MASJID Umar bin Khattab, Komplek SMK Farmasi Muhammadiyah Kabupaten Cirebon, menggelar ibadah salat Jumat dengan khidmat pada hari ini (23/10). Bertindak selaku imam sekaligus khatib, Ustadz Achmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan khutbah bertema “Ketika Langit Menahan Hujan” yang sarat dengan pesan taubat dan introspeksi diri.
Dalam khutbahnya, Ustadz Achmad Nurjanah mengajak para jamaah untuk merenungkan kondisi musim kemarau yang panjang sebagai momentum refleksi. “Hari ini kita berada di tengah musim yang panjang, tanah mulai retak, rumput mulai mengering, sumur mulai menyusut, dan langit seakan menahan air matanya. Lalu mari kita bertanya kepada diri sendiri: jangan-jangan bukan langit yang terlalu jauh, tetapi kita yang terlalu jauh dari Allah?” ujarnya di hadapan para jamaah.
Beliau menegaskan bahwa ketika langit kering, yang pertama harus dibasahi bukan hanya tanah, tetapi hati dengan air mata taubat. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Surah Nuh ayat 10–11:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
“Maka aku berkata kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.” (QS. Nuh: 10–11)
Ustadz Achmad juga mengutip firman Allah dalam Surah Hud ayat 3 yang menegaskan janji Allah bagi hamba yang beristighfar dan bertaubat:
وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan.” (QS. Hud: 3)
Lebih lanjut, beliau mengingatkan bahwa air merupakan nikmat yang sepenuhnya berada di tangan Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Waqi’ah ayat 68–69:
أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ
“Maka pernahkah kalian memperhatikan air yang kalian minum? Apakah kalian yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkannya?” (QS. Al-Waqi’ah: 68–69)
Beliau juga menyampaikan kabar gembira melalui firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 28:
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ
“Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.” (QS. Asy-Syura: 28)
Dalam khutbahnya, Ustadz Achmad juga meneladani Rasulullah ﷺ yang pernah berdoa memohon hujan dalam sebuah khutbah Jumat. Beliau mengutip doa yang dipanjatkan Nabi:
اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا، اللَّهُمَّ اسْقِنَا
“Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan. Ya Allah, berilah kami hujan.”
Beliau menceritakan bahwa Anas radhiyallahu ‘anhu menyaksikan awan muncul dan hujan pun turun setelah doa tersebut. “Tiga kali Nabi meminta, maka jangan malu meminta kepada Allah. Angkat tangan kita, tundukkan kepala kita, basahi pipi kita, akui kelemahan kita,” pesannya.
Ustadz Achmad juga mengisahkan sejarah para sahabat, ketika Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meminta Al-Abbas bin Abdul Muththalib untuk berdoa memohon hujan, dan mereka pun mendapatkan hujan. “Ini mengajarkan kepada kita: ketika bumi kering, jangan hanya mengeluh. Ketika langit menahan hujan, jangan hanya menunggu. Kembalilah kepada Allah,” tegasnya.
Di akhir khutbah, beliau mengajak jamaah untuk memuliakan hari Jumat dengan memperbanyak istighfar, sedekah, doa, serta memperbaiki hubungan dengan sesama. “Mari kita pulang dari masjid ini bukan hanya membawa doa meminta hujan, tetapi membawa taubat. Karena hujan yang paling kita butuhkan bukan hanya hujan yang membasahi tanah, tetapi rahmat yang membasahi hati,” pungkasnya.
Salat Jumat di Masjid Umar bin Khattab berlangsung tertib dan khusyuk. Para jamaah tampak menyimak dengan saksama pesan-pesan spiritual yang disampaikan, diakhiri dengan doa memohon rahmat dan keberkahan bagi umat dan bangsa. (*)


Kirim Tanggapan