MASJID Santun Muhammadiyah Kota Cirebon kembali menggelar salat Jumat berjamaah pada Jumat (6/11/2026). Bertindak sebagai khatib, Ustadz Indra Sudrajat, M.E.Sy., menyampaikan khutbah bertema upaya menjadikan Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun).
Dalam khutbahnya, Ustadz Indra mengawali dengan mengutip firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an Surah Muhammad ayat 22:
فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ
(Fa hal ‘asaitum in tawallaitum an tufsidū fil-arḍi wa tuqaṭṭi’ū arḥāmakum)
Artinya: “Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” (QS. Muhammad: 22)
Ayat tersebut, menurut Ustadz Indra, menjadi peringatan bagi setiap Muslim agar tidak menyebarkan kerusakan ketika diberikan amanah kekuasaan. Ia menekankan pentingnya menjaga persatuan dan silaturahmi demi terwujudnya negara yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Nasihat dengan Cara yang Baik
Dalam khutbahnya, Ustadz Indra juga mengutip pesan Imam Ahmad bin Hanbal tentang adab dalam menasihati. “Jika kalian hendak menasihati dengan cara diam-diam, duduklah bersama dan sampaikan dengan baik-baik. Jika ditolak, kamu telah berbuat kebaikan,” ujarnya, menirukan pesan Imam Ahmad.
Ia kemudian menceritakan kisah pada zaman Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam tentang seorang Muslim bernama Hajat bin Yusuf yang dikenal sebagai pembunuh para sahabat Nabi. Namun, para sahabat tidak membalasnya dengan peperangan. Hal ini lantaran Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah menasihati agar umat Islam bersabar ketika dipimpin oleh pemimpin yang zalim.
Larangan Pemberontakan dan Bahaya Risywah
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, lanjut Ustadz Indra, juga menyampaikan bahwa awal kerusakan suatu negara adalah ketika masyarakatnya menghalalkan risywah (suap-menyuap) dan riba. Oleh karena itu, beliau melarang umatnya melakukan pemberontakan terhadap pemimpin, selama pemimpin tersebut masih menjalankan syariat Islam.
“Untuk mengembalikan keadaan ini, kita harus mengembalikan ajaran Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam seperti pada awal masa Islam,” tegas Ustadz Indra.
Ia mengingatkan bahwa Islam sangat menekankan pentingnya menegakkan keadilan dan menjauhi segala bentuk korupsi, termasuk suap-menyuap. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 188:
وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
(Wa lā ta’kulū amwālakum bainakum bil-bāṭili wa tudlū bihā ilal-ḥukkāmi lita’kulū farīqam minal amwālin-nāsi bil-ismi wa antum ta’lamūn)
Artinya: “Dan janganlah kamu memakan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 188)
Selain itu, Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam juga melaknat tindakan suap-menyuap. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, beliau bersabda:
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ
(La’ana rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama ar-rāsyiya wal-murtasyī)
Artinya: “Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap.” (HR. Ahmad)
Melalui khutbah ini, Ustadz Indra berharap jamaah dapat mengambil pelajaran dan menjadikan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga integritas dan menjauhi praktik korupsi serta riba. Dengan demikian, cita-cita menjadikan Indonesia sebagai negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dapat terwujud. (*)
Peliput : Dakum


Kirim Tanggapan