Selamat datang, ahlan wa sahlan,…

—

Muhammadiyah Kota Cirebon

—

Informasi layanan publik, kabar, tuntunan, dan wawasan Islam Berkemajuan

Santri Digital di Era AI: Canggih Teknologi, Harus Dalam Ilmu

·

Editor:

|

⏱

5 menit

|

📋

Dibaca: 0 x

Oleh: Drs. Iskandar, M.Pd., (Dewan Pendidikan Kota Cirebon)

HARI Santri 2026 menjadi momentum penting untuk membangun generasi santri yang melek teknologi, mendalam ilmunya, kokoh akhlaknya, serta mampu menjaga amanah keilmuan di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (AI).

Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Jika generasi terdahulu berjuang mendapatkan kitab dan berguru kepada ulama dengan perjalanan panjang, santri hari ini menghadapi tantangan berbeda: informasi tersedia dalam hitungan detik, jawaban dapat dihasilkan mesin, dan AI semakin mudah diakses. Cukup mengetikkan beberapa kalimat, seorang santri dapat meminta AI menjelaskan tafsir ayat, menerjemahkan kitab, merangkum pendapat ulama, bahkan menyusun naskah ceramah.

Kemudahan ini patut disambut sebagai peluang. Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemudahan memperoleh jawaban otomatis juga menjamin kebenaran ilmu, kedalaman pemahaman, dan kematangan akhlak penggunanya?

Sanad Ilmu Bukan Sekadar Warisan Masa Lalu

Sanad merupakan bagian penting dari tradisi keilmuan Islam. Dalam ilmu hadis, sanad merujuk pada rangkaian periwayat yang menghubungkan suatu riwayat dengan sumbernya. Dalam tradisi pesantren, hubungan guru dan murid memiliki kedudukan penting dalam transmisi keilmuan, pembentukan adab, dan pembimbingan praktik keagamaan.

Sanad tidak semestinya dipahami hanya sebagai daftar nama guru. Ia berkaitan dengan pertanggungjawaban keilmuan, ketelitian memahami sumber, dan kesinambungan proses belajar. Namun, sanad bukan jaminan otomatis bahwa setiap pendapat pasti benar. Kualitas isi ilmu, ketepatan dalil, metode penalaran, dan kesesuaian konteks tetap harus diperiksa.

Di sinilah pesan penting bagi santri digital: menjaga sanad bukan berarti menutup pintu kritik, melainkan memelihara tradisi keilmuan yang menghargai sumber, metode, guru, dan kebenaran.

AI Membantu Mencari Ilmu, Tetapi Tidak Menjamin Kebenaran

Kecerdasan buatan menawarkan banyak manfaat. Teknologi ini dapat membantu santri mengenali kosakata Arab, menerjemahkan teks, membandingkan penjelasan, dan mengakses informasi yang sebelumnya sulit ditemukan. Bagi pesantren dengan keterbatasan bahan ajar, AI berpotensi menjadi sarana belajar tambahan.

Akan tetapi, AI dapat menghasilkan jawaban yang tampak ilmiah tetapi memuat kutipan yang tidak ditemukan dalam kitab aslinya. AI dapat menyebut nama ulama secara meyakinkan, tetapi keliru menghubungkan suatu pendapat kepada tokoh tersebut. AI juga dapat memberikan penjelasan fikih yang tidak lengkap karena mengabaikan konteks dan perbedaan pandangan ulama.

Persoalan yang lebih serius adalah kesalahan tersebut dapat disampaikan dengan bahasa yang lancar dan meyakinkan sehingga sulit dikenali oleh pengguna yang belum memiliki bekal keilmuan memadai. AI juga tidak mempunyai sanad keilmuan sebagaimana manusia dalam tradisi pesantren. Kemampuannya menyebut nama guru atau kitab tidak membuktikan bahwa ia memiliki hubungan belajar atau izin pengajaran yang diakui.

Bahaya Ilusi Kompetensi

Risiko lain yang tidak kalah serius adalah melemahnya proses berpikir dan kemandirian belajar. Bayangkan seorang santri yang menggunakan AI untuk menerjemahkan seluruh materi, menjawab setiap pertanyaan, dan menyusun setiap makalah. Hasilnya mungkin tampak bagus, tetapi ketika diminta menjelaskan kembali tanpa bantuan mesin, ia kesulitan.

Inilah ilusi kompetensi: seseorang merasa memahami ilmu karena mampu menghasilkan jawaban, padahal belum tentu menguasai substansinya. Pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan produk. Pendidikan harus membangun kemampuan memahami, menalar, menguji, menerapkan, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan.

Tabayyun dan Amanah: Prinsip Islam Menghadapi Banjir Informasi

Islam memiliki prinsip yang sangat relevan, yaitu tabayyun atau memeriksa kebenaran berita sebelum menerima dan menyebarkannya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 6. Prinsip ini penting ketika santri menerima kutipan hadis, penjelasan tafsir, atau materi ceramah yang dihasilkan AI.

Santri perlu membiasakan diri bertanya: dari mana sumber informasi ini? Apakah kutipannya benar? Apakah konteksnya sesuai? Apakah ada pendapat ulama lain yang perlu diperhatikan?

Prinsip lain adalah amanah, sebagaimana QS. An-Nisa ayat 58 dan QS. Al-Isra ayat 36. Kedua prinsip ini memberikan landasan etis untuk tidak mengarang sumber, memalsukan kutipan, atau menyebarkan informasi yang belum diperiksa. Kemudahan teknologi tidak menghapus tanggung jawab moral penggunanya.

Pesantren Harus Beradaptasi Tanpa Kehilangan Jati Diri

Menghadapi perkembangan AI, pesantren sebaiknya tidak mengambil dua sikap ekstrem: menolak teknologi secara menyeluruh atau menerima tanpa batas. Jalan yang lebih rasional adalah mengintegrasikan teknologi secara selektif, terukur, dan bertanggung jawab.

Pesantren dapat menyelenggarakan program verifikasi sumber digital, pelatihan literasi AI, dan diskusi kritis atas jawaban mesin. Aturan penggunaan AI harus jelas: santri perlu mengetahui tugas mana yang boleh menggunakan AI, kapan penggunaannya harus diungkapkan, dan kapan bantuan tersebut tidak diperbolehkan. Penilaian sebaiknya menguji pemahaman melalui diskusi lisan dan penjelasan mandiri.

Pesantren juga harus memperhatikan kesenjangan digital. Tidak semua lembaga memiliki perangkat dan sumber daya manusia yang sama. Program santri digital tidak boleh hanya menguntungkan pesantren yang sudah maju secara teknologi. Pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat perlu mendukung pemerataan akses serta perlindungan data santri.

Mengukur Keberhasilan dari Kualitas Manusia

Keberhasilan program santri digital tidak cukup diukur dari banyaknya komputer atau akun AI. Ukuran yang lebih penting adalah perubahan kualitas belajar dan karakter santri: apakah mereka semakin mampu memeriksa sumber, lebih kritis terhadap informasi, semakin jujur dalam mengerjakan tugas, dan mampu menggunakan teknologi untuk memberi manfaat kepada masyarakat?

AI juga dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan dakwah digital. Santri dapat membuat artikel, video pembelajaran, dan infografik yang menjelaskan ajaran Islam secara menarik. Namun, materi keagamaan tetap perlu diperiksa sebelum dipublikasikan. Karya digital yang baik bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga benar sumbernya dan bertanggung jawab isinya.

Hari Santri 2026: Momentum Membangun Peradaban Ilmu

Peringatan Hari Santri hendaknya tidak berhenti pada seremoni atau perlombaan menggunakan teknologi. Momentum ini perlu diarahkan untuk memperkuat ekosistem pendidikan pesantren yang mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar keilmuannya.

Santri masa depan membutuhkan penguasaan khazanah Islam, kecakapan digital, kemampuan berpikir kritis, integritas akademik, dan kematangan akhlak. Semua itu tidak dapat dibangun hanya melalui aplikasi. Dibutuhkan guru yang kompeten, lingkungan belajar yang sehat, dan proses pendidikan yang sungguh-sungguh.

AI dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. AI dapat membantu menyusun kata-kata, tetapi tidak menggantikan tanggung jawab orang yang menyampaikannya.

Karena itu, tantangan santri digital bukanlah memenangkan persaingan dengan mesin dalam menghasilkan jawaban, melainkan memastikan bahwa kemajuan teknologi benar-benar memperkuat kualitas manusia. Jangan sampai santri menjadi generasi yang canggih menggunakan teknologi, tetapi dangkal memahami ilmu; cepat menghasilkan jawaban, tetapi lambat memeriksa kebenaran; fasih berbicara tentang agama, tetapi kurang bertanggung jawab dalam menyampaikan ajarannya.

Sanad dijaga, adab dipelihara, ilmu diperdalam, teknologi dimanfaatkan, dan kemaslahatan umat diutamakan.

Pada akhirnya, santri yang dibutuhkan Indonesia bukanlah santri yang sekadar mampu mengikuti perkembangan zaman, melainkan santri yang mampu memberi arah bagi perkembangan zaman melalui ilmu, akhlak, integritas, dan pengabdian. Teknologi boleh berubah, cara belajar boleh berkembang, tetapi amanah untuk mencari, menjaga, mengamalkan, dan menyampaikan ilmu secara bertanggung jawab harus tetap menjadi pegangan. (*)




Kirim Tanggapan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses