MASJID Ad-Dien UMMADA Kalitanjung menggelar Salat Jum’at dengan khidmat pada Jum’at (9/10/2026). Bertindak selaku Imam dan Khatib, Ustadz H. Yandi Heryandi, M.Pd. Dalam khutbahnya, ia menyampaikan tema mengenai hakikat keselamatan hidup dan tiga jalan utama yang harus ditempuh oleh setiap orang beriman untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Dalam pembukaannya, Khatib menegaskan bahwa setiap manusia pasti mendambakan keselamatan dan menjauhi segala bentuk celaka. Terlebih bagi orang beriman, keselamatan dunia dan akhirat menjadi dambaan tertinggi. Untuk meraihnya, setiap individu dituntut berusaha sebaik mungkin, menghindari hal-hal yang dapat mencelakakan diri, serta melakukan amalan yang mengantarkan pada jalan keselamatan.
“Keselamatan di akhirat berupa terbebas dari azab neraka dan diberi anugerah surga merupakan cita-cita tertinggi setiap orang beriman. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi untuk mencapai semua itu. Al-Qur’an telah menunjukkan rute agar manusia selamat dalam menjalani kehidupan,” ujar Ustadz Yandi di hadapan jamaah.
Tiga Pilar Jalan Keselamatan
Dalam khutbahnya, Ustadz Yandi merinci tiga hal utama yang harus menjadi pegangan orang beriman agar tidak tergelincir ke dalam jurang kebinasaan.
Pertama, Beriman dan Berjihad. Khatib menjelaskan bahwa iman harus diwujudkan dengan semangat jihad di jalan Allah. Ia mengutip firman Allah dalam Surah Ash-Shaff ayat 10-11:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ . تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Yā ayyuhal-lażīna āmanū hal adullukum ‘alā tijāratin tunjīkum min ‘ażābin alīm. Tu’minūna billāhi wa rasūlihī wa tujāhidūna fī sabīlillāhi bi’amwālikum wa anfusikum, żālikum khairul lakum in kuntum ta’lamūn.”
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? Engkau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Ash-Shaff [61]: 10-11)
Mengutip Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab, Khatib menjelaskan bahwa “perniagaan” yang dimaksud dalam ayat ini adalah perjuangan di jalan Allah. Manusia harus senantiasa meningkatkan dan memperbarui imannya setiap saat, serta bersungguh-sungguh mencurahkan tenaga, pikiran, waktu, harta, dan jiwa di jalan Allah.
Kedua, Bertakwa kepada Allah. Ketakwaan menjadi keharusan untuk mencapai rida Allah sehingga berhak menjadi penghuni surga. Keistimewaan orang bertakwa adalah terselamatkan dari pedihnya azab neraka. Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 61:
وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Wa yunajjillāhul-lażīnat-taqau bimafāzatihim, lā yamassuhumus-sū’u wa lā hum yaḥzanūn.”
Artinya: “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.” (QS. Az-Zumar [39]: 61)
Khatib mengingatkan, sebagaimana disebutkan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, bahwa perjalanan hidup untuk mencapai takwa tidak selalu bertemu jalan datar bertabur kembang semata. Bahkan sebaliknya, duri dan onak, akar dan rotan kadang menjadi penghalang di tengah jalan perjuangan. Namun, apabila manusia mampu melewatinya, maka naiklah martabat takwanya, dan ia telah memperoleh kemenangan yang menyelamatkannya dari azab.
Ketiga, Berpegang Teguh dengan Ajaran Al-Qur’an. Khatib menegaskan bahwa Al-Qur’an merupakan pedoman hidup utama bagi orang beriman dan jalan keselamatan yang pasti dalam lalu lintas kehidupan. Tidak ada petunjuk yang lebih utama selain Al-Qur’an yang sudah terjamin kebenarannya. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Ma’idah ayat 16:
يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Yahdī bihillāhu manittaba’a riḍwānahū subulas-salāmi wa yukhrijuhum minaẓ-ẓulumāti ilan-nūri bi’iżnihī wa yahdīhim ilā ṣirāṭim mustaqīm.”
Artinya: “Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 16)
Al-Qur’an, lanjutnya, merupakan pelita yang menerangi jalan kehidupan manusia. Segala macam persoalan yang dihadapi manusia memiliki solusinya dalam Al-Qur’an. Orang yang mengikuti petunjuk Al-Qur’an tidak akan tersesat, sebaliknya orang yang jauh dari Al-Qur’an akan menjalani kehidupan yang tidak terarah.
Penutup dan Doa
Di akhir khutbahnya, Ustadz H. Yandi Heryandi mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa istikamah mencari jalan keselamatan berdasarkan petunjuk kitab suci Al-Qur’an, agar memperoleh tempat istimewa di sisi-Nya kelak.
“Semoga kita menjadi hamba Allah yang memperoleh keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat,” pungkasnya.
Salat Jum’at di Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung berjalan tertib dan lancar. Para jamaah tampak khusyuk menyimak pesan-pesan spiritual yang disampaikan, menjadikan momen Jum’at ini sebagai sarana memperkuat keimanan dan ketakwaan.
Peliput: Fahyudin dan Tim Media Masjid Ad-Dien UMMADA Kalitanjung


Tinggalkan Balasan