MASJID Al Furqon, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tengahtani, Kabupaten Cirebon, menggelar salat Jumat (6/11/2026). Bertindak sebagai imam dan khatib, Ustadz Ahmad Nurjanah, S.E., S.Pd., M.Si., menyampaikan khutbah bertema “Teknologi Maju, Akhlak Mundur”, sebuah refleksi kritis terhadap perkembangan zaman digital yang tidak selalu diiringi dengan kemajuan akhlak.
Dalam khutbahnya, Ustadz Ahmad Nurjanah mengajak jamaah untuk merenungkan realitas kehidupan modern. Teknologi yang semakin canggih, menurutnya, seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas akhlak. Namun, yang terjadi hari ini justru sebaliknya.
“Kita hidup di zaman yang luar biasa maju. Dengan satu sentuhan, kita bisa berkomunikasi dengan orang di belahan dunia lain. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan: ketika teknologi semakin maju, apakah akhlak manusia juga semakin baik?” ujar Ustadz Ahmad di hadapan jamaah.
Ia menyoroti berbagai fenomena negatif di ruang digital, seperti kemudahan menghina melalui media sosial, penyebaran berita bohong, menjadikan aib orang lain sebagai tontonan, hingga perbedaan pendapat yang berubah menjadi permusuhan. “Kita semakin pintar menggunakan teknologi, tetapi belum tentu semakin bijak menggunakannya. Teknologi berkembang pesat, tetapi akhlak justru sering tertinggal,” tegasnya.
Islam Menganjurkan Tabayun dan Menjaga Lisan
Ustadz Ahmad menegaskan bahwa Islam tidak melarang kemajuan teknologi. Islam justru mengajarkan manusia untuk menggunakan akal, mencari ilmu, dan mengambil manfaat dari perkembangan zaman. Namun, kemajuan tersebut harus disertai dengan tanggung jawab.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Artinya: “Dan janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra: 36)
Ayat ini, menurut Ustadz Ahmad, mengingatkan agar umat Islam tidak berbicara dan bertindak tanpa pengetahuan. “Jangan mudah percaya pada berita yang belum jelas. Jangan langsung membagikan informasi yang belum terbukti. Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat menyebarkan fitnah dan kebencian,” pesannya.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa setiap ucapan, termasuk yang ditulis melalui pesan, komentar, dan media sosial, akan dicatat oleh malaikat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Surah Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
Artinya: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)
“Kita mungkin bisa menghapus tulisan dari ponsel, tetapi tidak bisa menghapus pertanggungjawabannya di hadapan Allah,” ujarnya.
Ibadah Harus Melahirkan Akhlak
Ustadz Ahmad juga menyoroti fenomena sebagian orang yang terlihat rajin beribadah, tetapi perilakunya masih menyakiti orang lain. Salat dikerjakan, puasa dijalankan, sedekah diberikan, namun masih gemar mencaci, memfitnah, membuka aib, dan merendahkan sesama.
Ia mengingatkan tentang hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam mengenai orang yang bangkrut pada hari kiamat. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُقْعَدُ فَيَقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْتَصَّ مَا عَلَيْهِ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
Artinya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami, wahai Rasulullah, adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta.” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat. Namun ia juga datang dengan membawa dosa karena telah mencaci orang lain, menuduh, memakan harta orang, menumpahkan darah, dan memukul orang. Maka pahala kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Jika pahalanya habis sebelum utangnya lunas, dosa-dosa orang yang dizaliminya dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
“Hadis ini mengajarkan bahwa ibadah tidak boleh berhenti pada gerakan dan ucapan. Ibadah harus melahirkan akhlak yang baik. Jangan sampai kita rajin beribadah di masjid, tetapi menjadi sumber keburukan di tengah masyarakat,” tegasnya.
Katakan yang Baik atau Diam
Sebagai penutup, Ustadz Ahmad memberikan panduan praktis dalam menggunakan teknologi. Ia mengutip sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Tidak semua informasi harus dibagikan. Jika tidak membawa manfaat, lebih baik diam,” jelasnya.
Ia berpesan agar teknologi digunakan untuk mencari ilmu, menyebarkan kebaikan, membantu sesama, dan mempererat silaturahmi. “Jangan gunakan teknologi untuk menghina, menipu, memfitnah, dan menyebarkan kebencian. Jangan hanya memperbarui teknologi, tetapi perbaruilah akhlak. Jangan hanya meningkatkan kecerdasan, tetapi tingkatkan pula kebijaksanaan,” pesannya.
Kegiatan salat Jumat di Masjid Al Furqon PCM Tengahtani berlangsung dengan khidmat. Para jamaah tampak menyimak dengan saksama pesan-pesan yang disampaikan oleh Ustadz Ahmad Nurjanah. Diharapkan, khutbah ini dapat menjadi renungan bersama untuk senantiasa menjaga akhlak di tengah derasnya arus teknologi.
Penulis: Tim Media Masjid Al Furqon.


Kirim Tanggapan