MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon menggelar ibadah salat Jumat dengan khidmat pada hari ini (23/10). Bertindak selaku imam sekaligus khatib, Ustadz Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, S.H.I., M.Ag., menyampaikan khutbah yang membahas tata cara salat Istisqa’ serta pentingnya menjaga amanah lingkungan, khususnya air dan udara.
Dalam khutbahnya, Ustadz Arief Hidayat Afendi memaparkan tata cara salat Istisqa’ berdasarkan fatwa Majelis Tarjih. Beliau menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan salat Istisqa’, masyarakat dianjurkan memperbanyak taubat, memohon ampun, dan melakukan amal shalih seperti berpuasa sunnah, berzikir, dan bersedekah. Saat melaksanakan salat, jamaah diharapkan mengenakan pakaian yang sederhana tanpa hiasan seperti pada salat ‘Id.
“Pada hari Jumat, khatib memanjatkan doa Istisqa’ di akhir khutbah Jumat. Selama doa ini, para jamaah dan khatib mengangkat tangan lebih tinggi dari biasanya,” ujarnya di hadapan para jamaah. Beliau menambahkan bahwa jika hujan belum turun setelah doa tersebut, maka pada pagi hari Sabtu atau Ahad setelah matahari terbit, salat Istisqa’ dapat diadakan secara khusus di tanah lapang atau di dalam masjid.
Salat Istisqa’ dilaksanakan sebanyak dua rakaat dengan pembacaan yang jelas (jahr), tanpa azan dan iqamah, serta tanpa takbirat zawāid seperti dalam salat ‘idain. Setelah salat, imam memberikan khutbah singkat di atas mimbar dengan memperbanyak istighfar. Di akhir khutbah, imam dan jamaah mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berdoa bersama, di antaranya:
اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْتًا مَرِيْئًا طَبَقًا مَرِيعًا غَدَقًا عَاجِلًا غَيْرَ رَائِثٍ
“Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu, binatang-binatang-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menyelamatkan, menyegarkan, merata, subur, deras, segera tanpa tertunda.”
Setelah doa bersama, imam dan jamaah membalikkan bagian luar sorban atau selendang mereka menjadi bagian dalam, kemudian mengusapkan kedua tangan di wajah.
Dalam wasiat takwanya, Ustadz Arief mengajak jamaah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan senantiasa bersikap optimis dalam menghadapi ujian bencana ekologi. Beliau mengutip firman Allah dalam Surah Ar-Rum ayat 48:
ٱللَّهُ ٱلَّذِي يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابٗا فَيَبۡسُطُهُۥ فِي ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ يَشَآءُ وَيَجۡعَلُهُۥ كِسَفٗا فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَٰلِهِۦۖ فَإِذَآ أَصَابَ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, niscaya mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum: 48)

Beliau juga menegaskan bahwa air mengajarkan tentang amanah. “Allah Swt tidak menciptakan bumi untuk dirusak. Air adalah titipan yang kelak dimintai pertanggungjawaban. Jangan karena air masih mengalir, lalu dibiarkan terbuang sia-sia. Jangan karena sumur masih penuh, lalu digunakan tanpa batas,” pesannya.
Ustadz Arief mengingatkan bahwa manusia sering baru menyadari besarnya sebuah nikmat setelah nikmat itu berkurang. Beliau mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Beliau juga mengutip firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 18:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. An-Nahl: 18)
Di akhir khutbah, beliau mengajak jamaah untuk menjaga lingkungan sebagai bentuk syukur kepada Allah, serta mengutip firman Allah dalam Surah Al-A’raf ayat 56:
وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفٗا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)
Salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon berlangsung tertib dan khusyuk. Para jamaah tampak menyimak dengan saksama pesan-pesan spiritual yang disampaikan, diakhiri dengan doa memohon rahmat dan keberkahan bagi umat dan bangsa.
Peliput : Dakum


Kirim Tanggapan