Muhammadiyah Kota Cirebon

—

Informasi layanan publik, kabar, tuntunan, dan wawasan Islam Berkemajuan

Perkuat Ideologi Kader, PK IMM Esperanza UIN SSC Gelar Diskusi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan

·

Editor:

|

⏱

3 menit

|

📋

Dibaca: 0 x

PIMPINAN Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Esperanza UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC) sukses menggelar kegiatan Diskusi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang dikemas dalam rangkaian Pra-Darul Arqom Dasar (DAD) 2026. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026 ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman aqidah serta ideologi gerakan kader persyarikatan di lingkungan kampus siber.

Diskusi tersebut dipandu oleh IMMawan Ahmad Nur Fauzi selaku Ketua Umum PK IMM Esperanza UIN SSC yang bertindak sebagai moderator. Sementara itu, pemateri utama menghadirkan IMMawan Irfan Hasanudin, Sekretaris MPKSDI Kota Cirebon yang juga merupakan Peserta Terbaik Pelatihan Instruktur Wilayah (PIW) Muhammadiyah Jawa Barat tahun 2024.

Mengokohkan Fondasi Tauhidullah

Dalam sesi penyampaian materi pertama mengenai Tauhidullah, IMMawan Irfan Hasanudin menegaskan pentingnya pemurnian tauhid sebagai fondasi utama aqidah, syariat, dan akhlak seorang muslim. Secara bahasa, tauhid berasal dari kata wahhada–yuwahhidu–tauhidan yang berarti mengesakan. Secara istilah, tauhid merupakan keyakinan bulat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah tanpa sekutu dalam sifat, zat, maupun perbuatan-Nya.

“Tauhid memuat dua elemen utama dalam kalimat Laa Ilaha illa Allah, yaitu Al-Nafyu (peniadaan seluruh sesembahan selain Allah) dan Al-Isbat (penetapan bahwa hanya Allah sesembahan yang haq),” terang Irfan di hadapan para peserta.

Ia juga menguraikan syarat-syarat diterimanya kalimat tauhid, di antaranya al-‘Ilm (pemahaman), al-Yaqin (keyakinan), al-Qabul (penerimaan), al-Inqiyad (kepatuhan), al-Ikhlas (keikhlasan), Ash-Shidqu (kejujuran), serta Mahabbah (rasa cinta). Selain itu, ia menjelaskan pembagian tauhid menjadi tiga aspek, yaitu Tauhid Rububiyyah, Tauhid Asma’ wa Sifat, dan Tauhid Uluhiyyah.

Pentingnya pemurnian tauhid ini sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ikhlas ayat 1–4:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ. اَللّٰهُ الصَّمَدُ. لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ. وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

“Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’”

Ayat ini menegaskan kemurnian tauhid sebagai inti ajaran Islam, sebagaimana yang terus diperjuangkan Muhammadiyah dalam memurnikan aqidah umat.

Meneguhkan Identitas Kemuhammadiyahan dan Gerakan Kader

Memasuki sesi Materi Dasar (MaDas) Kemuhammadiyahan, diskusi berfokus pada sejarah, cita-cita, serta identitas persyarikatan yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 8 Dzulhijjah 1330 H (18 November 1912 M) di Kauman, Yogyakarta. Irfan memaparkan faktor internal dan eksternal lahirnya Muhammadiyah, seperti pemurnian ajaran Islam dari syirik, bid’ah, dan khurafat, pembaruan sistem pendidikan, hingga respons terhadap gerakan misi (zending).

Muhammadiyah ditegaskan memiliki tiga identitas utama, yaitu sebagai Gerakan Islam, Gerakan Dakwah (amar ma’ruf nahi munkar), dan Gerakan Tajdid (pembaruan). Landasan ini menjadi modal utama dalam mendukung 8 Program Prioritas Muhammadiyah Periode 2022–2027 menuju cita-cita “Muhammadiyah Unggul Berkemajuan”. Diskusi ini turut mengulas peran strategis tujuh Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah sebagai wadah kaderisasi lintas generasi dan profesi.

Semangat dakwah dan pembaruan yang menjadi identitas Muhammadiyah berlandaskan pada perintah Allah dalam Surah Ali ‘Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Ayat ini menjadi landasan gerakan dakwah Muhammadiyah yang senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran di tengah masyarakat.

Hal senada juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya; jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.”

Hadis ini menjadi pengingat bagi para kader Muhammadiyah agar senantiasa berperan aktif dalam melakukan pembaruan dan perbaikan di tengah masyarakat, sesuai dengan semangat amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi identitas persyarikatan.

Dorongan untuk Kader Muda

Sebagai penutup, diskusi dipandu moderator IMMawan Ahmad Nur Fauzi dengan sesi tanya jawab yang interaktif. Diskusi ini diharapkan dapat memacu para kader muda di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon agar tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memegang teguh risalah Islam Berkemajuan demi kemaslahatan umat dan bangsa. (*)

Peliput : Irfan Hasan




Kirim Tanggapan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses