CIREBON, muhammadiyahciko – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Umar bin Khattab yang berlokasi di Komplek SMK Farmasi Muhammadiyah, Jalan Cideng Indah 3, pada Ahad malam (9/8/2026). Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kedawung menggelar pengajian rutin Ahad ba’da Maghrib hingga menjelang waktu Isya dengan mengangkat tema “Indahnya Ikhlas dan Istiqomah”.
Acara yang dihadiri oleh puluhan jamaah dari berbagai kalangan ini menghadirkan penceramah kondang, Ustadz H. Dedi Ahyadi, yang dikenal luas sebagai pengajar yang mampu menyampaikan materi keagamaan dengan gaya komunikatif dan mendalam.
Turut hadir dalam pengajian tersebut jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kedawung beserta para pengurus takmir Masjid Umar bin Khattab. Kehadiran para jamaah yang memadati masjid sejak ba’da Maghrib menunjukkan antusiasme tinggi masyarakat terhadap kajian keislaman yang diselenggarakan secara rutin oleh PCM Kedawung.
Makna Ikhlas: Landasan Utama Setiap Amal
Mengawali tausiyahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi menjelaskan secara komprehensif tentang makna ikhlas, baik secara bahasa maupun menurut pandangan para ulama.
Makna Ikhlas Secara Bahasa
Secara etimologi, kata ikhlash (الإخلاص) berasal dari bahasa Arab yang berarti “membersihkan” atau “memurnikan”. Makna dasarnya adalah menjadikan sesuatu terbebas dari campuran atau kotoran. Dalam konteks ibadah, ikhlas berarti memurnikan niat dan amal hanya semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa dicampuri oleh tujuan-tujuan duniawi seperti riya (pamer), sum’ah (ingin didengar orang), atau mengharap pujian manusia.
Makna Menurut Sayid Sabiq
Ustadz Dedi kemudian mengutip pandangan ulama besar, Sayid Sabiq, yang mendefinisikan ikhlas sebagai:
“Membersihkan amal dari segala kotoran syirik dan riya, serta menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam beribadah.”
Dalam karyanya yang monumental, Sayid Sabiq menekankan bahwa ikhlas adalah ruh dari setiap ibadah. Tanpa keikhlasan, amal yang tampak besar di mata manusia bisa menjadi sia-sia di sisi Allah. Beliau juga mengingatkan bahwa ikhlas bukan sekadar ucapan di lisan, melainkan kondisi hati yang terus-menerus dijaga dari berbagai macam penyakit batin.
Tiga Unsur Keikhlasan
Lebih lanjut, Ustadz Dedi memaparkan tiga unsur pokok keikhlasan yang harus dipahami dan diamalkan oleh setiap muslim:
1. Niat yang Ikhlas (Niat karena Allah)
Unsur pertama adalah meluruskan niat. Setiap amal harus diawali dengan niat yang tulus karena Allah semata. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Niat yang ikhlas akan menjadi fondasi kokoh bagi setiap amal ibadah. Tanpa niat yang benar, amal yang dilakukan bisa kehilangan keberkahannya.
2. Beramal dengan Sebaik-baiknya (Itqan)
Unsur kedua adalah mengerjakan amal dengan sebaik-baiknya atau itqan. Setelah niat diluruskan, seorang muslim dituntut untuk memberikan yang terbaik dalam setiap amal yang dikerjakannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila mengerjakan suatu amalan, ia mengerjakannya dengan sempurna (profesional).” (HR. Thabrani)
Amal yang dikerjakan dengan itqan menunjukkan keseriusan dan penghargaan terhadap ibadah yang sedang dilakukan.
3. Pemanfaatan Hasil Usaha dengan Tepat (Istiqomah)
Unsur ketiga adalah memanfaatkan hasil usaha dan amal dengan tepat serta berkelanjutan. Ikhlas bukan hanya tentang niat awal, tetapi juga tentang komitmen untuk terus berada di jalan yang benar setelah memperoleh hasil dari amal tersebut. Inilah yang disebut sebagai istiqomah.
Dalil Al-Qur’an dan Hadits tentang Ikhlas dan Istiqomah
Untuk memperkuat pemahaman jamaah, Ustadz Dedi membacakan dan menafsirkan beberapa ayat Al-Qur’an serta hadits yang menjadi landasan utama tentang ikhlas dan istiqomah.
1. Surat Al-Bayyinah Ayat 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)
Ustadz Dedi menjelaskan bahwa ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan utama dari setiap perintah ibadah adalah untuk mengikhlaskan diri kepada Allah. Kata mukhliṣīn dalam ayat ini berarti memurnikan ketaatan, yaitu tidak mencampur adukkan ibadah kepada Allah dengan tujuan lain. Sedangkan kata ḥunafā’ (lurus) merujuk pada istiqomah dalam menjalankan agama sesuai tuntunan .
“Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa inti agama adalah tauhid dalam niat dan ibadah. Seseorang bisa terlihat rajin beribadah, namun jika niatnya bukan karena Allah, amalnya kehilangan makna di sisi-Nya,” tegas Ustadz Dedi .
2. Surat Al-‘Ankabut Ayat 2
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Artinya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan (begitu saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-‘Ankabut: 2)
Ustadz Dedi menjelaskan bahwa ayat ini menjadi pengingat penting bahwa iman bukanlah sekadar pengakuan di lisan. Iman harus diuji dan dibuktikan dengan amal serta kesabaran menghadapi berbagai cobaan. Keikhlasan dan istiqomah adalah kunci untuk melewati ujian-ujian tersebut.
Ayat ini turun berkenaan dengan kaum mukminin di Mekah yang disakiti dan disiksa oleh kaum kafir Quraisy karena memeluk Islam. Allah menghibur mereka dengan menegaskan bahwa ujian adalah sunnah Allah yang berlaku sepanjang masa .
3. Surat Fushshilat Ayat 30-32
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
نُزُلًا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.’ Kami adalah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (yang lezat) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-32)
Ayat ini menjadi puncak dari penjelasan tentang istiqomah. Ustadz Dedi menyampaikan bahwa orang yang beriman dan teguh pendiriannya akan mendapatkan ketenangan dan kabar gembira dari malaikat, baik di dunia maupun di akhirat. Istiqomah setelah beriman adalah kunci untuk meraih kebahagiaan hakiki .
4. Hadits tentang Keikhlasan
Selain ayat-ayat Al-Qur’an, Ustadz Dedi juga mengutip beberapa hadits yang memperkuat pentingnya ikhlas dan istiqomah:
Hadits Riwayat Abu Dawud dan Nasa’i:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ
“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal kecuali yang dikerjakan dengan murni karena Allah dan mengharap ridha-Nya.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i dengan sanad yang bagus)
Hadits Riwayat Baihaqi:
طُوبَى لِلْمُخْلِصِينَ أُولَئِكَ مَصَابِيحُ الْهُدَى يَسْلَمُونَ مِنْ كُلِّ فِتْنَةٍ غَرَّاءَ مُظْلِمَةٍ
“Selamatlah para mukhlisin (orang yang ikhlas), mereka adalah pelita-pelita petunjuk, mereka selamat dari setiap fitnah yang menyesatkan.” (HR. Baihaqi)
Keutamaan Ikhlas
Ustadz Dedi kemudian memaparkan beberapa keutamaan orang yang ikhlas berdasarkan dalil-dalil Al-Qur’an:
1. Orang yang Ikhlas akan Ditolong Allah dari Gangguan Setan
Allah berfirman dalam Surat Shad ayat 82-83:
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
“Iblis menjawab: ‘Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis (ikhlas) di antara mereka.’” (QS. Shad: 82-83)
Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang ikhlas mendapatkan perlindungan khusus dari Allah sehingga setan tidak memiliki kekuasaan untuk menyesatkannya.
2. Orang yang Ikhlas Akan Mendapat Petunjuk dan Ketenangan Hati
Allah berfirman dalam Surat Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketika seseorang ikhlas dalam beribadah, maka hatinya akan selalu terhubung dengan Allah sehingga mendapatkan ketenangan dan ketenteraman dalam setiap situasi.
Beberapa Atsar tentang Ikhlas
Di akhir tausiyahnya, Ustadz Dedi menyampaikan beberapa atsar (perkataan ulama salaf) tentang hakikat ikhlas yang menjadi renungan bagi para jamaah:
- “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya, sebagaimana ia menyembunyikan keburukannya.” — Ini menunjukkan bahwa orang ikhlas tidak ingin dipuji atas kebaikan yang dilakukannya.
- “Meninggalkan suatu amal karena manusia adalah riya, sedangkan beramal karena manusia adalah syirik.” — Amal yang dilakukan karena ingin dilihat manusia adalah riya, sedangkan meninggalkan amal karena takut dilihat manusia juga merupakan bentuk kesyirikan kecil.
- “Sesungguhnya amal bila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar (sesuai sunnah) maka tidak diterima, sebaliknya bila amal dilakukan dengan benar tetapi tidak ikhlas juga tidak diterima. Amal yang diterima adalah yang ikhlas dan benar. Ikhlas karena Allah, sedangkan benar sesuai dengan Sunnah Rasulullah.” — Ustadz Dedi menekankan bahwa dua syarat diterimanya amal adalah ikhlas (niat karena Allah) dan mutaba’ah (sesuai tuntunan Rasulullah).
Penutup: Menjadi Insan yang Ikhlas dan Istiqomah
Menutup ceramahnya, Ustadz H. Dedi Ahyadi mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa berusaha menjadi pribadi yang ikhlas dan istiqomah dalam setiap amal perbuatan. Beliau mengingatkan bahwa usia 40 tahun dan seterusnya adalah masa di mana seorang muslim seharusnya semakin mantap dalam keikhlasan dan istiqomahnya.
“Orang yang ikhlas tidak sombong bila berhasil dan tidak putus asa bila gagal. Ia tidak lupa diri bila mendapat pujian dan tidak mundur bila mendapat caci maki. Sebab, ia berbuat semata-mata karena mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala,” pungkasnya.
Pengajian yang berlangsung hingga menjelang waktu Isya ini ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ustadz Dedi, dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat Isya berjamaah. Suasana khidmat dan penuh keberkahan menyelimuti seluruh rangkaian acara.(*)
Takmir Masjid Umar bin Khattab (SMK Farmasi Muhammadiyah)
Tim Media PC Muhammadiyah Kedawung


Tinggalkan Balasan