Muhammadiyah Kota Cirebon

—

Informasi layanan publik, kabar, tuntunan, dan wawasan Islam Berkemajuan

Khatib Ingatkan Jamaah: Tawakal Bukan Pasif, Ada Ikhtiar dan Doa di Baliknya

·

Editor:

|

⏱

2 menit

|

📋

Dibaca: 4 x

MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada hari Jumat ini (30/10) menggelar salat Jumat dengan khidmat. Bertindak selaku imam sekaligus khatib, Ustadz Dr. Alvien Haerisma, S.E.I., M.S.I., menyampaikan khutbah bertema “Tawakal” yang dikaitkan dengan momentum bulan Jumadil Awal serta tantangan adaptasi umat dalam segala musim kehidupan.

Dalam muqaddimah khutbahnya, Ustadz Alvien menjelaskan makna etimologis Jumadil Awal. Menurutnya, kata “Jumadil” berasal dari akar kata yang berarti beku atau dingin, sedangkan “Awal” berarti pertama. “Jadi, Jumadil Awal dapat dipahami sebagai awal bulan memasuki musim dingin. Pada fase ini, masyarakat Arab dahulu mengalami musim yang dingin dan beku,” ujarnya di hadapan jamaah.

Dari realitas historis tersebut, khatib menarik sebuah pelajaran penting: “Apapun musimnya, kita harus bisa beradaptasi.” Adaptasi ini bukan hanya dalam konteks cuaca, melainkan juga dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial dan ekonomi yang terus berubah.

Memasuki inti khutbah, Ustadz Alvien mengutip pandangan Sayyid Alawi al-Haddad mengenai makna tawakal secara istilah, yaitu berserah diri kepada Allah. Namun, ia menegaskan bahwa tawakal bukanlah sikap pasif. Setelah tawakal, terdapat fase kedua yang harus dilalui seorang hamba, yakni ikhtiar (usaha maksimal) dan doa.

Dalam paparannya, khatib merinci tiga tanda tawakal menurut Sayyid Alawi al-Haddad yang harus tertanam dalam diri seorang mukmin:

Pertama, tidak takut kepada siapa pun dan hanya takut kepada Allah. Landasan utamanya adalah firman Allah dalam Surah Al-Fatihah ayat 5:

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ
Iyyāka na’budu wa iyyāka nasta’īn
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”

Kedua, tidak perlu risau berkaitan dengan rezeki. Ustadz Alvien menekankan bahwa rezeki tidak serta-merta identik dengan harta. Kesehatan, anak, dan keluarga yang harmonis adalah bentuk rezeki yang tak ternilai. Ia merujuk pada Surah Al-An’am ayat 151:

نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَاِيَّاهُمْ
Naḥnu narzuqukum wa iyyāhum
“Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.”

Dalam konteks ini, jamaah diajak untuk tidak iri terhadap kekayaan, jabatan, atau kelebihan orang lain, karena pembagian rezeki adalah hak prerogatif Allah.

Ketiga, hatinya tidak pernah goncang atau gundah gulana saat menghadapi permasalahan. Keteguhan hati ini merupakan buah dari keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik pelindung.

Sebagai penutup, khatib mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan tawakal sebagai pijakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari, terutama di tengah ketidakpastian iklim dan ekonomi saat ini. “Dengan tawakal yang benar, disertai ikhtiar yang sungguh-sungguh dan doa yang khusyuk, kita akan mampu melewati musim apa pun dengan hati yang tenang,” pungkasnya.

Salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah berlangsung tertib dan lancar. Jamaah yang hadir tampak antusias menyimak pemaparan khutbah hingga selesai. (*)

Peliput : Dakum




Kirim Tanggapan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses