Memahami Faham Agama sebagai Identitas Muslim dan Warga Muhammadiyah

Kota Cirebon, 3 Juni 2026 — Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada Rabu malam (3/6/2026). Puluhan jamaah dari berbagai kalangan tampak hadir dalam pengajian rutin Reboan yang dilaksanakan mulai ba’da Maghrib hingga menjelang Isya.

Acara yang berlangsung secara tertib dan khidmat tersebut menghadirkan penceramah utama, Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, S.H.I., M.Ag. Dalam kesempatan itu, beliau mengawali pembahasan tentang Masalah 5 dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) yang menjadi identitas penting bagi seorang Muslim dan khususnya warga Persyarikatan Muhammadiyah.

Pada pertemuan ini, fokus bahasan diarahkan pada poin pertama: Faham Agama, yaitu bagaimana memahami agama Islam secara mendalam.

Definisi Agama dan Hakikat Islam

Mengawali ceramahnya, Dr. Arief menjelaskan bahwa agama adalah sesuatu yang disyariatkan oleh Allah melalui perantara para nabi-Nya, baik berupa perintah maupun larangan, demi kemaslahatan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 19:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

Artinya: “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 19)

Lebih lanjut, beliau memaparkan bahwa Islam secara umum adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan juga kepada nabi-nabi sebelumnya. Adapun Islam secara khusus adalah agama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad dalam bentuk Al-Qur’an dan hadis sebagai petunjuk hidup di dunia dan akhirat.

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Artinya: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik)

Makna Al-Islam dan Karakteristiknya

Menurut penceramah, Al-Islam secara ma‘rifah bersifat khusus, mengandung makna menyerahkan diri, selamat, sesuai fitrah, dan tunduk kepada Allah. Islam disebut sebagai Dinnul Haq (agama yang benar) dan Dinnul Kholis (agama yang lurus).

Dasar beragama dalam Islam ada dua, yaitu Al-Qur’an dan hadis sahihah. Sementara itu, ijmak dan kias berfungsi sebagai metode istinbath hukum, bukan sumber utama.

Inti ajaran Islam meliputi:

  1. Akidah
  2. Ibadah
  3. Akhlak
  4. Muamalah

Dalam perspektif Muhammadiyah, kerangka faham agama mencakup akidah, ibadah, dan syariah.

Karakteristik Islam yang Menyeluruh

Dr. Arief menjelaskan enam karakteristik Islam yang menjadikannya rahmat bagi semesta alam:

  1. Rubaniyah (bersumber dari Tuhan)
  2. Syumul (menyeluruh)
  3. Wasaṭiyyah (moderat/tengah-tengah)
  4. Al-‘Ālamiyyah (mendunia, untuk seluruh umat manusia)
  5. Wāqi‘iyyah (sesuai dengan kodrat manusia)
  6. Kombinasi antara urusan tetap dan fleksibel

Status Orang yang Berdosa Besar

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah tentang pelaku dosa besar. Menurut faham agama yang benar, orang yang berdosa besar tetap di dalam agama Islam dan dianggap sebagai mukmin yang bermaksiat.

Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ

Artinya: “Tidaklah seorang pezina itu berzina dalam keadaan ia beriman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan hilangnya kesempurnaan iman saat maksiat dilakukan, namun tidak mengeluarkan pelakunya dari lingkaran Islam. Selama di dunia, mereka dianggap fasiq. Adapun setelah meninggal dunia, semua kembali kepada kehendak Allah; Allah akan mengazab sesuai kadar dosa-Nya atau mengampuni dengan rahmat-Nya.

Penutup dan Agenda Mendatang

Pengajian ditutup dengan doa bersama memohon keteguhan iman dan pemahaman agama yang benar. Ustadz Dr. Arief mengingatkan bahwa pembahasan poin 2 hingga 5 akan dilanjutkan pada pengajian Reboan berikutnya, meliputi:

  1. Pandangan tentang Dunia
  2. Pandangan tentang Ibadah
  3. Pandangan tentang Sabilillah
  4. Pandangan tentang Ijtihad/Kias

Ketua Badan Takmir Masjid Santun, Bapak Dakum, menyampaikan apresiasi atas kehadiran jamaah dan berharap kegiatan ini dapat terus meningkatkan kualitas keislaman warga Muhammadiyah Kota Cirebon. “Semoga melalui kajian rutin ini, kita semua semakin paham dan istiqamah dalam menjalankan ajaran Islam yang benar,” tuturnya.

Pengajian ditutup dengan shalat Isya berjamaah. Suasana kebersamaan dan semangat keilmuan begitu terasa di Masjid Santun Muhammadiyah, menjadikan malam Reboan sebagai momen berharga untuk terus memperkuat identitas keislaman dan ke-Muhammadiyahan.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *