Tiga Golongan Manusia Disorot dalam Khutbah Jumat di Masjid Raya UMC

Cirebon, 29 Mei 2026 — Suasana khidmat menyelimuti Masjid Raya Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) pada pelaksanaan salat Jumat, 29 Mei 2026. Bertindak selaku imam sekaligus khatib, Ustadz M. Arif Syarif H, M.Pd., menyampaikan khutbah dengan tema menggugah tentang hikmah syukur, ketakwaan, dan pembagian manusia ke dalam tiga golongan berdasarkan kesiapan mereka dalam menyambut bulan-bulan mulia.

Tampak hadir dalam salat Jumat ini Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMC, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM., ASEAN.Eng., beserta anggota BPH lainnya. Selain itu, Rektor UMC, Arif Nurudin, M.T., para wakil rektor, jajaran struktural, dosen, serta tenaga kependidikan UMC turut memenuhi saf salat.

Pembukaan: Syukur dan Shalawat

Mengawali khutbahnya, Ustadz M. Arif Syarif H, M.Pd., mengajak seluruh jamaah untuk memanjatkan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)

Khatib mengingatkan bahwa nikmat Allah tidak mungkin dihitung satu per satu. Setiap helaan napas, kesehatan, dan kesempatan beribadah adalah karunia yang wajib disyukuri. Lalu beliau menekankan firman Allah yang menggetarkan hati:

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman: 13)

Beliau juga melimpahkan shalawat dan salam kepada Nabi besar Muhammad ﷺ, beserta para sahabat, keluarga, dan pengikutnya hingga akhir zaman.

Wasiat Takwa: Kemuliaan Sejati

Khatib mewasiatkan kepada seluruh jamaah untuk terus meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah. Takwa adalah satu-satunya ukuran kemuliaan seorang hamba di sisi-Nya.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Beliau menyebutkan hikmah ibadah kurban yang akan segera memasuki bulan Dzulhijjah. Ketakwaan itulah yang membuat amal ibadah seseorang diterima, bukan sekadar daging dan darah hewan kurban.

Tiga Golongan Manusia

Dalam khutbah intinya, Ustadz M. Arif Syarif H, M.Pd., menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan:

1. Manusia yang Beruntung

Golongan pertama adalah mereka yang bisa menjalankan dan melewati segala bentuk peribadatan dengan penuh keberkahan. Ciri-ciri mereka adalah sejak awal bulan Dzulhijjah sudah mempersiapkan diri dengan ibadah sunah, puasa, perbanyak zikir, dan niat kuat untuk berkurban atau menyaksikan kebaikan.

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ – فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Sesungguhnya Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”
(QS. Al-Kautsar: 1-2)

Khatib menjelaskan bahwa kata wanhar (berkurbanlah) dalam surat ini juga bermakna ikhlas dan menghadapkan seluruh ibadah hanya kepada Allah. Orang beruntung adalah yang shalat, beramal, dan berkurban semata-mata mengharap ridho Allah, bukan pujian manusia.

2. Manusia yang Merugi

Golongan kedua adalah mereka yang melewati masa demi masa seperti biasa saja, tanpa peningkatan kualitas ibadah. Mereka tidak bisa memaksimalkan usia dan kesempatan emas di hari-hari mulia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.”
(HR. Bukhari)

Orang yang merugi adalah yang diberi umur panjang tetapi tidak diisi dengan ketaatan, diberi kesehatan tetapi tidak digunakan untuk beribadah secara maksimal.

3. Manusia yang Celaka

Golongan ketiga adalah manusia celaka. Hidup mereka diwarnai oleh hal-hal yang tidak diridhoi Allah, seperti maksiat, dosa besar, meninggalkan kewajiban, bahkan syirik. Mereka justru menjauhi perintah Allah dan mendekati larangan-Nya.

Allah berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.”
(QS. Thaha: 124)

Khatib mengingatkan bahwa kehidupan yang sempit tidak selalu berarti miskin harta, tetapi bisa berupa hati yang gelisah, dada yang sesak, dan ketidakberkahan waktu.

Pesan Penutup

Menutup khutbahnya, Ustadz M. Arif Syarif H, M.Pd., mengajak seluruh jamaah untuk memilih menjadi golongan beruntung. Segera perbaiki diri, perbanyak amal saleh, dan sambut bulan Dzulhijjah dengan persiapan terbaik.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”
(QS. Ali ‘Imran: 133)

Salat Jumat ditutup dengan doa khusyuk yang dipimpin oleh khatib. Ketua BPH dan Rektor UMC tampak serius menyimak setiap pesan, mencerminkan komitmen pimpinan kampus dalam membangun budaya religius di lingkungan Universitas Muhammadiyah Cirebon.


Redaktur: Tim Humas dan Media Masjid Raya UMC

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *