Tarawih Malam Kesepuluh di Masjid Santun: Ustadz H. Ali Mahfudz Paparkan Keteraturan Alam sebagai Tanda Kebesaran Allah

CIREBON, 26 Februari 2026 – Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali dipenuhi jamaah pada pelaksanaan Salat Tarawih malam kesepuluh Ramadhan 1447 H, Kamis (26/2/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz H. Ali Mahfudz menyampaikan kultum yang inspiratif dengan mengambil pelajaran dari fenomena alam yang sering kita saksikan sehari-hari.

Jamaah yang hadir tampak khusyuk menyimak tausiyah yang mengupas tentang keteraturan alam sebagai bukti kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang disampaikan melalui kisah inspiratif seorang ulama Indonesia saat berkunjung ke Kerajaan Brunei Darussalam.


Kisah Inspiratif dari Brunei Darussalam

Ustadz H. Ali Mahfudz mengawali kultum dengan membagikan pengalaman seorang ulama Indonesia yang diundang ke Kerajaan Brunei Darussalam. Kisah ini menjadi pembuka yang menarik perhatian jamaah.

“Ada seorang ustadz dari Indonesia yang diundang ke Kerajaan Brunei Darussalam. Ketika beliau akan melaksanakan shalat Subuh, beliau melihat pemandangan yang menarik. Burung-burung yang bertengger di atas pohon masih dalam keadaan tidur, belum bergerak ke mana-mana. Kemudian beliau melaksanakan shalat Subuh. Setelah shalat Subuh selesai, beliau melihat burung-burung tersebut sudah pergi meninggalkan sarangnya untuk mencari makan,” papar Ustadz Ali.

Pemandangan sederhana ini, lanjut beliau, menyadarkan sang ulama tentang betapa teraturnya alam ciptaan Allah. Burung-burung itu tidak pergi sebelum waktunya. Mereka menunggu hingga fajar tiba, hingga waktu subuh berlalu, baru kemudian mereka beranjak mencari rezeki.


Hadits tentang Burung yang Pergi Mencari Rezeki

Ustadz Ali kemudian mengaitkan kisah tersebut dengan sebuah hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang menjelaskan tentang burung-burung yang pergi mencari makan di pagi hari dan pulang dalam keadaan kenyang di sore hari.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

“Perhatikanlah hadits ini, jamaah sekalian. Burung itu pergi di pagi hari dalam keadaan lapar, namun ia tidak khawatir. Ia yakin Allah akan memberikan rezeki. Ia berusaha, lalu bertawakal. Dan di sore hari, ia pulang dalam keadaan kenyang, bahkan membawa makanan untuk yang di rumah,” jelas Ustadz Ali.

Beliau mengajak jamaah untuk meneladani sikap burung tersebut. Berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap bertawakal kepada Allah. Tidak diliputi kekhawatiran berlebihan tentang rezeki, karena Allah telah menjaminnya.


Semua Makhluk Bertasbih kepada Allah

Ustadz Ali kemudian mengutip firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 41 yang menegaskan bahwa seluruh makhluk di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالطَّيْرُ صَافَّاتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُ وَتَسْبِيحَهُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

“Tidakkah engkau (Muhammad) mengetahui bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, juga burung-burung yang mengembangkan sayapnya? Masing-masing telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbihnya. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur: 41)

“Tidakkah kita sadar, burung-burung yang setiap pagi kita dengar kicauannya, mereka sedang bertasbih kepada Allah. Mereka menjalankan tugasnya sebagai makhluk, memuji kebesaran Penciptanya. Bahkan cara mereka terbang, cara mereka mencari makan, semuanya adalah tasbih kepada Allah,” papar Ustadz Ali.

Beliau menjelaskan bahwa ayat ini mengajarkan kepada kita tentang universalitas ibadah. Seluruh makhluk di alam semesta, termasuk burung, memiliki cara masing-masing untuk beribadah kepada Allah. Manusia sebagai makhluk yang diberi akal seharusnya lebih semangat dalam beribadah.


Pelajaran dari Keteraturan Alam

Dari kisah burung di Brunei, hadits tentang burung yang mencari rezeki, dan ayat tentang tasbihnya makhluk, Ustadz Ali mengambil beberapa pelajaran berharga:

1. Keteraturan Alam adalah Tanda Kebesaran Allah

“Burung tidur di malam hari, bangun di pagi hari, pergi mencari makan setelah fajar menyingsing. Ini bukan kebetulan. Ini adalah aturan yang Allah tetapkan. Semua berjalan sesuai dengan sunnatullah. Inilah bukti kebesaran Allah yang harus kita renungkan,” jelasnya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran: 190)

2. Rezeki Sudah Dijamin, Tugas Kita Berusaha dan Bertawakal

“Burung saja dijamin rezekinya, apalagi manusia yang dimuliakan Allah. Maka janganlah kita terlalu khawatir tentang rezeki. Berusahalah, bertawakallah, dan yakinlah bahwa Allah akan mencukupi kebutuhan kita,” ajak Ustadz Ali.

3. Semua Makhluk Beribadah, Manusia Jangan Sampai Kalah

“Jika burung, pohon, batu, dan seluruh makhluk bertasbih kepada Allah, bagaimana dengan kita? Jangan sampai kita kalah dengan mereka. Mari kita tingkatkan ibadah kita, perbanyak tasbih dan tahmid, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini,” tegasnya.


Penutup: Meneladani Burung dalam Mencari Rezeki dan Beribadah

Menutup kultum, Ustadz H. Ali Mahfudz mengajak jamaah untuk meneladani sikap burung: bersemangat mencari rezeki di pagi hari, namun tetap bertawakal kepada Allah, serta senantiasa bertasbih memuji kebesaran-Nya.

“Marilah kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah dan keimanan kita. Sebagaimana burung yang setia pada waktunya, kita pun harus disiplin dalam ibadah. Sebagaimana burung yang bersemangat mencari rezeki, kita pun harus bersemangat mencari pahala. Sebagaimana burung yang bertasbih, kita pun harus memperbanyak dzikir kepada Allah. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang bersyukur. Aamiin,” pungkasnya.

Salat Tarawih malam kesepuluh berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Jamaah yang hadir tampak merenung dan mendapatkan pencerahan dari kisah sederhana namun penuh makna tentang burung dan keteraturan alam ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *