Abstrak
Tauhid merupakan fondasi utama dalam ajaran Islam yang menjadi landasan seluruh aktivitas keagamaan seorang Muslim. Perspektif Muhammadiyah tentang tauhid memiliki karakteristik khas yang membedakannya dari aliran teologi lainnya, yaitu bersifat fungsional dan transformatif. Artikel ini membahas secara komprehensif konsep tauhid dalam perspektif Muhammadiyah yang terbagi menjadi tiga dimensi: Tauhid Uluhiyah (pengesaan Allah dalam ibadah), Tauhid Asma wa Sifat (pengesaan Allah dalam nama dan sifat-Nya), dan Tauhid Af’al (pengesaan Allah dalam perbuatan-Nya). Pembahasan didasarkan pada Al-Qur’an surah al-Baqarah [2]:163, az-Zumar [39]:2-3, serta al-Hasyr [59]:22-24. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa ketiga dimensi tauhid tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan menjadi landasan gerakan Muhammadiyah dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pemahaman tauhid yang komprehensif ini diharapkan dapat mengantarkan umat Islam pada kehidupan yang berkemajuan (hayāh thayyibah) serta menjawab tantangan peradaban modern.
Kata Kunci: Tauhid, Muhammadiyah, Uluhiyah, Asma wa Sifat, Af’al, Teologi Modernis
Pendahuluan
Latar Belakang
Tauhid merupakan inti dari seluruh ajaran Islam. Tidak ada satu pun amal perbuatan yang diterima oleh Allah tanpa dilandasi oleh tauhid yang benar. Dalam sejarah pemikiran Islam, diskursus tentang tauhid telah melahirkan berbagai aliran teologi dengan karakteristiknya masing-masing, mulai dari Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, hingga Salafiyah. Perbedaan mendasar di antara aliran-aliran tersebut terletak pada metode pemahaman terhadap teks-teks Al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan zat, sifat, dan perbuatan Allah.
Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang lahir pada tahun 1912 di Yogyakarta memiliki pandangan teologis yang khas. Organisasi ini tidak secara mutlak mengikuti salah satu aliran teologi yang sudah ada, tetapi merumuskan pemahaman tauhid yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salaf aṣ-ṣāliḥ, serta bersifat fungsional untuk mendorong transformasi sosial .
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menegaskan bahwa Muhammadiyah secara resmi menganut paham Islam Berkemajuan (Progressive Islam), yang di dalamnya tauhid dipahami secara fungsional melalui dua konsep: tauhid raḥamūtiyah (tauhid yang berbasis pada sifat rahmat Allah) dan tauhid murni (keyakinan yang tidak bercampur dengan kezaliman) .
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini akan membahas beberapa permasalahan berikut:
- Bagaimana konsep Tauhid Uluhiyah dalam perspektif Muhammadiyah?
- Bagaimana konsep Tauhid Asma wa Sifat dalam perspektif Muhammadiyah?
- Bagaimana konsep Tauhid Af’al dalam perspektif Muhammadiyah?
- Bagaimana implementasi ketiga dimensi tauhid tersebut dalam kehidupan modern?
Tujuan Penulisan
Artikel ini bertujuan untuk:
- Menjelaskan secara sistematis konsep tauhid perspektif Muhammadiyah
- Menganalisis dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menjadi landasan pemahaman tauhid Muhammadiyah
- Mengaitkan pemahaman tauhid dengan gerakan transformasi sosial yang dilakukan Muhammadiyah
Pembahasan
Konsep Dasar Tauhid dalam Perspektif Muhammadiyah
Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Jilid 1, dijelaskan bahwa pemikiran tauhid Muhammadiyah didasarkan pada dua surah utama, yaitu QS. Al-Ikhlāṣ yang menunjukkan tentang uluhiyah dan sifat, serta QS. An-Naml [27]:60 yang menunjukkan tentang af’al (perbuatan Allah) . Dengan demikian, teologi kalam Muhammadiyah terbagi menjadi tiga pilar utama: uluhiyah, sifat, dan af’al.
Pembagian ini berbeda dengan mazhab Asy’ariyah yang membagi ketuhanan menjadi dzat, sifat, dan af’al, serta berbeda pula dengan mazhab Salafiyah yang membaginya menjadi rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat. Perbedaan ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak sekadar mengambil paket teologi dari mazhab tertentu, tetapi merumuskan sendiri pemahaman tauhidnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Salah satu prinsip penting dalam teologi Muhammadiyah adalah pengakuan bahwa akal manusia tidak mampu menjangkau dzat Allah. Oleh karena itu, untuk mengetahui dzat Allah, manusia dapat menempuh dua jalan: pertama, melalui uluhiyah, yaitu dengan melaksanakan ibadah ritual maupun ibadah sosial yang hanya ditujukan kepada Allah; kedua, dengan meneliti ciptaan-Nya di alam semesta yang pada akhirnya akan melahirkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi seluruh makhluk .
Tauhid Uluhiyah (توهيد الألوهية)
Pengertian Tauhid Uluhiyah
Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam segala bentuk ibadah, baik ibadah mahḍah (ritual murni) maupun ibadah ghairu mahḍah (sosial kemasyarakatan). Inti dari tauhid ini adalah keyakinan bahwa tidak ada satu pun yang berhak disembah selain Allah, sehingga seluruh bentuk penghambaan hanya boleh ditujukan kepada-Nya.
Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 163:
اِلٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
“Ilāhukum ilāhun wāḥid, lā ilāha illā huwar-raḥmānur-raḥīm.”
Artinya: “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Baqarah [2]:163)
Ayat ini menegaskan keesaan Allah dalam ketuhanan (ulūhiyyah) sekaligus menyebut dua sifat-Nya yang agung, yaitu ar-Raḥmān dan ar-Raḥīm. Penegasan ini menjadi fondasi bahwa seluruh bentuk ibadah, baik yang bersifat ritual seperti salat, puasa, zakat, haji, maupun yang bersifat sosial seperti tolong-menolong, menegakkan keadilan, dan memberdayakan masyarakat, harus diniatkan semata-mata karena Allah.
Allah juga berfirman dalam surah az-Zumar ayat 2-3:
إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi fa’budillāha mukhliṣal lahud-dīn.”
Artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. az-Zumar [39]:2)
Ayat berikutnya (az-Zumar: 3) menjelaskan bahwa orang-orang yang menyembah selain Allah beralasan bahwa mereka ingin mendekatkan diri kepada Allah. Namun Allah menegaskan bahwa Dia akan memberikan keputusan terhadap apa yang mereka perselisihkan.
Tauhid Uluhiyah dalam Perspektif Muhammadiyah
Dalam pemahaman Muhammadiyah, Tauhid Uluhiyah tidak hanya bermakna keyakinan teologis, tetapi juga harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Konsep ini disebut sebagai tauhid fungsional, yaitu tauhid yang mendorong terjadinya transformasi sosial .
Hamim Ilyas menjelaskan bahwa komitmen yang kuat terhadap tauhid akan melahirkan masyarakat yang damai dan aman, membimbing umat manusia ke jalan yang lurus (ṣirāṭ al-mustaqīm), dan mewujudkan keberkahan (ni’mah) dalam seluruh aspek kehidupan. Keimanan yang kuat akan melahirkan amal saleh, membebaskan manusia dari kerugian (khusr), dan mengantarkan pada hayāh thayyibah—kehidupan yang baik, makmur, damai, dan membahagiakan .
Implementasi Tauhid Uluhiyah dalam gerakan Muhammadiyah tercermin dalam berbagai amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Seluruh amal usaha tersebut didasarkan pada niat ibadah kepada Allah semata, bukan untuk kepentingan duniawi atau pamrih sosial.
Tauhid Asma wa Sifat (توهيد الأسماء والصفات)
Pengertian Tauhid Asma wa Sifat
Tauhid Asma wa Sifat adalah mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yang telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk (tasybīh), tanpa menanyakan hakikatnya (takyīf), dan tanpa menolak atau meniadakannya (ta‘ṭīl).
Allah berfirman dalam surah al-Hasyr ayat 22-24:
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۖ هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ (٢٢) هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ (٢٣) هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٢٤)
“Huwa Allāhu allażī lā ilāha illā huwa ‘ālimul-ghaibi wasy-syahādah, huwa ar-raḥmānu ar-raḥīm. Huwa Allāhu allażī lā ilāha illā huwa al-malikul-quddūsu as-salāmu al-mu’minu al-muhaiminu al-‘azīzu al-jabbāru al-mutakabbir, subḥānallāhi ‘ammā yusyrikūn. Huwa Allāhu al-khāliqu al-bāri’u al-muṣawwir, lahul-asmā’ul-ḥusnā, yusabbiḥu lahū mā fis-samāwāti wal-arḍ, wa huwa al-‘azīzu al-ḥakīm.”
Artinya: “Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata; Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan; Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Hasyr [59]:22-24)
Manhaj Muhammadiyah dalam Memahami Asma wa Sifat
Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) menegaskan bahwa pemahaman tentang Asma wa Sifat harus mengikuti manhaj salaf, yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah (isbāt ṣifātillāh) dengan merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Muhammadiyah tidak membatasi sifat-sifat Allah menjadi 13 atau 20 sifat seperti yang dilakukan oleh Asy’ariyah, karena pembatasan semacam itu kurang sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah .
Kaidah-kaidah dalam memahami Asma wa Sifat menurut manhaj salaf adalah sebagai berikut:
- Semua nama Allah adalah nama-nama yang baik (al-asmā’ul-ḥusnā) yang menunjukkan kesempurnaan Allah.
- Nama-nama Allah bersifat tauqīfī, yaitu penetapannya berdasarkan nash Al-Qur’an dan Sunnah, tidak memberi wewenang kepada akal manusia untuk menambah atau mengurangi.
- Sifat-sifat Allah terbagi menjadi dua: ṣifāt ṡubūtiyyah (sifat-sifat kesempurnaan yang ditetapkan bagi Allah) dan ṣifāt salbiyyah (sifat-sifat negatif yang dinafikan dari Allah).
- Penetapan sifat-sifat Allah tidak boleh mengandung tasybīh (penyerupaan dengan makhluk), tamṡīl (penyamaan), takyīf (penanyaan bagaimana hakikat sifat), apalagi ta‘ṭīl (peniadaan) .
Penting untuk dipahami bahwa Muhammadiyah tidak sejalan dengan paham Asy’ariyah dalam hal pembatasan sifat-sifat Allah, meskipun sebagian pihak menuduh demikian. Dalam HPT, Muhammadiyah menyatakan akidahnya sejalan dengan Ahlul Ḥaqqi wa as-Sunnah, yaitu pokok-pokok akidah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah yang diperkuat dengan pemberitaan (khabar) mutawatir .
Tauhid Af’al (توهيد الأفعال)
Pengertian Tauhid Af’al
Tauhid Af’al adalah mengakui bahwa Allah semata yang menciptakan, mengatur, dan menguasai seluruh alam semesta. Tidak ada satu pun kejadian di alam ini yang berada di luar kehendak dan kekuasaan Allah. Tauhid ini sering disebut juga sebagai Tauhid Rubūbiyyah (pengesaan Allah dalam hal ketuhanan sebagai Pencipta dan Pengatur alam).
Al-Qur’an banyak menjelaskan tentang kekuasaan Allah dalam menciptakan dan mengatur alam. Misalnya dalam surah An-Naml [27]:60 yang menyebutkan bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit . Ayat-ayat tentang kejadian alam semesta, pergantian siang dan malam, serta fenomena alam lainnya menjadi bukti nyata dari Tauhid Af’al.
Implikasi Tauhid Af’al
Tauhid Af’al memiliki implikasi yang sangat luas, terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Muhammadiyah memahami bahwa dengan meneliti ciptaan Allah yang ada di alam semesta, manusia dapat mengenal kebesaran Allah sekaligus mengembangkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat .
Pemahaman inilah yang mendorong Muhammadiyah untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan modern yang mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum. Seperti diketahui, KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah tokoh yang gigih mematahkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Beliau mendirikan sekolah-sekolah yang mengajarkan ilmu-ilmu umum di samping ilmu agama, sebuah gebrakan yang revolusioner pada zamannya.
Ustadi Hamzah, anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, menyatakan bahwa teologi Islam kontemporer perlu bergerak melampaui teosentrisme klasik dan bahkan melampaui antroposentrisme menuju kosmosentrisme. Bahkan, beberapa diskusi saat ini telah membingkai tauhid dalam perspektif biosentris yang menekankan tanggung jawab terhadap seluruh makhluk hidup .
Keterkaitan Ketiga Dimensi Tauhid
Ketiga dimensi tauhid—Uluhiyah, Asma wa Sifat, dan Af’al—merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang tidak dapat dikatakan bertauhid secara sempurna jika hanya mengakui satu atau dua dimensi saja. Keterkaitan ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
- Tauhid Af’al menjadi fondasi bagi pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta dan Pengatur alam.
- Tauhid Asma wa Sifat menjadi landasan bagi pemahaman bahwa Allah memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, yang tercermin dalam ciptaan dan perbuatan-Nya.
- Tauhid Uluhiyah menjadi konsekuensi logis dari dua dimensi sebelumnya, yaitu pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah karena Dia adalah Pencipta sekaligus Pemilik nama dan sifat yang sempurna.
Dengan kata lain, orang yang meyakini Tauhid Af’al dan Tauhid Asma wa Sifat secara benar, niscaya akan terpacu untuk mewujudkan Tauhid Uluhiyah dalam seluruh aspek kehidupannya.
Tauhid sebagai Spirit Peradaban
Muhammadiyah memandang tauhid bukan sekadar keyakinan teologis yang pasif, tetapi sebagai spirit atau ruh yang menggerakkan peradaban. Hal ini sejalan dengan konsep tauhid fungsional yang ditawarkan oleh pemikir-pemikir kontemporer seperti Kuntowijoyo, yang menekankan bahwa nilai-nilai tauhid harus menjadi paradigma dalam membangun peradaban.
Dalam kerangka Islam Berkemajuan, tauhid dihadirkan sebagai kekuatan dinamis untuk transformasi sosial. Islam tidak boleh dipahami secara parsial, tetapi harus diaktualisasikan sebagai agama langit yang membumi, yang menandai terbitnya fajar baru bagi peradaban manusia.
Beberapa prinsip tauhid yang menjadi fondasi peradaban menurut Muhammadiyah adalah:
- Ilahiyat: Menegaskan bahwa Allah adalah Kebenaran Mutlak (al-Ḥaqq)
- Insaniyat: Memandang manusia sebagai khalifah Allah yang memiliki otonomi dan menjadi pembangun peradaban
- Diniyat: Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber ajaran
- Ittibā‘ an-Nabī: Mengikuti teladan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat Islam
- Amar Ma‘rūf Nahī Munkar: Menjadikan dakwah sebagai misi utama
- Waṭaniyat: Menerima negara sebagai dār al-‘ahdi wa asy-syahādah (wilayah kesepakatan dan kesaksian)
Implementasi Tauhid dalam Kehidupan Modern
Pemahaman tauhid yang komprehensif dalam perspektif Muhammadiyah memiliki implikasi yang sangat luas dalam kehidupan modern. Beberapa implementasi penting antara lain:
1. Bidang Pendidikan
Tauhid menjadi fondasi epistemologis bagi pengembangan pendidikan Islam. Sebuah studi tentang QS. al-Baqarah [2]:163 dengan pendekatan tafsir tarbawi mengidentifikasi lima prinsip sentral tauhid yang menjadi fondasi pendidikan Islam: tauhid al-ma‘rifah (kesatuan sumber kebenaran), kulliyyat ar-raḥmah (universalitas rahmat Ilahi), nafy asy-syirk (penolakan terhadap sekutu bagi Allah), takāmul al-‘ubūdiyyah wa al-khilāfah (integrasi dimensi vertikal dan horizontal), dan ta‘yīn al-huwiyyah al-ma‘rifiyyah (pembentukan identitas epistemik) .
Prinsip-prinsip ini menghendaki integrasi antara ilmu agama dan ilmu umum dalam sistem pendidikan, serta pengembangan kurikulum yang tidak memisahkan dimensi spiritual, intelektual, dan moral.
2. Bidang Sosial Kemasyarakatan
Tauhid Uluhiyah mendorong umat Islam untuk aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan sebagai wujud penghambaan kepada Allah. Seluruh aktivitas amar ma‘rūf nahī munkar, pemberdayaan masyarakat, dan penanganan masalah sosial adalah manifestasi dari tauhid.
Muhammadiyah memiliki gerakan di bidang lingkungan hidup sebagai bentuk implementasi tauhid. Lembaga Lingkungan Hidup Muhammadiyah (sekarang Majelis Lingkungan Hidup) aktif dalam upaya pelestarian lingkungan dan pencegahan kerusakan alam, karena menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah .
3. Bidang Ekonomi
Tauhid mengajarkan bahwa harta benda adalah amanah dari Allah. Konsep ini mendorong umat Islam untuk mengelola harta secara produktif, membayar zakat, menghindari riba, serta mengembangkan ekonomi kerakyatan. Muhammadiyah memiliki berbagai lembaga keuangan mikro, koperasi, dan usaha-usaha produktif yang dikelola secara profesional.
4. Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Tauhid Af’al mendorong umat Islam untuk meneliti alam semesta sebagai ciptaan Allah. Iptek dipandang sebagai sarana untuk mengungkap tanda-tanda kebesaran Allah sekaligus untuk kemaslahatan umat manusia. Muhammadiyah mendirikan berbagai perguruan tinggi unggulan yang menghasilkan saintis dan teknokrat muslim.
Kesimpulan
Tauhid dalam perspektif Muhammadiyah memiliki karakteristik yang khas, yaitu bersifat fungsional dan transformatif. Pemahaman tauhid Muhammadiyah tidak terikat pada salah satu mazhab teologi yang sudah ada, tetapi dirumuskan langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah dengan pendekatan manhaj salaf.
Ketiga dimensi tauhid—Uluhiyah, Asma wa Sifat, dan Af’al—merupakan satu kesatuan yang utuh. Tauhid Af’al menjadi fondasi keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta alam. Tauhid Asma wa Sifat menjadi landasan pemahaman tentang kesempurnaan nama dan sifat Allah. Tauhid Uluhiyah menjadi konsekuensi bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
Implementasi tauhid dalam kehidupan modern mencakup seluruh aspek: pendidikan, sosial, ekonomi, dan iptek. Tauhid menjadi spirit peradaban yang mendorong terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr).
Daftar Pustaka
Al-Qur’an al-Karim
Hamim Ilyas. (2026). Hamim Ilyas Affirms Tauhid as the Spirit of Progressive Civilization. Muhammadiyah Official Website.
Helmy, H. A., Surahman, C., & Sumarna, E. (2025). Tawheed as an Epistemological Foundation: A Tarbawi Exegesis of Al-Baqarah [2]:163 for the Islamic Education Paradigm. Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam, 9(2).
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. (2016). Himpunan Putusan Tarjih Jilid 1. Yogyakarta: Suara Muhammadiyah.
Pramono, R. (2024). Teologi Modernis Muhammadiyah Menyinari Peradaban. PWM Jateng.
Parlan, H. (2022). Muhammadiyah Jadikan Islam sebagai Agama Langit yang Membumi. KLIKMU.
Syamsul Hidayat. (2021). Makna Tauhid Asma wa Sifat dalam Kehidupan. Majalah Suara ‘Aisyiyah.
Ustadi Hamzah. (2026). Sunni-Shia Tauhid Debate Grows Obsolete, Contemporary Islam Moves toward Functional Tauhid. Muhammadiyah Official Website.


Tinggalkan Balasan