenting Orang Tua PAUD (TK/RA/KB/TPA) Aisyiyah Kota Cirebon. Acara yang dipandu oleh Nurzini Fazilet, M.Pd., ini dihadiri oleh 226 peserta yang terdiri dari guru dan orang tua Taman Kanak-Kanak di lingkungan Aisyiyah, serta para guru TK se-Kota Cirebon. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua, guru, dan tenaga kependidikan dalam pembinaan dan pengajaran anak usia dini.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia, Heni Nurulwardani, M.Pd., menyampaikan bahwa anak-anak membutuhkan keteladanan dan bimbingan yang terarah demi tumbuh kembangnya. “Kegiatan ini menjadi wadah bagi orang tua dan guru untuk bersinergi menciptakan lingkungan pengasuhan yang positif,” ujarnya.
Sambutan Ketua PDA Kota Cirebon, Retno Kuncorowati, S.Pd., menyampaikan tentang sejarah berdirinya Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA). Ia menekankan pentingnya peran perempuan dan ibu dalam mendidik generasi penerus bangsa yang berakhlak mulia.

Sementara itu, Ida Kurniasih, S.Si., dari Dinas Pendidikan Kota Cirebon, memberikan apresiasi yang tinggi terhadap acara parenting ini. Menurutnya, sinergi antara sekolah dan orang tua sangat krusial dalam membentuk karakter anak sejak dini. Acara kemudian resmi dibuka dengan membaca basmallah, mengusung tema “Cinta dalam Pengasuhan Bahagia dalam Pertumbuhan”.
Pemaparan materi parenting disampaikan oleh Dr. Yasmeen Yessi Gusman, S.H., MBA., yang dikenal publik sebagai mantan artis remaja populer Indonesia. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa pengasuhan berbasis cinta dan nilai-nilai spiritual adalah fondasi utama dalam membentuk generasi yang tangguh dan bahagia.

Dr. Yessi Gusman menjelaskan bahwa menjadi cinta dan bahagia dalam pengasuhan dapat terwujud apabila orang tua dan pendidik tidak memaksakan kehendak (berlaku alamiah), memahami cara berinteraksi dengan anak, saling menghargai dan memahami kebutuhan, serta bergerak dari dua arah. Ia juga mengutip falsafah Ki Hajar Dewantara: “Tut Wuri Handayani Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa”, yang bermakna bahwa seorang guru adalah pendidik yang terus menerus menuntun, menopang, dan menunjuk arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.
Lebih lanjut, ia memaparkan tujuan mengasuh dan mendidik anak, yaitu menjadikan anak yang benar (berkarakter baik dan berakhlak), anak yang cerdas, anak yang sehat, dan anak yang ceria. Dalam kaitannya dengan peran orang tua dan pendidik, ia menekankan pentingnya kesadaran akan tanggung jawab, memberikan dukungan sampai anak mandiri (ekonomi, pendidikan, kesehatan), memberikan kasih sayang dan pendampingan, penerimaan keberadaan anak, menghargai hak anak, serta memberikan perlindungan bagi anak.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat At-Tahrim ayat 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini menjadi landasan pentingnya pendidikan dan pengasuhan dalam keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk membimbing anak-anak mereka tidak hanya dalam hal duniawi, tetapi juga bekal spiritual agar terhindar dari segala keburukan.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menegaskan bahwa peran orang tua sangat dominan dalam membentuk karakter dan keyakinan anak. Oleh karena itu, kegiatan parenting seperti ini menjadi bekal berharga bagi para orang tua dan guru dalam mengarahkan anak sesuai dengan fitrahnya.
Acara berlangsung dengan hangat dan penuh antusiasme. Para peserta diharapkan dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat untuk menciptakan pengasuhan yang penuh cinta, sehingga anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang bahagia, sehat, dan berakhlakul karimah. (*)


Tinggalkan Balasan