Muhammadiyah Kota Cirebon

—

Informasi layanan publik, kabar, tuntunan, dan wawasan Islam Berkemajuan

MPM PP Muhammadiyah Gelar Konsolidasi Nasional, Evaluasi Program Pemberdayaan Akar Rumput

·

Editor:

|

⏱

4 menit

|

📋

Dibaca: 0 x

Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah menggelar Konsolidasi Nasional 2026 di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Cik Ditiro Nomor 23, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (31/1). Forum ini menjadi ajang monitoring dan evaluasi capaian program serta kegiatan MPM di lingkungan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Indonesia.

Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief, dalam amanahnya mengapresiasi kiprah program pemberdayaan yang dijalankan MPM. Menurut kalkulasi PP Muhammadiyah, MPM menjadi majelis dengan eksposur paling banyak bersama Majelis Dakwah dan Pengembangan Masyarakat (MDMC) serta Lazismu.

“Saya memimpikan dan mengharapkan bahwa MPM itu betul-betul menjadi sarana edukasi. Ya, edukasi bagaimana kalau kita bicara Islam Berkemajuan,” katanya.

Hilman juga mendorong MPM melangkah ke tahap berikutnya, yakni mengukur dampak program melalui perhitungan social return on investment dan kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Hal itu dapat ditempuh dengan melibatkan generasi muda atau Gen Z agar kerja lapangan didukung kerja cerdas berbasis teknologi. Menurutnya, dengan dokumen yang jelas, MPM berpeluang mendapat pengakuan dari lembaga nasional maupun internasional.

“Kalau disiapkan betul, sebelum atau pada Muktamar nanti, kita bisa mengajukan MPM kepada lembaga-lembaga nasional maupun internasional, pemerintah maupun sektor swasta, untuk mendapatkan pengakuan. Saya ingin eksposurnya kita tingkatkan, dan insya Allah saya bantu,” katanya.

Ketua MPM PP Muhammadiyah, Nurul Yamin, menjelaskan bahwa forum ini tidak sekadar menjadi ruang monitoring, refleksi, dan evaluasi capaian program. Lebih dari itu, konsolidasi nasional ini menjadi wadah untuk memetakan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat, mengidentifikasi capaian, serta merumuskan langkah strategis bagi pengembangan program pada masa selanjutnya.

“Dari aktivitas organisasi ini sekaligus juga akan dijadikan langkah-langkah strategis pada fase-fase berikutnya,” ungkap Yamin.

Peta Pemberdayaan MPM: Program Nasional dan Program Unggulan

Program Nasional dirancang untuk menjawab persoalan keumatan secara serentak dari tingkat pusat hingga cabang. Program Nasional ini mencakup empat pilar utama, yaitu kelembagaan organisasi, pengembangan sumber daya manusia melalui Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat, petani dan pertanian yang berfokus pada penguatan Jemaah Tani Muhammadiyah (Jatam), serta Masyarakat Nelayan dan Pesisir melalui Jamaah Nelayan Muhammadiyah (Jalamu).

Sementara itu, program unggulan dirancang berbasis komunitas untuk mengangkat potensi lokal, khususnya di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar), masyarakat miskin kota, buruh, serta kelompok difabel. Selain itu, MPM juga telah memperluas jangkauannya dan masuk ke dalam sektor buruh migran. Saat ini MPM memiliki komunitas dampingan bernama Sahabat Migran Berkemajuan (Saranmu) yang telah merangkul 5.362 orang, mayoritas berada di Malaysia.

“Pendampingan dilakukan secara komprehensif dari hulu hingga hilir, tidak hanya menyentuh persoalan hukum tetapi juga spiritual keagamaan melalui forum Jendela Migran,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sekretaris MPM PP Muhammadiyah, Budi Nugroho, menyampaikan bahwa MPM terus berupaya mengakselerasi pelaksanaan program prioritas yang menjadi amanat Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Solo. Dalam hal ini, MPM akan terus berkomitmen memperluas basis umat di akar rumput melalui berbagai gerakan dan dakwah jamaah, baik secara kultural maupun komunitas.

“Arah gerak inilah yang sejalan dengan visi pengembangan MPM periode 2022–2027 sebagaimana tertuang dalam Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-48, yaitu ‘Terwujudnya Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat yang Berkemajuan untuk Mewujudkan Kesejahteraan Buruh, Tani, Nelayan, dan Kelompok Dhuafa-Mustadh’afin Sebagai Perwujudan Islam Rahmatan Lil Alamin,’” paparnya.

Landasan Keislaman Pemberdayaan

Semangat pemberdayaan masyarakat yang diusung MPM sejalan dengan tuntunan Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”

Ayat ini menegaskan pentingnya kolaborasi dalam kebaikan, yang menjadi landasan bagi kerja-kerja pemberdayaan MPM di tengah masyarakat.

Hal senada juga ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa melepaskan kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan melepaskan darinya kesusahan-kesusahan pada hari kiamat.”

Hadis ini menjadi pengingat bahwa setiap upaya meringankan beban sesama, sebagaimana dijalankan MPM melalui program pemberdayaan, memiliki nilai ibadah dan balasan di sisi Allah.

Sebagai informasi tambahan, dalam Konsolidasi Nasional 2026 ini MPM PP Muhammadiyah sekaligus meluncurkan logo dan theme song untuk Jambore Nasional Jamaah Tani Muhammadiyah (Jambore Jatam) Ke-2 yang akan digelar pada Juli 2027 mendatang di Provinsi Lampung. (*)

Peliput : Adam, Media Afiliasi Mu.




Kirim Tanggapan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses