Muhammadiyah Kota Cirebon

—

Informasi layanan publik, kabar, tuntunan, dan wawasan Islam Berkemajuan

Khutbah Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Cirebon: Ustadz Ahmad Mapparumpa Ungkap Tiga Falsafah Sakral Usia 40 Tahun

·

Editor:

|

⏱

4 menit

|

📋

Dibaca: 0 x

MASJID Ad-Dien Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan (UMMADA) Cirebon menggelar salat Jumat (6/11/2026). Bertindak sebagai imam sekaligus khatib, Ustadz Ahmad Mapparumpa, S.Ag., M.Ag., menyampaikan khutbah bertema “Falsafah Usia 40 Tahun”. Dalam khutbahnya, ia mengupas tiga falsafah besar yang menjadikan usia 40 tahun sebagai fase sakral dalam kehidupan seorang Muslim.

Falsafah Pertama: Biologis, Puncak Lalu Menurun

Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa secara medis dan ilmiah, manusia mencapai puncak kekuatan fisiknya pada usia 33 hingga 40 tahun. Setelah melewati usia 40 tahun, grafik kekuatan fisik tidak lagi naik, melainkan menurun.

“Kita mulai merasakan mata rabun, lutut mulai sakit, dan daya ingat mulai menurun. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam diutus menjadi Nabi pada usia 40 tahun. Kenapa 40? Karena di usia itu akal, emosi, dan fisik berada di puncak paling sempurna untuk menerima wahyu. Jika di puncak kesempurnaan itu kita belum juga sadar, maka kapan lagi?” ujar Ustadz Ahmad di hadapan jamaah.

Falsafah Kedua: Tarikh, Umur Umat Rasulullah 60-70 Tahun

Dalam falsafah kedua, Ustadz Ahmad mengutip hadis Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Artinya: “Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, dan sedikit yang lebih dari itu.” (HR. Tirmidzi)

Ia kemudian mengajak jamaah untuk berhitung secara matematis. Jika umur saat ini 40 tahun dan rata-rata umur umat Rasulullah adalah 60 tahun, maka sisa hidup hanya tinggal 20 tahun. “Itu pun kalau sampai 60. Kalau Allah takdirkan 55, sisa kita tinggal 15 tahun. 15 tahun itu sebentar, anak yang baru masuk SD kelas 1, 15 tahun lagi sudah sarjana,” jelasnya.

Ustadz Ahmad juga mengutip perkataan Imam Al-Ghazali: “Jika engkau telah melewati 40 tahun, maka bersiap-siaplah, karena engkau sedang berjalan menuju liang kubur. Setiap nafasmu adalah langkah menuju kematian.” Ia menganalogikan hidup sebagai pedagang yang modalnya tinggal 20 persen. “Jika kita pedagang dan modal tinggal 20 persen, apakah kita akan bermain-main? Tentu tidak. Kita akan serius. Tapi kenapa urusan akhirat, saat sisa modal umur tinggal 30 persen, kita masih main-main?” tanyanya.

Falsafah Ketiga: Ruhiyah, Usia di Mana Allah Tidak Lagi Memberi Uzur

Falsafah ketiga yang paling menakutkan, menurut Ustadz Ahmad, adalah usia di mana Allah tidak lagi memberikan uzur. Ia mengutip hadis riwayat Bukhari:

أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ سِتِّينَ سَنَةً

Artinya: “Allah telah memberi uzur (tidak ada alasan lagi) kepada seseorang yang dipanjangkan umurnya hingga 60 tahun.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat lain, ulama menjelaskan makna 40 tahun. Imam Malik bin Anas berkata, “Aku mendapati para ulama di Madinah, jika mereka telah mencapai usia 40 tahun, mereka akan mengkhususkan diri untuk ibadah, memakai jubah, dan menjauhi dunia.” Imam Asy-Syafi’i juga berkata, “Jika engkau telah berumur 40 tahun, maka berhati-hatilah.”

“Kenapa? Karena di usia 40 tahun, hujjah Allah sudah tegak. Kita sudah melihat teman SD meninggal, tetangga kena stroke, rambut memutih, anak menikah. Semua itu adalah alarm dari Allah. Jika alarm sudah berbunyi 10 kali tapi kita tidak bangun juga, maka yang salah bukan alarmnya, tapi telinga hati kita yang sudah tuli,” tegasnya.

Tiga Tanda Bahaya di Usia 40 Tahun

Ustadz Ahmad juga menyampaikan tiga tanda bahaya jika di usia 40 tahun seseorang masih belum kembali kepada Allah. Pertama, masih mencintai dunia secara berlebihan, seperti sibuk pamer rumah, mobil, dan jabatan di grup WhatsApp. Kedua, ibadah masih ditunda-tunda. Ketiga, tidak ada rasa takut akan dosa, di mana maksiat sudah dianggap biasa.

Ia mengutip doa yang ideal bagi orang berusia 40 tahun sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Ahqaf ayat 15:

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: “Wahai Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Tiga Bekal Setelah Usia 40 Tahun

Di akhir khutbahnya, Ustadz Ahmad memberikan tiga bekal bagi mereka yang telah melewati usia 40 tahun. Pertama, perbanyak istighfar dan taubat nasuha untuk membersihkan masa lalu. Kedua, fokus pada amal jariyah, bukan lagi amal pribadi, seperti mendidik anak menjadi anak sholeh, membangun pojok masjid, wakaf Al-Qur’an, dan mengajari orang mengaji. Ketiga, eratkan hubungan dengan Al-Qur’an dan masjid.

Ia mengutip perkataan Imam Junaid Al-Baghdadi ketika ditanya tentang tanda Allah masih mencintai hamba yang sudah tua: “Jika Allah memberinya kesibukan dengan Al-Qur’an dan masjid, bukan dengan pasar dan gosip.”

“Maka mulai hari ini, jadikan masjid sebagai rumah kedua. Jika azan berkumandang, tinggalkan dunia. 10 menit saja. Allah sudah menunggu 40 tahun, masa kita tidak mau menunggu 10 menit untuk Allah?” pungkasnya.

Salat Jumat di Masjid Ad-Dien UMMADA Cirebon berlangsung dengan khidmat. Para jamaah tampak menyimak dengan saksama pesan-pesan yang disampaikan. Diharapkan, khutbah ini dapat menjadi renungan bersama untuk mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang lebih baik di sisa umur yang ada. (*)

Peliput : Fahyudin




Kirim Tanggapan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses