Pengkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMC: Penguatan Iman Berlandaskan Himpunan Putusan Tarjih

·

Avatar Arofah Firdaus

|

5 menit

|

📋

Dibaca: 19 x

CIREBON, muhammadiyahciko – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) kembali menunjukkan komitmennya dalam pembinaan ideologi dan pemahaman keislaman bagi para dosen melalui kegiatan Pengkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini menghadirkan pemateri utama, Assoc. Prof. Dr. Arief Hidayat Afendi, S.H.I., M.Ag., untuk membawakan kajian tematik berdasarkan Himpunan Putusan Tarjih (HPT) dengan fokus utama pada Bab Iman.

Kajian yang menjadi inti dari pengkaderan ini mengupas secara mendalam enam rukun iman, yaitu: Iman kepada Allah Yang Maha Mulia, Iman kepada Malaikat, Iman kepada Kitab, Iman kepada Rasul, Iman kepada Hari Kemudian, serta Iman kepada Qaḍa dan Qadar. Pembahasan ini merupakan fondasi penting bagi setiap Muslim, terutama bagi para pendidik di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang berperan sebagai agen dakwah dan pengembangan peradaban Islam yang berkemajuan.

Iman kepada Allah: Fondasi Utama Tauhid

Dr. Arief Hidayat Afendi menunjuk kelompok satu mengawali kajian dengan menegaskan urgensi iman kepada Allah sebagai poros seluruh ajaran Islam. Beliau menjelaskan bahwa iman kepada Allah mencakup keyakinan akan keesaan zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Allah adalah satu-satunya pencipta dan pemelihara alam semesta, tempat bergantung segala sesuatu, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.

Firman Allah dalam Surah Al-Ikhlas ayat 1-4 menjadi landasan utama:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Artinya: “Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’” (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Hadis Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam juga menjadi pijakan penting dalam memahami hakikat iman. Dalam hadis Jibril yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah menjelaskan bahwa iman adalah:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

Artinya: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk.” (HR. Muslim)

Iman kepada Malaikat: Makhluk Gaib yang Patuh

Pada sesi berikutnya kelompok dua, menjelaskan tentang iman kepada malaikat. Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah dari cahaya yang senantiasa taat dan tidak pernah durhaka kepada-Nya. Mereka memiliki tugas masing-masing, seperti menyampaikan wahyu, mencatat amal, dan mengatur urusan alam semesta sesuai dengan perintah Allah.

Allah berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Iman kepada Kitab-Kitab Allah: Pedoman Hidup Umat Manusia

Kelompok tiga Iman kepada kitab-kitab Allah berarti meyakini bahwa Allah menurunkan wahyu kepada para rasul-Nya sebagai petunjuk bagi umat manusia. Kitab-kitab tersebut mencakup Taurat, Zabur, Injil, dan yang terakhir adalah Al-Qur’an yang menjadi penyempurna dan penjaga kemurnian ajaran sebelumnya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 136:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Artinya: “Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’” (QS. Al-Baqarah: 136)

Iman kepada Rasul: Utusan Allah bagi Manusia

Kelompok empat Iman kepada rasul mencakup keyakinan bahwa Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menyampaikan petunjuk dan membimbing umat manusia ke jalan yang benar. Di antara mereka ada yang diberi kitab suci dan ada pula yang hanya diperintahkan untuk menyempurnakan syariat sebelumnya . Nabi Muhammad ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para nabi yang membawa risalah Islam sebagai ajaran final bagi seluruh umat manusia.

Rasulullah bersabda:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Artinya: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik)

Iman kepada Hari Kemudian: Akhir Perjalanan Manusia

Kelompok lima membahas iman kepada hari kemudian atau hari kiamat. Keyakinan ini mencakup hari kebangkitan, pengumpulan, dan hisab (perhitungan) amal perbuatan manusia di akhirat. Allah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 68:

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ

Artinya: “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah sekalian apa yang ada di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (keputusan).” (QS. Az-Zumar: 68)

Iman kepada Qaḍa dan Qadar: Takdir dan Ikhtiar Manusia

Materi ditutup oleh kelompok enam membahas iman kepada qaḍa dan qadar. Dr. Arief menegaskan bahwa iman kepada takdir tidak berarti sikap pasif atau fatalistik. Sebaliknya, keyakinan ini harus mendorong seseorang untuk lebih giat berikhtiar dan bertawakal kepada Allah. Segala sesuatu terjadi dengan izin dan kehendak Allah, namun manusia tetap memiliki tanggung jawab atas pilihannya.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 70:

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya: “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)

Penutup: Implementasi Iman dalam Kehidupan

Kegiatan pengkaderan fungsional ini diharapkan mampu memperkuat pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keimanan di kalangan dosen Universitas Muhammadiyah Cirebon. Dengan pemahaman yang kokoh terhadap rukun iman, para dosen diharapkan dapat menjadi teladan dan agen perubahan yang membawa nilai-nilai Islam berkemajuan dalam setiap aspek kehidupan, baik di lingkungan kampus maupun di masyarakat luas.

Semoga ilmu yang disampaikan bermanfaat dan menjadi amal jariyah bagi seluruh peserta dan pemateri. (*)


Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

One response to “Pengkaderan Fungsional Dosen Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMC: Penguatan Iman Berlandaskan Himpunan Putusan Tarjih”

  1. Avatar Moch sidik Sadali
    Moch sidik Sadali

    Semoga amanah dan berfaedah untuk kita semua, khususnya bagi para peserta