Menyembelih Hati setelah Berkurban: Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd. Kupas Makna Hakiki Ibadah Kurban

CIREBON — Sebelum matahari meninggi, suasana khusyuk menyelimuti Masjid Umar bin Khattab yang berada di kompleks SMK Farmasi Muhammadiyah atau Prodi Farmasi Universitas Muhammadiyah Ahmad Dahlan Cirebon. Puluhan jamaah yang terdiri dari guru, karyawan, siswa, serta masyarakat sekitar tampak masih setia bertahan di saf-saf shalat usai menunaikan shalat Subuh berjamaah. Mereka tidak segera pulang, melainkan menggelar majelis ilmu dalam pengajian rutin ba’da Subuh yang pada Sabtu (30/5/2026) pagi itu menghadirkan penceramah istimewa, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd.

Mengusung tema “Hendak Apa Setelah Berkurban?”, Ustadz Somantri mengajak jamaah merenungkan esensi ibadah kurban yang kerap kehilangan makna karena hanya berhenti pada ritual penyembelihan hewan. “Hari Tasyrik terakhir ini kita diajarkan bahwa orang yang berkurban sejatinya telah mempelajari pelajaran berharga dari sejarah dua putra Adam: Habil dan Kabil,” ujarnya mengawali tausiyah.

Pelajaran dari Kisah Habil dan Kabil

Ustadz Somantri mengutip langsung firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Surah Al-Ma’idah ayat 27:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ

Artinya: “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua dan tidak diterima dari yang lain.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Mengapa kurban Habil diterima? Ustadz Somantri menjelaskan karena Habil mempersembahkan hewan terbaik yang ia miliki dengan hati tulus dan penuh ketakwaan. Sementara Kabil mempersembahkan hasil pertanian yang buruk dengan niat tidak ikhlas, sekadar menggugurkan kewajiban. Allah kemudian menegaskan dalam ayat yang sama:

إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

“Allah tidak melihat besar kecilnya hewan kurban. Allah melihat hati, niat, dan ketakwaan. Kurban terbaik lahir dari jiwa terbaik,” tegas penceramah yang juga seorang pendidik tersebut.

Lima Pesan Mendalam Setelah Berkurban

Menurut Ustadz Somantri, setelah berkurban, seorang Muslim tidak boleh kembali ke sifat lama. Ada lima hal yang harus dijaga:

  1. Menjaga Spirit Keikhlasan
    Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Artinya: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
“Setelah berkurban, pertanyaannya bukanlah ‘Berapa hewan yang disembelih?’ melainkan ‘Sudahkah ego kita ikut disembelih?’. Kurban mengajarkan menyembelih kesombongan, memotong sifat tamak, dan mengikis cinta dunia yang berlebihan,” ujarnya.

  1. Meneladani Mentalitas Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
    Kisah kurban adalah pelajaran tentang iman di atas logika, taat tanpa syarat, serta cinta Allah di atas segalanya.
  2. Memperkuat Kepedulian Sosial
    Ustadz Somantri mengingatkan agar jamaah tidak berhenti berbagi hanya saat Idul Adha. “Orang yang memahami makna kurban akan ringan membantu tetangga, anak yatim, fakir miskin, dan siapa pun yang membutuhkan.”
  3. Menjadi Hamba yang Lebih Tunduk
    “Hari ini kita mampu menyembelih kambing atau sapi. Esok, Allah mungkin meminta waktu kita untuk dakwah, tenaga untuk keluarga, atau bahkan ego untuk meminta maaf,” tuturnya.
  4. Menjaga Amal Setelah Hari Raya
    Beliau menyitir sabda Rasulullah ﷺ:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
Artinya: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Muslim)

Kurban Bukan Prestise, Kurban adalah Ketakwaan

Dalam tausiyahnya, Ustadz Somantri juga menyinggung fenomena sosial tentang kurban para pejabat dan presiden. “Boleh jadi para presiden di Indonesia juga biasa melaksanakan ibadah kurban. Presiden Prabowo Subianto, misalnya, pada Idul Adha menyerahkan sapi kurban berukuran besar ke berbagai daerah. Kita tidak tahu persis sumber dananya, apakah uang pribadi atau APBN. Namun yang jelas, di hadapan Allah, kurban presiden, kurban pejabat, maupun kurban rakyat biasa nilainya tidak ditentukan oleh jabatan atau besarnya hewan, tetapi oleh keikhlasan dan ketakwaan,” jelasnya.

“Kurban itu rezeki dari Allah. Sumbernya jelas agar jelas pula pahalanya di hari kemudian. Jangan sampai kurban menjadi prestise, karena kurban adalah ketakwaan,” tambahnya.

Ketundukan, Kepasrahan, dan Ketakwaan

Menutup pengajian, Ustadz Drs. Somantri Perbangkara, M.Pd. mengajak jamaah merenungkan tiga mata rantai spiritual: ketundukan, kepasrahan, dan ketakwaan. Ketundukan berarti menerima perintah Allah meski akal belum memahami hikmahnya. Kepasrahan adalah berikhtiar maksimal lalu menyerahkan hasil kepada Allah, sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: “Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Ketakwaan adalah puncaknya, yaitu takut melanggar perintah Allah, menjaga hati dan perilaku, serta menghadirkan Allah dalam setiap keputusan hidup.

“Jangan sampai yang berubah hanya status ‘sudah berkurban’, tetapi hati tetap keras, ibadah tetap malas, dan kepedulian tetap tipis. Hakikat kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan menyembelih sifat kebinatangan dalam diri manusia,” pesannya.

Pengajian ditutup dengan doa bersama, dan seruan penuh semangat dari sang penceramah:

نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya: “Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman.”

Jamaah pun meninggalkan masjid dengan cahaya subuh yang semakin terang, membawa pulang bukan hanya ilmu, tetapi tekad untuk menjadikan setiap helai daging kurban sebagai saksi perubahan hati menuju ketakwaan sejati. Aamiin!

Reporter: Tim Media
Masjid Umar bin Khattab – SMKM/Prodi Farmasi UMADA

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *