Khidmat dan Penuh Makna, Salat Jumat di Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon

CIREBON, 31 Juli 2026 — Suasana khusyuk dan khidmat menyelimuti Masjid Santun Muhammadiyah Kota Cirebon pada pelaksanaan Salat Jumat, 31 Juli 2026. Jamaah yang hadir tampak antusias mengikuti rangkaian ibadah dari awal hingga akhir. Bertindak sebagai imam sekaligus khatib adalah Ustadz Sunarya, S.Pd.I., M.M., yang menyampaikan khutbah dengan tema mengajak jamaah untuk merenungi dan mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan serta mengupas tuntas kriteria menjadi seorang muslim yang baik.

Ajakan Mensyukuri Nikmat dan Merenungi Hakikat Keimanan

Dalam khutbah pertamanya, Ustadz Sunarya mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang tak terhitung jumlahnya. Beliau mengingatkan bahwa di antara manusia ada yang perkataannya mengagumkan, namun hatinya penuh pertentangan. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 204:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُعْجِبُكَ قَوْلُهُ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللَّهَ عَلَىٰ مَا فِي قَلْبِهِ وَهُوَ أَلَدُّ الْخِصَامِ

Artinya: “Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penantang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah: 204)

Khatib menegaskan bahwa seorang muslim sejati tidak hanya baik di lisan, tetapi juga harus selaras hati dan perbuatannya.

Dua Kriteria Menjadi Muslim yang Baik

Memasuki inti khutbah, Ustadz Sunarya memaparkan dua kriteria utama menjadi muslim yang baik berdasarkan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

1. Menjadi Muslim yang Bermanfaat, Bagai Lebah

Ustadz Sunarya mengumpamakan seorang muslim yang baik seperti seekor lebah. Apa yang dimakan dan dikeluarkan adalah hal-hal yang baik, dan ia tidak akan merusak tempat yang dihinggapinya. Beliau mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِرْ وَلَمْ تُفْسِدْ

Artinya: “Sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah, ia memakan yang baik, mengeluarkan yang baik, dan ketika hinggap (di suatu tempat) ia tidak mematahkan dan tidak merusak.” (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi)

Lebah hanya memakan sari-sari yang baik dan menghasilkan madu yang menyembuhkan. Kehadirannya tidak merusak, bahkan memberi manfaat bagi lingkungan. Begitulah seharusnya seorang muslim, di mana pun berada, ia harus menjadi sumber kebaikan dan tidak membuat kerusakan .

2. Menyelamatkan Orang Lain dari Gangguan Lisan dan Tangan

Kriteria kedua adalah seorang muslim yang baik adalah mereka yang membuat muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya: “Seorang muslim (yang sempurna) adalah seseorang yang kaum muslimin (yang lain) selamat dari (keburukan) lidah dan tangannya.” (HR. Bukhari)

Beliau menjelaskan bahwa seorang muslim yang baik harus mampu menjaga lisannya dari perkataan buruk, ghibah, fitnah, serta menjaga tangannya dari perbuatan yang menyakiti atau merugikan orang lain.

Penutup Khutbah yang Menyentuh Hati

Di akhir khutbah, Ustadz Sunarya mengingatkan bahwa menjadi muslim yang baik adalah cerminan dari rasa syukur atas nikmat Allah. Beliau berdoa semoga seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang bermanfaat dan selalu menjaga lisan serta perbuatan. Pelaksanaan salat Jumat kali ini pun berlangsung dengan tertib dan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh jamaah yang hadir .

Peliput : Dakum, S.Pd., dan Tim Media Masjid Santun Muhammadiyah Cirebon

Editor : Arofah Firdaus

Komentar (Tanggapan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *