Muhammadiyah Kota Cirebon

—

Informasi layanan publik, kabar, tuntunan, dan wawasan Islam Berkemajuan

Dr. Amin Basir Ajak Jamaah Masjid Nurul Islam Pegagan Palimanan Perangi Distorsi Informasi dengan Siddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah

·

Editor:

|

⏱

5 menit

|

📋

Dibaca: 2 x

MASJID Nurul Islam Muhammadiyah Pegagan Palimanan, Kabupaten Cirebon, menggelar salat Jumat dengan khidmat pada hari Jumat, 23 Oktober 2026. Salat Jumat kali ini diimami sekaligus diisi khutbah oleh Ustadz Dr. Amin Basir, M.A., dengan mengangkat tema “Meneladani Empat Sifat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dalam Menghadapi Era Distorsi Saat Ini.”

Kegiatan ibadah ini dihadiri oleh jamaah dari berbagai kalangan masyarakat sekitar. Suasana masjid tampak penuh dengan jamaah yang antusias mengikuti rangkaian ibadah dan menyimak materi khutbah yang disampaikan.

Dalam khutbahnya, Ustadz Dr. Amin Basir, M.A., mengingatkan jamaah tentang pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala di tengah era informasi yang bergerak sangat cepat. Beliau menekankan bahwa kemajuan teknologi dan media sosial, di samping memberikan banyak manfaat, juga membawa persoalan serius berupa distorsi, yaitu penyimpangan, pemutarbalikan, atau pengaburan terhadap fakta, makna, nilai, dan kebenaran.

“Kita hidup dalam zaman ketika informasi bergerak sangat cepat. Berita dapat menyebar ke seluruh penjuru dunia hanya dalam hitungan detik. Namun, di balik kemajuan tersebut, kebenaran dapat dicampuradukkan dengan kebohongan, fakta dapat dipelintir, dan fitnah dapat disebarkan atas nama kebebasan berpendapat,” ujar beliau.

Sebagai landasan utama, khatib membacakan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Yā ayyuhallażīna āmanū in jā’akum fāsiqum binaba’in fatabayyanū an tuṣībū qauman bijahālatin fa tuṣbiḥū ‘alā mā fa’altum nādimīn.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6).

Ayat ini, menurut beliau, memberikan pelajaran yang sangat relevan untuk melakukan tabayyun, yaitu meneliti, memeriksa, dan memastikan kebenaran suatu berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Selanjutnya, khatib menjelaskan empat sifat utama Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam yang harus diteladani dalam menghadapi era distorsi, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah.

Pertama, Siddiq (Menegakkan Kejujuran dan Kebenaran). Beliau menegaskan bahwa kejujuran merupakan fondasi bagi kehidupan pribadi dan masyarakat yang sehat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 119:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Yā ayyuhallażīna āmanū ittaqullāha wa kūnū ma’aṣ-ṣādiqīn.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]: 119).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ

‘Alaikum biṣ-ṣidqi, fa innas-ṣidqa yahdī ilal-birri, wa innal-birra yahdī ilal-jannah.

Artinya: “Hendaklah kalian berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa ke surga.” (HR. Muslim, no. 2607).

Kedua, Amanah (Menjaga Kepercayaan dan Tanggung Jawab). Khatib menjelaskan bahwa amanah mencakup tanggung jawab sosial, jabatan, harta, ilmu, keluarga, dan setiap kepercayaan yang diberikan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 58:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

Innallāha ya’murukum an tu’addul-amānāti ilā ahlihā.

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (QS. An-Nisa [4]: 58, penggalan ayat).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Āyatul-munāfiqi tsalātsun: iżā ḥaddatsa każaba, wa iżā wa’ada akhlafa, wa iżā’tumina khāna.

Artinya: “Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, Tabligh (Menyampaikan Kebenaran dengan Bijaksana). Beliau menekankan bahwa menyampaikan kebenaran harus berjalan bersama kejujuran, ilmu, dan kebijaksanaan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Ud’u ilā sabīli rabbika bil-ḥikmati wal-mau’iẓatil-ḥasanati wa jādilhum billatī hiya aḥsan.

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125, penggalan ayat).

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Man kāna yu’minu billāhi wal-yaumil-ākhiri falyaqul khairan au liyaṣmut.

Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keempat, Fathanah (Mengembangkan Kecerdasan, Kebijaksanaan, dan Sikap Kritis). Khatib mengingatkan bahwa umat Islam memerlukan kecerdasan untuk membedakan fakta dan opini, bukti dan dugaan, nasihat dan manipulasi, serta kritik yang membangun dan fitnah yang merusak. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Wa lā taqfu mā laisa laka bihī ‘ilm, innas-sam’a wal-baṣara wal-fu’āda kullu ulā’ika kāna ‘anhu mas’ūlā.

Artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).

Dalam khutbah keduanya, Ustadz Dr. Amin Basir, M.A., mengajak jamaah untuk menjadikan Rasulullah Muhammad saw. sebagai teladan dalam seluruh aspek kehidupan. Beliau menegaskan bahwa pegangan moral yang kokoh bukanlah kecanggihan teknologi, kekuatan ekonomi, atau banyaknya pengikut di media sosial, melainkan iman, ilmu, dan akhlak yang mulia.

“Jangan hanya menuntut orang lain berlaku jujur, sementara kita menyebarkan berita yang belum jelas. Jangan hanya meminta pemimpin bersikap amanah, sementara kita mengabaikan tanggung jawab sendiri. Jangan hanya mengkritik orang lain, sementara kita tidak mau memeriksa kebenaran. Dan jangan hanya bangga dengan kecerdasan, sementara kecerdasan itu tidak digunakan untuk kebaikan,” pesan beliau.

Kegiatan salat Jumat ditutup dengan doa bersama untuk kebaikan umat, bangsa, dan negara, serta harapan agar umat Islam mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan iman, mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan akhlak, serta mampu mempertahankan kebenaran tanpa merusak persaudaraan.

Peliput: Kontributor Masjid Nurul Islam




Kirim Tanggapan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses