CIREBON – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan Pengajian Reboan, Rabu (8/7/2026). Kegiatan rutin mingguan ini menghadirkan Ustadz Dr. Maman Rusman, M.Pd., sebagai penceramah yang membahas tafsir mendalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 tentang hakikat penciptaan jin dan manusia.
Ustadz Maman mengawali kajian dengan membacakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Dalam penjelasannya, Ustadz Maman menyoroti penggunaan kata إِلَّا (illa) yang berarti “kecuali”, menegaskan bahwa tujuan penciptaan hanya satu, tiada lain kecuali untuk beribadah. Kata الإِنْسَ (al-ins) merujuk pada manusia yang dianugerahi akal (insan isim mustaq), sebagai pembeda dengan makhluk lain. Keistimewaan akal inilah yang menjadikan manusia bertanggung jawab penuh atas ibadahnya.
Jin Diciptakan Sebelum Manusia
Mengapa dalam ayat tersebut jin disebut lebih dahulu daripada manusia? Ustadz Maman menjelaskan berdasarkan QS. Al-Hijr ayat 27:
وَالْجَآانَّ خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِ
Artinya: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS. Al-Hijr [15]: 27)
Menurut tafsir Ibnu Katsir dan riwayat dari Ibnu Abbas, jin telah mendiami bumi sebelum penciptaan Adam dan menyebabkan kerusakan. Hal ini pula yang menjadi latar dialog malaikat dengan Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 30, ketika malaikat bertanya tentang penciptaan khalifah yang akan menumpahkan darah.

Makna Ibadah: Mengabdi, Bukan Sekadar Ritual
Ustadz Maman menekankan bahwa kata لِيَعْبُدُونِ (liya’budun) berasal dari akar kata عَبَدَ (‘abada) – يَعْبُدُ (ya’budu) yang tidak hanya berarti “menyembah”, tetapi juga “mengabdi, mentaati, dan merendahkan diri”. Dalam konteks yang lebih luas, makna yang tepat adalah mengabdi.
Seorang muslim dapat berjuang dan mengabdi di berbagai sektor kehidupan: pendidikan, ekonomi, sosial, kesehatan, atau pemerintahan. Seluruh aktivitas yang diniatkan karena Allah dan sesuai syariat bernilai ibadah. Ini sejalan dengan tafsir Quraish Shihab bahwa ibadah mencakup gerak hati, anggota badan, dan seluruh aktivitas kehidupan yang dijalankan sebagai bentuk pengabdian.

Keseimbangan Dunia dan Akhirat
Mengutip pesan penting dari ayat tersebut, Ustadz Maman mengingatkan jamaah agar tidak meninggalkan dunia. “Boleh mencari akhirat, tapi jangan lupakan dunia, dan berbuat baiklah,” pesannya. Ibadah yang hakiki adalah pengabdian total yang dijalani dalam seluruh sendi kehidupan, bukan hanya ritual di masjid, tetapi juga kontribusi nyata dalam memakmurkan bumi.

Iblis dan Sifat Syaitan
Lebih lanjut, Ustadz Maman menjelaskan tentang asal-usul Iblis. Iblis berasal dari golongan jin yang membangkang. Dalam QS. Al-Kahfi ayat 50 disebutkan:
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada malaikat: ‘Sujudlah kepada Adam’, maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin.” (QS. Al-Kahfi [18]: 50)
Iblis merupakan jin yang paling membangkang. Sebagaimana jin ada yang beriman dan ada yang kafir, manusia pun demikian. Bahkan, manusia yang membangkang seperti Firaun diibaratkan memiliki sifat-sifat Iblis. Syaitan adalah sifat pembangkang yang bisa melekat pada jin maupun manusia. Oleh karena itu, dalam QS. An-Nas, Allah mengajarkan kita berlindung dari godaan syaitan dari kalangan jin dan manusia.
Tampak hadir Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Cirebon Drs. Puji Nirmo beserta pimpinan lainnya. Pengajian Reboan di Masjid Santun Muhammadiyah ini berlangsung khidmat dan dihadiri oleh puluhan jamaah dari berbagai kalangan. Kegiatan ditutup dengan doa dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab interaktif seputar implementasi nilai-nilai ibadah dalam kehidupan modern.
Peliput : Dakum, S.Pd. dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon.


Tinggalkan Balasan