Khutbah Jumat di Masjid Umar bin Khattab: Ustadz Upang Ibrahim Peringatkan Bahaya Cinta Dunia yang Melupakan Akhirat

CIREBON, 24 Juli 2026 — Pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Umar bin Khattab yang terletak di kompleks SMK Farmasi Muhammadiyah/UMMADA Cirebon berlangsung dengan penuh kekhidmatan pada hari Jumat, 24 Juli 2026. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Upang Ibrahim menyampaikan khutbah dengan tema kritis menyoroti fenomena degradasi moral di era modern.

Jamaah yang terdiri dari para pendidik, tenaga kependidikan, siswa, dan masyarakat sekitar tampak menyimak dengan saksama setiap rangkaian khutbah yang disampaikan dengan gaya bahasa lugas namun menusuk kalbu.


Era Modern dan Krisis Akhlak

Mengawali khutbahnya, Ustadz Upang Ibrahim mengangkat keprihatinan mendalam terhadap realitas yang terjadi di tengah masyarakat dewasa ini. Beliau menyatakan bahwa di era modern yang serba canggih dan gemerlap ini, justru terjadi penurunan nilai-nilai budi pekerti yang signifikan. Moral dan etika semakin terkikis digantikan oleh gaya hidup konsumtif, hedonisme, dan sikap individualistis.

“Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus ke muka bumi ini dengan misi mulia, yaitu untuk menyempurnakan akhlak umat manusia,” tegas Ustadz Upang di hadapan jamaah.

Beliau mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menjadi landasan utama risalah kenabian:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Baihaqi)

Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak umat Islam yang justru meninggalkan akhlak mulia dan terjebak dalam gaya hidup yang melalaikan. Ustadz Upang pun mengajak jamaah untuk merenungkan penyebab utama dari krisis moral yang melanda umat saat ini.


Lima Cinta yang Melenyapkan Lima Kesadaran

Memasuki bagian inti khutbah, Ustadz Upang Ibrahim mengutip sebuah hadits yang sangat relevan dengan kondisi kekinian, sebagaimana dinukil dalam kitab Nashoihul ‘Ibad karya Imam Nawawi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

سَيَأْتِي عَلَى أُمَّتِي زَمَانٌ يُحِبُّونَ خَمْسًا وَيَنْسَوْنَ خَمْسًا: يُحِبُّونَ الدُّنْيَا وَيَنْسَوْنَ الْآخِرَةَ، وَيُحِبُّونَ الْحَيَاةَ وَيَنْسَوْنَ الْمَوْتَ، وَيُحِبُّونَ الْقُصُورَ وَيَنْسَوْنَ الْقُبُورَ، وَيُحِبُّونَ الْمَالَ وَيَنْسَوْنَ الْحِسَابَ، وَيُحِبُّونَ الْمَخْلُوقَ وَيَنْسَوْنَ الْخَالِقَ

Artinya: “Akan datang suatu masa yang menimpa umatku, mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara yang lain: (1) mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat, (2) mencintai hidup dan melupakan mati, (3) mencintai istana-istana (tempat tinggal megah) dan melupakan kuburan, (4) mencintai harta dan melupakan hisab (perhitungan amal), serta (5) mencintai makhluk dan melupakan Sang Khaliq (Allah).”

Ustadz Upang kemudian menguraikan satu per satu lima pasangan kontras tersebut dengan penjelasan mendalam:

1. Mencintai Dunia, Melupakan Akhirat

Beliau menjelaskan bahwa kecintaan berlebihan kepada dunia—dalam bentuk mengejar jabatan, popularitas, dan kemewahan—telah membuat banyak orang lupa bahwa kehidupan akhirat adalah tujuan sejati. Dunia hanyalah ladang untuk memanen bekal bagi keabadian di akhirat.

2. Mencintai Hidup, Melupakan Mati

Ustadz Upang mengingatkan bahwa banyak manusia berpura-pura lupa bahwa kematian adalah kepastian yang tidak bisa ditawar. Mereka sibuk merencanakan masa depan duniawi yang panjang, tetapi lupa mempersiapkan perjalanan menuju alam barzakh yang kekal.

3. Mencintai Tempat Tinggal yang Megah, Melupakan Kuburan

Fenomena berlomba-lomba membangun rumah mewah, istana, dan gedung pencakar langit menjadi simbol status semata. Namun, sedikit sekali yang mengingat bahwa pada akhirnya tempat peristirahatan terakhir manusia hanyalah liang lahat yang sempit dan gelap.

4. Mencintai Harta, Melupakan Hisab

Beliau mengkritik budaya mengumpulkan harta tanpa memedulikan halal haramnya. Harta yang ditumpuk dan tidak dikeluarkan haknya akan menjadi saksi di hadapan Allah kelak. Setiap rupiah akan dimintai pertanggungjawaban: dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.

5. Mencintai Makhluk, Melupakan Sang Khaliq

Fenomena terakhir yang paling menyedihkan adalah ketika manusia lebih mencintai sesama makhluk—baik itu selebritas, pemimpin, pasangan, atau bahkan hewan peliharaan—hingga melupakan kewajiban mencintai Allah di atas segalanya. Mereka lebih takut pada omongan manusia daripada murka Allah.


Solusi: Kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah

Pada penutup khutbahnya, Ustadz Upang Ibrahim mengajak seluruh jamaah untuk melakukan introspeksi diri. Beliau mengingatkan bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran individu. Perbaikan akhlak tidak akan terwujud tanpa adanya tekad kuat untuk meninggalkan cinta dunia yang berlebihan dan mengembalikan prioritas hidup pada keridhaan Allah.

Beliau menutup dengan firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 46:

ٱلْمَالُ وَٱلْبَنُونَ زِينَةُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱلْبَٰقِيَٰتُ ٱلصَّٰلِحَٰتُ خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًۭا وَخَيْرٌ أَمَلًۭا

Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal-amal saleh yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi [18]: 46)

Salat Jumat berlangsung tertib dan diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Upang Ibrahim, memohon perlindungan Allah agar umat Islam di Cirebon terhindar dari lima godaan duniawi dan senantiasa diberi kekuatan untuk mengutamakan akhirat.

Suasana haru dan kesadaran baru tampak terpancar dari wajah-wajah jamaah usai mendengarkan khutbah yang menggetarkan jiwa tersebut.

Peliput : Tim Media Masjid Umar bin Khattab

Editor : Arofah Firdaus

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *