PENGAJIAN bakda Subuh di Masjid Al Furqon, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Tengahtani, Kabupaten Cirebon, digelar pada Jumat, 18 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Jalan Triguna No. 21, Desa Kalibaru, Kecamatan Tengahtani, Kabupaten Cirebon, ini menghadirkan penceramah Ustadz Drs. H. Saefudin, M.MPd.
Dalam kajian tersebut, Ustadz Saefudin membahas kitab Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Bukhari, khususnya hadis nomor 401. Hadis itu diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dan dinilai sahih oleh Al-Albani. Tema yang diangkat adalah “Jangan Mendiamkan Seorang Muslim”.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي اللهِ جَلَّ وَعَزَّ أَوْ فِي الإِسْلَامِ، فَيُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا إِلَّا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا
Mā tawādda isnāni fī Allāhi jalla wa ‘azza aw fī al-islāmi, fa yufarriqu baynahumā illā bidhanbin yuhdithuhu ahaduhumā.
Artinya:
“Tidaklah dua orang saling mencintai karena Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi atau karena Islam, kemudian terjadi perpisahan di antara keduanya, kecuali karena dosa atau kesalahan yang dilakukan salah seorang dari keduanya.”
(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 401, dinilai sahih oleh Al-Albani)
Menurut Ustadz Saefudin, hadis ini mengajarkan bahwa persaudaraan karena Allah adalah ikatan yang sangat berharga. Hubungan yang telah dibangun bertahun-tahun bisa rusak hanya karena satu perkataan. Persahabatan yang sudah lama dapat renggang karena salah paham. Saudara yang dahulu dekat tiba-tiba saling diam, bertemu tidak menyapa, berpapasan membuang muka, dan duduk dalam satu majelis namun hati saling menjauh.

Pertama, jangan biarkan marah memutus persaudaraan. Marah, kecewa, dan tersinggung memang manusiawi. Namun, seorang Muslim tidak boleh membiarkan kemarahan menghilangkan persaudaraan. Jangan karena satu kesalahan melupakan seribu kebaikan. Jangan karena satu perkataan menghapus semua kenangan baik. Bisa jadi orang yang hari ini membuat kecewa adalah orang yang dahulu pernah membantu.
Kedua, kesalahan jangan dibalas dengan kesalahan. Jika saudara berkata kasar, jangan dibalas dengan perkataan yang lebih kasar. Jika ia menjauh, jangan semakin menjauh. Jadilah orang yang memulai kebaikan. Satu ucapan “Assalamu’alaikum” bisa menjadi awal terbukanya kembali pintu persaudaraan.
Ketiga, jangan memelihara dendam. Memaafkan bukan berarti menyatakan bahwa kesalahan itu benar. Memaafkan berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain merusak hati. Allah berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Walya‘fū walyaṣfaḥū. Alā tuḥibbūna an yaghfirallāhu lakum. Wallāhu ghafūrur raḥīm.
Artinya:
“Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nur: 22)
Keempat, selesaikan masalah dengan silaturahmi. Jika ada masalah, jangan diperbesar. Jika ada salah paham, jangan dibiarkan. Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan kemarahan, menyindir melalui status, atau menceritakan keburukan saudara kepada orang lain. Islam mengajarkan untuk memperbaiki hubungan dengan mendatangi saudara, menyampaikan dengan lembut, meminta maaf apabila bersalah, dan memberi kesempatan kepada saudara yang bersalah untuk memperbaiki diri.
Dalam penutup kajian, Ustadz Saefudin mengingatkan bahwa tidak ada yang tahu kapan kehidupan berakhir. Jangan sampai meninggalkan dunia dalam keadaan masih menyimpan dendam kepada saudara sesama Muslim. Mari belajar menjadi pribadi yang mudah meminta maaf dan mudah memaafkan. Jika hari ini masih ada saudara yang didiamkan, mungkin sudah waktunya membuka kembali pintu silaturahmi tanpa menunggu pihak lain.
Harta bisa dicari, kedudukan bisa berubah, dan persoalan dunia akan berlalu. Namun, persaudaraan karena Allah adalah sesuatu yang sangat berharga. Semoga Allah membersihkan hati kaum Muslimin dari kebencian, dendam, iri, dan permusuhan, serta menyatukan hati mereka dalam ridha-Nya. (*)


Tinggalkan Balasan